Google+
Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 15:21 WIB | Jumat, 10 Januari 2020

Investigasi: Pembunuhan Soleimani Dibantu Informan Irak dan Suriah

Jenderal Qassem Soleimani, komandan pasukan elite Quds, Garda Revolusi Iran yang terbunuh dalam serangan udara oleh Amerika Serikat pada Jumat (3/1). (Foto: ist)

BAGHDAD, SATUHARAPAN.COM-Jenderal Iran, Qassem Soleimani, tiba di bandara Damaskus dengan kendaraan dengan kaca berwarna gelap. Empat tentara dari Garda Revolusi Iran bersamanya. Kendaraan mereka parkir di dekat tangga yang mengarah ke pesawat penumpang Airbus A320 milik Chang Wing Airline, yang dijadwalken terbang ke Baghdad.

Soleimani dan para prajurit tidak terdaftar pada manifesto penumpang, menurut seorang karyawan maskapai Cham Wings yang menggambarkan tempat keberangkatan mereka dari ibukota Suriah kepada Reuters. Soleimani menghindari penggunaan pesawat pribadinya, karena meningkatnya kekhawatiran tentang keamanannya sendiri, kata sumber keamanan Irak yang memiliki informasi tentang pengaturan keamanan Soleimani.

Penerbangan penumpang itu menjadi yang terakhir bagi Soleimani. Roket yang ditembakkan dari pesawat tak berawak milik Amerika Serikat membunuhnya ketika ia meninggalkan bandara Baghdad dalam konvoi dua kendaraan lapis baja. Yang terbunuh bersamanya adalah orang yang menemuinya di bandara: Abu Mahdi al-Muhandis, wakil kepala milisi Unit Mobilisasi Populer (PMU) Irak.

Investigasi oleh Irak terhadap serangan yang menewaskan kedua pria itu pada Jumat (3/1) dimulai beberapa menit setelah serangan AS, kata dua pejabat keamanan Irak kepada Reuters. Agen Keamanan Nasional menutup bandara dan mencegah puluhan staf keamanan untuk pergi, termasuk polisi, petugas paspor dan agen intelijen.

Penyelidik berfokus pada bagaimana informan yang dicurigai di dalam bandara Damaskus dan Baghdad berkolaborasi dengan militer AS. Mereka diduga membantu melacak dan menentukan posisi Soleimani, menurut wawancara Reuters dengan dua pejabat keamanan yang memiliki pengetahuan langsung tentang penyelidikan Irak. Mereka adalah dua pegawai bandara Baghdad, dua pejabat polisi dan dua karyawan Cham Wings Airlines dari Suriah, sebuah maskapai penerbangan komersial swasta yang berkantor pusat di Damaskus.

Penyelidikan dipimpin oleh Falih al-Fayadh, yang bertindak sebagai Penasihat Keamanan Nasional Irak dan kepala PMF, badan yang berkoordinasi dengan milisi Syiah Irak. Badan ini banyak didukung oleh Iran dan memiliki hubungan dekat dengan Soleimani .

Para penyelidik Badan Keamanan Nasional memiliki "indikasi kuat bahwa jaringan mata-mata di dalam Bandara Baghdad terlibat dalam membocorkan rincian keamanan sensitif" pada kedatangan Soleimani ke pihak Amerika Serikat, kata salah satu pejabat keamanan Irak kepada Reuters.

Para tersangka termasuk dua staf keamanan di bandara Baghdad dan dua karyawan Cham Wings. "Seorang mata-mata di bandara Damaskus dan satu lagi bekerja di dalam pesawat," kata sumber itu. Para penyelidik Badan Keamanan Nasional yakin keempat tersangka, yang belum ditangkap, bekerja sebagai bagian dari kelompok yang lebih luas yang memberi informasi kepada militer AS, kata pejabat itu.

Cham Wing Airline

Dua karyawan Cham Wings Airkine sedang diselidiki oleh intelijen Suriah, kata dua pejabat keamanan Irak. Direktorat Intelijen Umum Suriah tidak menanggapi permintaan komentar. Di Baghdad, agen Keamanan Nasional sedang menyelidiki dua karyawan keamanan bandar udara, yang merupakan bagian dari Layanan Perlindungan Fasilitas negara itu, kata salah satu pejabat keamanan Irak.

