Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 13:59 WIB | Selasa, 06 Maret 2018

LIPI Kembangkan Bioetanol Generasi Kedua

Ilustrasi. Hasil dari tahapan-tahapan percobaan bioetanol yang dilakukan LIPI. (Foto: lipi.go.id)

TANGERANG SELATAN, SATUHARAPAN.COM – Pencarian sumber energi baru untuk menggantikan sumber energi berbahan baku fosil terus dilakukan saat ini. Apalagi ketersediaan sumber energi berbahan baku fosil, terutama bahan bakar minyak kian hari semakin berkurang stoknya.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah melakukan penelitian dan pengembangan sumber energi tersebut. Dan, kini pengembangannya telah menjejak generasi ke-2. Bioetanol generasi ke-2 LIPI memanfaatkan limbah Tandan Kelapa Sawit (TKS) untuk menjadi bahan baku bioetanol.

“Kami telah berhasil mengembangkan bioetanol generasi ke-2 yang lebih ramah lingkungan dibanding generasi sebelumnya,” kata Agus Haryono, Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI di sela-sela kunjungan Delegasi Korea Selatan dan ASEAN ke Pusat Penelitian Kimia LIPI di Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan pada Kamis (1/3), dilansir situs resmi lipi.go.id.

 Agus mengatakan, bioetanol generasi ke-1 masih memanfaatkan bahan pangan sebagai bahan bakunya. Ini tentu kurang bagus, karena akan tumpang tindih dengan kebutuhan bahan pangan sebagai makanan. Teknologinya pun masih belum seramah lingkungan seperti generasi ke-2 ini.

Sedangkan untuk bioetanol generasi ke-2, Haznan Abimanyu, peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI, menyambung bahwa generasi ini jauh lebih efektif dan efisien dari sebelumnya. Selain itu, Haznan mengungkapkan, penggunaan TKS bisa membantu mengolah sampah, dan limbah kelapa sawit yang sebelumnya tak termanfaatkan.

“Indonesia memiliki lahan kelapa sawit yang luas. Artinya, TKS cukup melimpah dan berpotensi untuk bahan bakar generasi ke-2 secara berkesinambungan,” katanya.

Ia menambahkan, dengan murahnya bahan bakar bioetanol generasi ke-2, maka bisa diaplikasikan di masyarakat dengan harga lebih terjangkau lagi. “Bioetanol generasi ke-1 sebenarnya sudah terjangkau harganya, yakni Rp. 6.500 per liter. Sayangnya, bahan bakunya menggunakan bahan pangan,” katanya.

 Haznan mengatakan, LIPI pada dasarnya telah mengembangkan alat pembuat bioetanol generasi ke-2 ini, tapi belum sepenuhnya sempurna. “Kami masih berkoordinasi dengan Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, untuk mengembangkan mesinnya, sehingga kita tidak perlu impor lagi,” katanya.

 

Back to Home