Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Tjhia Yen Nie 09:36 WIB | Minggu, 07 Oktober 2018

Juri Lomba Lukis

Kejujuran adalah suara hati nurani.
Sang Pemenang (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – ”Nah, kan sudah dibilang kalau anak ini enggak bisa melukis, kamu yang maksa kasih les bertahun-tahun!” Tiba-tiba kuping saya melebar mendengar percakapan orang tua di sebelah saya dengan anaknya yang kecewa mendengar namanya tidak disebut sebagai juara lomba lukis yang diadakan di sebuah mal.

Kejadian itu terjadi beberapa tahun lalu.  Anak saya yang saat itu juga mengikuti lomba tersebut, terdiam sejenak memperhatikan pengumuman pembacaan pemenang. Dan begitu namanya tidak disebut, dia minta segera pulang.  Namun, kami tidak mempermasalahkannya dan segera mengajaknya jalan-jalan.

Hal inilah yang terlintas dalam benak saya ketika tiba-tiba saya diundang untuk menjadi juri dalam perlombaan lukis.  Saya—yang menyadari kemampuan saya dalam bidang melukis—tentu saja menolaknya walaupun teman saya yang mengajak begitu memperjuangkan saya untuk mau ambil bagian dalam seleksi ini. ”Demi klub kita…” pintanya, ”nanti dijelaskan…kamu bisa pelajari dulu kriterianya.”

Mengingat kegigihannya, terlintas dalam benak saya, jangan-jangan lomba lukis yang anak saya ikuti sekian tahun silam diseleksi oleh juri-juri dengan kemampuan seperti saya?  Saya jadi teringat tampang anak yang kecewa itu.

Saya mengatakan bahwa seorang penilai lomba musik seharusnya menguasai notasi musik.  Tentu hal yang sama juga berlaku untuk lomba lukis.  Dengan rasa menyesal, saya pun harus mengecewakan teman saya.

Sejujurnya hidup ini adalah pilihan.  Terkadang pilihan itu pun bagai buah simalakama. Namun, kejujuran adalah suara hati nurani.

Saya rasa demikian juga dalam pemilihan pemimpin Indonesia, pemilu yang semakin mendekat, membuat kita juga harus membuat pilihan siapa yang paling pantas memimpin bangsa ini.  Sama seperti seorang juri lomba lukis harus mengerti tentang apa itu lukisan, terlebih lagi ini pemimpin yang mengambil keputusan untuk sebuah negara, yang menyangkut hidup lebih dari 250 juta jiwa.

Bukan karena perasaan takut mengecewakan teman, bukan karena perasaan satu kelompok, tetapi karena kejujuran dalam hati nurani, siapakah yang kompeten dalam bidangnya.  Dialah yang pantas.

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home