"Temuan awal tim investigasi Baghdad menunjukkan bahwa tip pertama pada Soleimani berasal dari bandara Damaskus," kata pejabat itu. "Pekerjaan sel bandara Baghdad adalah mengkonfirmasi kedatangan target dan detail konvoinya."

Kantor media agen Keamanan Nasional Irak tidak menanggapi permintaan komentar. Misi Irak untuk PBB di New York juga tidak menanggapi permintaan komentar.

Departemen Pertahanan AS menolak mengomentari apakah informan di Irak dan Suriah berperan dalam serangan itu. Para pejabat AS, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan kepada Reuters bahwa Amerika Serikat telah dengan cermat melacak pergerakan Soleimani selama berhari-hari sebelum serangan itu, tetapi menolak mengatakan bagaimana militer menunjukkan lokasinya pada malam serangan itu.

Seorang manajer Cham Wings di Damaskus mengatakan karyawan perusahaan penerbangan dilarang mengomentari serangan atau penyelidikan itu. Seorang juru bicara Otoritas Penerbangan Sipil Irak, yang mengoperasikan bandar udara negara itu, menolak mengomentari penyelidikan, tetapi menyebutnya rutin setelah "insiden seperti itu yang melibatkan pejabat tinggi."

Pesawat yang ditumpangi Soleimani mendarat di bandara Baghdad sekitar pukul 12:30 pagi pada Jumat, 3 Januari, menurut dua pejabat bandara, mengutip rekaman dari kamera keamanannya. Jenderal dan pengawalnya keluar dari pesawat di tangga langsung ke landasan, melewati bea cukai. Muhandis menemuinya di luar pesawat, dan kedua pria itu masuk ke kendaraan lapis baja yang sudah menunggu. Para prajurit yang menjaga jenderal masuk ke dalam kendaraan SUV lapis baja lain, kata pejabat bandara.

Petugas keamanan bandara melihat, dua kendaraan menuju ke jalan utama yang mengarah keluar dari bandara, kata para pejabat. Dua roket AS pertama menghantam kendaraan yang membawa Soleimani dan Muhandis pada pukul 12.55 pagi. SUV yang membawa petugas keamanannya tertembak beberapa detik kemudian.

Sejuta Pertanyaan

Sebagai komandan Al-Quds, pasukan elite Garda Revolusi, Soleimani menjalankan operasi klandestin di negara-negara asing dan merupakan tokoh kunci dalam upaya Iran untuk mengusir pasukan AS keluar dari Irak. Dia menghabiskan bertahun-tahun menjalankan operasi rahasia dan membina para pemimpin milisi di Irak untuk memperluas pengaruh Iran dan melawan kepentingan Amerika Serikat. Reuters melaporkan pada hari Sabtu bahwa, mulai bulan Oktober, Soleimani secara diam-diam telah meluncurkan serangan lanjutan terhadap pasukan AS yang ditempatkan di Irak dan melengkapi milisi Irak dengan persenjataan canggih untuk melaksanakannya.

Serangan terhadap jenderal itu memicu kemarahan yang luas dan Iran bersumpah untuk membalas, yang menanggapinya pada hari Rabu dengan serangan rudal terhadap dua pangkalan militer Irak yang menampung pasukan AS. Tidak ada orang Amerika atau Irak yang terbunuh atau terluka dalam serangan itu.

Beberapa jam setelah serangan itu, para penyelidik meneliti semua panggilan telefon masuk dan pesan teks oleh staf bandara yang tugas shift malam untuk mencari siapa yang mungkin telah memberi tahu Amerika Serikat tentang gerakan Soleimani, kata pejabat keamanan Irak. Agen Keamanan Nasional melakukan interogasi selama berjam-jam terhadap karyawan keamanan bandara dan staf Cham Wings, kata sumber tersebut. Seorang petugas keamanan mengatakan agen menanyai dia selama 24 jam sebelum membebaskannya.

Selama berjam-jam, mereka memberitahunya tentang siapa yang dia ajak bicara atau kirim pesan teks sebelum pesawat Soleimani mendarat, termasuk segala "permintaan aneh" terkait penerbangan Damaskus, dan menyita ponselnya. "Mereka menanyakan sejuta pertanyaan," katanya.

Editor : Sabar Subekti

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home