Google+
Loading...
EDITORIAL
Penulis: Trisno S Sutanto 00:00 WIB | Kamis, 20 April 2017

Terima Kasih, Ahok!

SATUHARAPAN.COM - Akhirnya pertarungan final Pilgub DKI Jakarta selesai sudah. Dan sang petahana, Gubernur Basuki Tjahaja “Ahok” Purnama beserta wakilnya, Djarot Saiful Hidayat, harus mengakui kekalahan mereka dari pesaingnya, Anies Baswedan – Sandiaga Uno.

Memang benar, kekalahan tersebut baru tampil lewat hitung cepat (quick count), dan harus menunggu hasil akhir hitung manual KPU DKI dua minggu lagi untuk menjadi “sah”. Namun, jika melihat hasil hitung cepat hampir seluruh lembaga survei yang memenangkan pasangan Anies-Sandi, dengan selisih suara cukup mencolok (bervariasi antara 7 – 15%), rasanya kekalahan Basuki-Djarot tak terelakkan lagi.

Banyak orang terkejut dengan kekalahan itu. Selama ini figur Ahok menjadi magnit politik yang kekuatannya hanya mampu ditandingi oleh Presiden Jokowi. Apalagi program-program yang dilancarkan, sejak ia mendampingi Jokowi sebagai wakil Gubernur, lalu menggantikannya, membuat banyak orang berdecak kagum. Jakarta mengalami perubahan fisik sangat pesat di bawah pemerintahan Ahok, sementara birokrasinya makin efisien dan responsif melayani kebutuhan warga.

Lalu mengapa Ahok harus kalah? Dan mengapa pula – ini bagian paling mengherankan bagi pengamat – perolehan suaranya tidak jauh beda dengan hasil putaran pertama, padahal dalam hari-hari terakhir sebelum tanggal 19 April kemarin, kecenderungan elektabilitas Ahok meningkat terus? Apa yang sesungguhnya terjadi?

Ada banyak analisa sudah diberikan. Salah satunya mengaitkan kekalahan Ahok dengan pertarungan global yang dampaknya ikut bergema di dalam negeri. Di situ, Ahok adalah “sasaran antara” untuk pertarungan lebih besar memperebutkan kursi RI-1, semacam “pemanasan” untuk pemilihan Presiden 2019.

Memang, tanda-tanda pertarungan yang lebih besar tersebut sangat terasa. Pilgub DKI yang baru saja berlalu adalah pilgub dengan “aroma pilpres” paling kuat. Maksudnya, kekisruhan politik di Jakarta telah bergema, dan dapat dirasakan di banyak daerah di luar Jakarta. Termasuk mobilisasi massa, mulai dari aksi-aksi demo 411, 212, 112, sampai “Tamasya Al-Maidah”.

Tidak heran, karena itu, pilgub yang baru lalu akan dikenang dalam sejarah sebagai ajang pertarungan politik yang paling brutal yang pernah terjadi. Selama lebih kurang setengah tahun, masyarakat Jakarta khususnya, dan para penonton di luar Jakarta, disuguhi pertarungan sengit bak hidup-mati. Apalagi ketika politisasi SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar-golongan) dipakai secara terstruktur, sistematis dan massif untuk menghantam figur Ahok.

Hasilnya ternyata efektif. Pun bagi masyarakat Jakarta yang, konon, sudah hidup di dalam kota modern dan berpenghasilan serta berpendidikan lebih tinggi dibanding daerah-daerah lain. Ini kentara dari exit polls yang dilakukan SMRC (Saiful Mujani Research and Consulting) saat pencoblosan tanggal 19 April. Alasan paling besar dari mereka yang memilih pasangan Anies-Sandi adalah “agamanya sama dengan saya” (25,9%) dan “paling memperjuangkan agama” (17%). Sedang alasan mereka yang memilih Ahok-Djarot paling banyak adalah “program yang dijalankan atau dijanjikan paling meyakinkan” (30,5%) dan “bersih dari korupsi, konsisten, amanah, atau bisa dipercaya” (21,6%).

Jika data tersebut mencerminkan apa yang benar-benar bergejolak dalam masyarakat kita, maka jelas ada problem sangat fundamental yang harus menjadi perhatian kita semua. Sebab demokrasi yang stabil dan terus berkembang menghendaki penghargaan lebih pada program, konsistensi kerja, dan prestasi seseorang – bukan latar belakang etnis atau keyakinan agamanya!

Persis pada soal itulah, sebenarnya, kita harus mengucapkan terima kasih pada Ahok. Ia merupakan contoh par excellence sistem meritokrasi – penghargaan pada kerja dan prestasi – yang sangat dibutuhkan oleh proses transisi demokratisasi negara ini. Dan Ahok telah memberi teladan dengan standar tinggi, malah kadang terlalu tinggi, pada pengabdian seorang “pelayan masyarakat”.

Kemarin masyarakat Jakarta sudah memilih. Dan, ironisnya, mereka menolak pelayanan Ahok, hanya karena ia berbeda keyakinan dari mayoritas. Sebuah keputusan yang, walau disayangkan banyak orang, tetap harus dihargai. Kita hanya dapat berharap semoga Anies-Sandi, sebagai duet Jakarta-1 yang baru, dapat melanjutkan kerja-kerja Ahok-Djarot.

 

Back to Home