Google+
Loading...
MEDIA
Penulis: Ignatius Dwiana 08:43 WIB | Senin, 29 Oktober 2018

Jurnalis Harus Menulis dengan Nurani

'Jurnalis Bukan Juru Ketik', panduan meliput isu keberagaman (Foto: Ignatius Dwiana)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Jurnalis berperan besar dalam pemberitaan. Karena pemberitaannya berdampak besar kepada suatu komunitas masyarakat. Hal ini dibahas dalam peluncuran buku panduan meliput isu keberagaman "Jurnalis Bukan Juru Ketik" pekan lalu di Jakarta.

Agnes dari Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI) Yogyakarta menyebutkan buku "Jurnalis Bukan Juru Ketik" selain itu juga merupakan refleksi para jurnalis seusai menuliskan beritanya.

“Pengalaman jurnalis tidak sekadar menuliskan beritanya dan kemudian selesai. Tetapi ada proses refleksi juga yang dilakukan. Merefleksikan tentang dampak dari pemberitaannya. Karena itu kami mengajak teman-teman jurnalis menggunakan nurani dalam menuliskan pemberitaan,” katanya.

Pemberitaan dengan bersumber pada informasi yang terbatas maupun memilih narasumber yang tidak kompeten dapat berakibat fatal karena suatu komunitas masyarakat dapat menjadi korban pemberitaan. Hal ini ditemukan dalam pemberitaan terkait intoleransi dan keberagaman.

Bambang Muryanto dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta menambahkan, ada kendala pemberitaan. Baik itu datang dari reporter maupun redaktur, “Ada persoalan perspektif di kalangan kawan-kawan jurnalis. Terutama di reporter. Karena kemudian banyak yang melihat persoalan intoleransi itu adalah persoalan yang tidak perlu ditulis. Karena mereka berpikir itu persoalan tidak perlu diberitakan karena nanti akan berbahaya. Kemudian ada persoalan di tingkatan redaktur. Karena kemudian ada kawan-kawan yang mencoba untuk menulis itu. Tetapi kemudian redakturnya tidak pernah menerbitkan beritanya.”

Dia menilai pentingnya jurnalis bersikap kritis terhadap pendapat narasumber. “Jurnalis tidak boleh hanya mengetik apa yang dikatakan narasumbernya tanpa sikap kritis sama sekali. Tanpa kemudian memberikan konteks. Misalnya ketika otoritas yang berkuasa menyatakan suatu komunitas sebagai aliran sesat. Jurnalis harus berpikir kritis siapa yang berhak memberikan label sesat atau bukan? Karena itu adalah persoalan yang sangat subjektif.”

Sementara Direktur Serikat Jurnalis Untuk Keberagaman (Sejuk) Ahmad Junaidi menanggapi bahwa tema liputan keberagaman umumnya terkait konflik. Hal ini berentet dengan menjadikan penegak hukum sebagai narasumber dalam liputan. Sementara liputan keberagaman yang fokus pada kerja sama antaragama masih kecil sekali porsi pemberitaannya.

Ahmad Junaidi memandang isu keberagaman tidak saja terbatas pada agama dan kerohanian, tetapi bisa juga terkait soal perempuan, gender, dan identitas lainnya.

”Jurnalis Bukan Juru Ketik” merupakan hasil kerja sama ANBTI Yogyakarta dan AJI Yogyakarta. Buku ini dilengkapi pula pengetahuan tentang pelbagai aliran atau denominasi di dalam agama-agama yang tumbuh dan berkembang di Indonesia.

Editor : Sotyati

Back to Home