Google+
Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Sotyati 16:28 WIB | Jumat, 30 Agustus 2019

Keledang, Buah Eksotis Kalimantan

Keledang (Artocarpus lanceifolius). (Foto: idntimes.com)

SATUHARAPAN.COM –  Perhatian sedang tertuju ke Kalimantan saat ini, seiring Presiden Joko Widodo mengumumkan kepastian pemindahan ibu kota atau pusat pemerintahan dari Jakarta ke Pulau Kalimantan. Pada 26 Agustus 2019, Presiden mengumumkan ibu kota baru akan dibangun di wilayah administratif Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Bukan hanya dikenal paling minim dari risiko kebencanaan, Kalimantan juga dikenal sebagai gudang keanekaragaman hayati, terlepas dari laju deforestasi yang tinggi. Menelusuri berbagai sumber, Kalimantan menyimpan buah-buah eksotis, yang sudah tidak lagi mudah dijumpai bahkan di pasar-pasar di perkampungan dekat hutan, apalagi toko buah di kota besar.

Mengutip dari beritaunik.net, ada 25 buah langka dari Kalimantan, yang menarik disimak. Bulan November sampai Maret, disebut sebagai bulan yang cocok untuk berburu buah hutan terutama di Kalimantan Timur, di antaranya keledang, wanyi, rambai, kapul, tarap, bemotong, marita, dan asam putar.

Buah keledang mengingatkan pada buah nangka dan cempedak. Rasanya manis. Sensasi rasanya merupakan campuran antara nangka dan manggis. Daging buahnya terpisah dari bijinya, seperti nangka. Warna kulit buahnya jingga kemerahan dan bentuk buahnya seperti cempedak. Buah keledang termasuk salah satu buah-buahan eksotis hutan Kalimantan yang tumbuh merata di seluruh daratan pulau.

Keledang memang termasuk suku Moraceae atau nangka-nangkaan, yang berkerabat dengan nangka, kluwih, sukun, cempedak, mentawa, pintau, selanking, dan benda.

Selain dikenal dari buahnya, keledang juga dikenal sebagai salah satu penghasil kayu yang penting. Mengutip dari Wikipedia, kayunya yang berat, dengan densitas pada kadar air 15 persen antara 510 – 855 kg/m3, dimanfaatkan untuk konstruksi berat, furnitur, pembuatan perahu, perkakas rumah tangga, peti mati, dan lain-lain. Tumbuhan ini juga menghasilkan bahan pewarna.

Keledang juga merupakan sumber metabolit sekunder turunan fenol, terutama golongan flavonoid, yang kemungkinan dapat digunakan sebagai bahan obat-obatan karena bersifat sitotoksik. Beberapa senyawa flavonoid terprenilasi yang baru, di antaranya jenis-jenis dari kelompok artoindonesianin, telah berhasil diisolasi dari pepagan dan kayu keledang.

Pemerian Botani Keledang

Keledang memiliki nama binomial Artocarpus lanceifolius, Roxb. Tumbuhan ini termasuk buah langka bumi Kalimantan. Keledang, mengutip dari Wikipedia, merupakan buah yang mulai terlupakan seiring dengan habisnya hutan-hutan alami.

Keledang dikenal juga dengan berbagai nama lokal, kĕledang (Melayu); simar naka (Batak); bangsal (Dayak); khanun-pa (Thailand). Useful Tropical Plant dalam tropical.theferns.info menyebutkan di Sarawak, tumbuhan ini disebut kaliput, sedangkan masyarakat Iban menyebutnya pala tupai.

Di pelbagai tempat di Borneo, berdasarkan studi G Argent dan kawan-kawan, “Manual of the Larger and More Important Non-Dipterocarp Trees of Central Kalimantan, Indonesia, Vol 2: 436, Forest Institute, Samarinda, yang dikutip Wikipedia, pohon ini dikenal dengan berbagai sebutan, seperti bangsal, binturung, bunon, kayu dadak, emputu, kakian, sedah, tempunang. Juga ada yang menyebutnya kateh, keledang, kledang, paribalek, peruput, pudu, tarap hutan, katebung, tiwadak banyu, dan lain-lain.

Pohon keledang berukuran sedang. Tinggi pohon mencapai 36 m dengan batang lurus; batang bebas cabang bisa mencapai 25 m dan gemang batang hingga 275 cm; berbanir pendek. Pepagan halus, kelabu-pucat sampai hampir hitam, bagian dalamnya cokelat kekuningan. Lateksnya berwarna putih pucat, kental.

