Loading...
HAM
Penulis: Sabar Subekti 11:59 WIB | Jumat, 09 Oktober 2015

Pasca Serangan di RS Kunduz, 33 Staf MSF Masih Hilang

Direktur Internasional MSF, Dr. Joanne Liu, ketika mengunjungi RS MSF di Kunduz, Afganistan, Februari lalu. (Foto: MSF)

KABUL, SATUHARAPAN.COM – Sebanyak 33 orang staf Dokter Tanpa Batas (Doctors Without Borders atau  Medecins Sans Frontieres / MSF) di rumah sakit Kunduz, Afganistan  yang diserang militer Amerika Serikat masih hilang.

Hal itu membuat kemarahan internasional atas serangan udara pada fasilitas bantuan medis di Afganistan. Demikian dikatakan MSF, hari Kamis (8/10).

Mereka yang masih dinyatakan hilang adalah sembilan pasien  rumah sakit, dan 24 orang staf MSF, menurut Guilhem Molinie, perwakilan MSF di Afghanistan.

"Kami masih shock," kata Molinie dalam konferensi pers di Kabul, seperti dikutip AFP.  "Kami kehilangan banyak rekan, dan pada saat itu jelas bahwa kami tidak ingin mengambil risiko bagi staf kami. Kami tidak mengontrol rumah sakit."

Serangan udara pada dini hari, Sabtu (3/10) itu membunuh  12 staf MSF dan 10 pasien, dan menyebabkan organisasi bantuan medis itu menutup pusat layanan medis untuk trauma. Wilayah itu, dan umumnya Afganistan terus dirundung konflik bersenjata, dan masyarakat mengalami kekurangan pelayanan medis.

Obama Minta Maaf

Sementara itu, surat kabar New York Times mengatakan bahwa komandan tertinggi AS dan NATO di Afghanistan menduga pasukan AS melanggar aturan mereka sendiri dalam keterlibatan pelaksanaan serangan.

Presiden AS, Barack Obama, pada hari Rabu (7/10) juga telah  meminta maaf kepada Direktur Internasional MSF, Joanne Liu. Dia mengakui bahwa serangan itu sebuah kesalahan, dan menjkanjikan penyelidikan yang transparan.

Tiga pihak yang terlibat dalam serangan adalah militer AS, NATO dan pejabat Afghanistan. Pihak MSF mengutuk serangan itu dan menyebutnya sebagai kejahatan perang. Aktivis ini meminta menyelidikan oleh pihak independen internasional, karena serangan pada fasilitas medis itu bertentangabn dengan Konvensi Jenewa.

"Kami tidak bisa mengandalkan penyelidikan internal militer (AS)," kata Liu di Jenewa. Dia minta Tim Pencari Fakta Kemanusiaan Internasional menyelidikan kasus serangan itu.

Kelompok bantuan internasional, PBB dan aktivis meningkatkan tekanan pada AS atas serangan yang terjadi  pada hari setelah militan Taliban menyerbu kota Kunduz di Afganistan bagian utara.

Kondisi kekuarangan pangan, air, perang dan warga yang terluka, menimpa wilayah Kunduz. Pertempuran masih terjadi di jalanan, dan kota itu kehilangan fasilitas kesehatan yang penting. Pada hari Kamis (8/10), Molinie mengatakan, MSF belum menerima jaminan bahwa  mereka akan aman dan "percaya diri" untuk kembali ke Kunduz.

"MSF akan meninjau kondisi keamanan  pada semua operasinya di Afghanistan," kata Direktur Umum MSF, Christopher Stokes.


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home