Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Endang Hoyaranda 04:17 WIB | Senin, 19 November 2018

Merasa Berkelimpahan

Hidup berkelimpahan itu ibarat merasa diri seperti pipa terbuka. Karena tak bertutup di kedua ujungnya, pipa dapat terus-menerus dialiri.
Berbagi keindahan (foto: istimewa)

 SATUHARAPAN.COM – Bayangkan sebuah pipa  yang satu ujungnya terbuka dan ujung lainnya tertutup. Air yang dialirkan untuk mengisi pipa itu mau tak mau akan terhenti mengisi ketika pipa penuh. Ujung lainnya tak mengalirkannya ke tempat lain. Karena itu pengisian pun berhenti ketika tak ada lagi tempat untuk menampungnya.

Sebaliknya, bayangkan jika kedua ujungnya terbuka, maka selama ada aliran keluar di ujung sana, maka ujung sini akan bisa tetap dialiri. Mungkin Anda akan berkata, ”Itu namanya pipa bocor!” Sangat betul. Pipa yang kedua ujungnya terbuka tak akan pernah bisa penuh karena isinya terus mengalir keluar.  

Tetapi, itu menjadi tidak penting ketika sumber air tetap mengalirkan airnya mengisi pipa. Pipa terus-menerus akan menjadi saluran untuk mengairi lingkungannya.

Itulah keyakinan hidup berkelimpahan. Stephen Covey—penulis buku laris jutaan eksemplar The Seven Habits of Highly Effective People—meyakini bahwa orang dengan mental berkekurangan, lawan dari mental berkelimpahan, cenderung melihat segala sesuatu dalam keterbatasan.

Hidup terasa selalu berkekurangan, jatahnya terbatas. Karenanya  apa yang dimiliki harus dijaga agar tidak semakin berkekurangan. Berbagi dengan orang lain sangat dibatasi karena ada perasaan ”jangan sampai karena berbagi, aku malah kekurangan”. Ada kecenderungan untuk mencengkeram apa yang dipunyai, meskipun di luar sana ada yang membutuhkan. Lebih baik orang lain tak kebagian daripada aku juga tak kebagian.

Secara tidak disadari terbentuklah mental menang-kalah: aku harus menang karena kalau pihak lain menang, aku tidak akan kebagian. Jadi, alih-alih berbagi kepada orang lain, apa yang dimiliki saja takut hilang.

Apakah akan terhindar dari kemelaratan dengan berpegang pada prinsip ini? Pasti tidak. Kemelaratan terjadi bukan karena  kekurangan itu nyata, melainkan karena khawatir akan terjadinya kekurangan.

Sebaliknya, menjadi kaya muncul karena merasa diri kaya. Bukan karena kaya  secara nyata melainkan karena bersyukur atas apa pun yang diberi. Hal terkecil pun dalam hidup  disyukuri. Rasa syukur adalah benih dari rasa berkelimpahan. Dan karena merasa berkelimpahan, maka muncul keinginan berbagi. Menjadi gemar berbagi.

Bukan hanya memberi benda secara fisik, namun juga waktu, perhatian, upaya. Menjadi kaya itu, bukan seberapa banyak yang dimiliki melainkan seberapa banyak yang bersedia dibagikan. Ada keyakinan bahwa dengan berbagi kita mendapatkan. 

Dengan memandang hidup sebagai kelimpahan, maka kelimpahan akan datang. Dengan mensyukuri apa yang dimiliki sebagai kelimpahan, maka kelimpahan akan menghampiri. Perhatikanlah semua hal di seputar hidup, lihatlah semua sebagai karunia. Bersyukurlah atas semua karunia itu. Jadikanlah sebagai pemberian. Itulah benih kelimpahan. Karunia tak henti masuk dari ujung pipa kiri dan keluar sebagai pemberian di ujung kanan.  Karena terus-menerus dialirkan, pipa bisa juga terus-menerus diisi.

Tanamlah benih sukacita, sukses, dan kasih. Semuanya akan kembali kepada Anda dalam kelimpahan. Itu adalah hukum alam.

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home