Google+
Loading...
SMASH AYUB
Penulis: Ayub Yahya 07:57 WIB | Selasa, 19 Februari 2019

Terus Berusaha

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

SATUHARAPAN.COM - Ini pernah terjadi di dunia sepak bola suatu ketika, tepatnya di quarter final Liga Champions Eropa 2017, leg kedua, antara Barcelona (Barca) vs Paris Saint Germany (PSG). Leg pertama di Paris secara mengejutkan PSG dapat menghancurkan Barca 4-0. Artinya untuk lolos Barca harus menang minimum 5-0 tanpa kebobolan. Kalau sampai kebobolan, berarti Barca harus bisa mencetak gol kebih banyak lagi.

 

Sampai menit ke-60 Barca sudah unggul 3-0. Tapi kemudian di menit 61 Edison Cavani berhasil mencetak gol untuk PSG. Orang pun mulai berpikir, “habis dah Barca.” Karena berarti untuk lolos Barca harus mencetak tiga gol tanpa kebobolan lagi. Ini sangat berat, kalau tidak mau disebut hampir mustahil. Gagal di 16 besar akan menjadi prestasi terburuk Barca di Liga Champions Eropa era modern.

 

Siapa menduga Neymar bisa membuat dua gol dalam kurun waktu tiga menit. Lalu satu gol dari Sergi Roberto di menit terakhir masa injure time. Barca pun lolos. Apa yang tadinya seperti mustahil terjadi. Luar biasa. Media menyebutnya “The greatest comebacks of all time”.

 

Sepak bola sekali lagi membuktikan, bahwa selama peluit tanda akhir pertandingan belum berbunyi, segala sesuatu masih bisa terjadi. Maka terus berusaha itu penting.

 

Tidakkah hidup juga demikian?! Kadang kita diperhadapkan pada situasi "hampir mustahil"; semua pintu seolah tertutup. Dalam situasi demikian pilihan kita hanya dua; menyerah (dan itu berarti, selesailah semuanya). Atau terus berusaha (membuka peluang segala kemungkinan terjadi) sampai "peluit akhir benar-benar berbunyi". Kadang alam nan bijak berbaik hati; mengganjar upaya tak kenal menyerah kita dengan keberuntungan. Seperti pada Barcelona (ketika itu).

 

 

Editor: Tjhia Yen Nie

 

BERITA TERKAIT
Back to Home