Loading...
HAM
Penulis: Ignatius Dwiana 19:10 WIB | Rabu, 29 Januari 2014

Melanie Subono Jadi Duta Anti Perbudakan

Melanie Subono di tengah sambil membawa plakat. (Foto: Ignatius Dwiana)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Walk Free dalam laporan indeks perbudakan global (Global Slavery Index) 2013 memperkirakan 29,8 juta orang di seluruh dunia hidup di bawah perbudakan. Sementara lebih dari 21 juta orang diperbudak di Asia atau sekitar 72 persen. Hal ini disampaikan Migrant CARE dalam siaran pers ‘Akhiri Perbudakan Modern dalam Penempatan Buruh Migran dan Memperkenalkan Melanie Subono sebagai Duta Anti Perbudakan’ di Cikini Jakarta pada pada Rabu (29/1).

Mauritania, Haiti, dan Pakistan, menjadi negara dengan angka perbudakan modern tertinggi di dunia. Indonesia masuk 16 besar dalam hal besaran jumlah penduduk hidup di bawah perbudakan. Banyak warga negara Indonesia yang bekerja sebagai buruh migran di luar negeri menjadi bagian dari fakta perbudakan modern. Laporan Walk Free itu dihasilkan dari mengukur indeks perbudakan di 162 negara di dunia.

Kondisi buruh migran seperti Erwiana yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Hong Kong merupakan salah satu contoh kondisi perbudakan modern. Selama tujuh bulan bekerja dengan konsumsi makanan tidak layak,  tidur tiga jam sehari, kedua pergelangan tangan dan kaki bengkak bahkan mengeluarkan air, tubuh penuh luka pukulan benda-benda yang dilakukan majikannya. Dalam kondisi itu, majikannya justru memulangkan dengan bekal tiket China Airlines rute Hong Kong – Jakarta – Surabaya dan bekal 100 ribu Rupiah. Kasus ini meruntuhkan citra yang dibangun Pemerintah Indonesia yang menjuluki Hong Kong sebagai negara tujuan tanpa masalah.

Sejumlah kasus buruh migran lain misalnya menimpa Sehatul Alfiah, Nirmala Bonat, Ceriyati, Winfaidah, Susmiyati, Siti Tarwiyah, dan Fauziyah. Kejadian penyiksaan hingga pemerkosaan menimpa mereka.

Atas dasar kondisi itu, Migrant CARE sebagai organisasi mitra Walk Free di Indonesia menilai penting untuk mengajak masyarakat Indonesia menjadi bagian dari masyarakat global dalam mengkampanyekan penghapusan modern di Indonesia. Selain itu juga mengajak masyarakat mendukung petisi ‘Akhiri Perbudakan Modern terhadap PRT Migran di Hong Kong’.  

Dalam memobiliasasi gerakan sosial dan kampanye anti perbudakan, Migrant CARE menetapkan musisi dan aktifis Melanie Subono sebagai Duta Anti Perbudakan. Dia ditetapkan sebagai Duta Anti Perbudakan karena sepanjang perjalanannya sebagai musisi biasa membawakan syair-syair yang mengisahkan kondisi rentan perempuan Indonesia, hak asasi yang termarjinalisasi, dan eksploitasi sumber daya alam.  

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home