Ranting-ranting tebalnya 6-8 mm, berambut atau gundul. Daun penumpu membungkus ujung ranting, berambut pendek, meninggalkan bekas luka bentuk cincin di ranting.

Daun-daun kaku menjangat, bentuknya bundar telur lanset hingga bundar telur jorong; gundul di kedua sisi; ujungnya membundar hingga runcing berekor, ekor hingga 12 mm; bertepi rata hingga menggelombang; pangkalnya menyempit, agak tak simetris; bertangkai 1–3 cm, gundul, beralur dangkal atau dalam di sisi atas. Daun pada anak pohon berbeda bentuk, berbagi atau bercangap. Mengutip dari situs web asiaplant.net, nama spesies lanceifolius, diambil dari bahasa Latin untuk 'daun berbentuk lanset'.

Perbungaan dalam bongkol di ketiak, yang betina soliter, yang jantan berpasangan. Bongkol jantan berbentuk gelendong atau serupa jari, halus, bertangkai. Buah semu (syncarp) cokelat zaitun hingga cokelat berangan kusam; membulat, tertutup oleh tonjolan-tonjolan serupa duri pendek yang tumpul; bertangkai 4 cm.

Biji-biji elipsoid, terbungkus ‘daging buah’ (sebetulnya perkembangan tenda bunga) berwarna keputihan atau jingga terang.

Keledang menyebar mulai dari Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatera, Bangka, Kepulauan Lingga dan Riau, dan Borneo. Ada dua anak jenisnya, yakni Artocarpus lanceifolius dan Artocapus clementis (Merr.) Jarrett. Yang disebut terakhir ini endemik di Borneo bagian timur laut, seperti dikutip Wikipedia dari studi T Djarwaningsih, DS Alonzo, S Sudo, dan MSM Sosef, “Artocarpus JR Forster & JG Forster” dalam RMHJ Lemmens, I Soerianegara, and WC Wong (eds.), “Timber Trees: minor commercial timber. Plant Resources of South-East Asia (PROSEA) 5(2): 67-68 (1995)”.

Tumbuhan ini tidak melimpah, namun cukup umum ditemukan di hutan hujan tropika dataran rendah dan perbukitan hingga ketinggian 600-1100 meter di atas permukaan air laut.

Manfaat Keledang

Keledang merupakan sumber metabolit sekunder turunan fenol, terutama golongan flavonoid, yang kemungkinan dapat digunakan sebagai bahan obat-obatan karena bersifat sitotoksik. Beberapa senyawa flavonoid terprenilasi yang baru, di antaranya jenis-jenis dari kelompok artoindonesianin, telah berhasil diisolasi dari pepagan dan kayu keledang.

Wikipedia menyebutkan beberapa peneliti yang sudah meneliti kandungan senyawa keledang. Yana M Syah, SA Achmad, EL Ghisalberti, EH Hakim, L Makmur, D Mujahidin, melakukan studi “Artoindonesianins G-I, three new isoprenylated flavones from Artocarpus lanceifolius (abstract)”, Fitoterapia 72(7):765-73 (Desember, 2001).

Pada tahun 2002, EH Hakim, Asnizar, Yurnawilis, N Aimi, M Kitajima, H Takayama, meluncurkan hasil penelitian “Artoindonesianin P, a new prenylated flavone with cytotoxic activity from Artocarpus lanceifolius (abstract)”, Fitoterapia 73(7-8):668-73 (Desember, 2002).

Pada tahun 2006, kembali Yana M Syah, Sjamsul A Achmad, Norio Aimi, Euis H Hakim, Lia D Juliawaty, dan Hiromitsu Takayama, merilis hasil studi, “Two Prenylated Flavones from the Tree Bark of Artocarpus lanceifolius”, Verlag der Zeitschrift fűr Naturforschung, Tűbingen.

Useful -Tropical Plants dalam tropical.theferns.info, menyebutkan kayu kuning keledang, kayu cukup keras dan tahan lama, adalah salah satu spesies kayu terbaik di Semenanjung Malaya. Selain dimanfaatkan untuk bahan bangunan, furnitur, perahu, sambungan dan panel interior, kayu keledang dimanfaatkan untuk membuat peti mati kualitas tinggi di kalangan masyarakat Tionghoa di Malaysia.

Kayu keledang disebutkan tahan terhadap jamur, rayap, dan penggerek kayu kering.

Editor : Sotyati

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home