Loading...
INDONESIA
Penulis: Yan Chrisna Dwi Atmaja 09:32 WIB | Jumat, 14 Februari 2014

66.139 Warga Diungsikan Akibat Erupsi Gunung Kelud

66.139 Warga Diungsikan Akibat Erupsi Gunung Kelud
Hujan abu di Jalan Kaliurang, Yogyakarta, akibat erupsi Gunung Kelud, Jumat (14/2). (Foto-foto: Antara)
66.139 Warga Diungsikan Akibat Erupsi Gunung Kelud
Sejumlah warga berada di posko pengungsian di Kantor Kecamatan Ngelegok, Blitar, Jatim, Jumat (14/2). Warga dari tiga desa yang berjarak 17 kilometer dari letusan puncak gunung Kelud mengungsi.

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Pemkab Kediri, Jawa Timur mengevakuasi sekitar 66.139 jiwa atau seluruh warganya yang tinggal dalam radius 10 km dari puncak kawah Gunung Kelud, Kediri, Jatim yang meletus pada pukul 22.50 WIB, Kamis (13/2).

Staf Media Center Satlak PB Kabupaten Kediri, Andri, mengatakan bahwa para pengungsi itu berasal dari Desa Ngancar sebanyak 28.693 jiwa, dari Desa Kepung sebanyak 18.836 jiwa, Desa Puncu ada 11.895 jiwa, dan Desa Plosokaten sebanyak 6.725 jiwa.

Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Kediri Edhi Purwanto mengatakan, pihaknya mengerahkan 351 armada, termasuk armada milik tentara nasional Indonesia (TNI) untuk mengevakuasi warga. Selain itu petugas satuan pelaksana (satlak) yang terdiri dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), kepolisian hingga TNI juga telah dikerahkan.

PVMBG memprediksi material letusan Gunung Kelud, pada ketinggian 1.776 meter, akan lebih dari 100 juta meter kubik, meliputi abu, batu, lava pijar, serta awan panas guguran, dengan arah ke barat.

Warga di Yogyakarta dan Purworejo bahkan menyatakan mendengar "geluduk" pada saat Kelud meletus. Menurut mereka, abu vulkanik juga sampai di kota mereka, bahkan juga sampai di Temanggung, Jawa Tengah.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mulai Senin 10 Februari 2014, mengeluarkan sejumlah rekomendasi.

Pertama, masyarakat di sekitar Gunung Kelud dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah yang ada di puncak Kelud dalam radius 5 km dari kawah aktif.

Kedua, masyarakat di sekitar Kelud diharap tenang, tidak terpancing isu-isu tentang letusan Kelud dan harap selalu mengikuti arahan dari BPBD setempat.

Ketiga, masyarakat yang berada dalam Kawasan Rawan Bencana II (KRB II) untuk selalu waspada dan memperhatikan perkembangan Kelud yang dikeluarkan oleh BPBD setempat.

Keempat, PVMBG selalu berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur (BPBD Provinsi) dan SATLAK Kabupaten Kediri, BPBD Kabupaten Blitar dan BPBD Kabupaten Malang tentang aktivitas G. Kelud. Masyarakat harap selalu mengikuti arahan dari BPBD Provinsi dan BPBD Kabupaten.

Kelima, agar SATLAK Kabupaten Kediri, BPBD Kabupaten Blitar dan BPBD Kabupaten Malang senantiasa berkoordinasi dengan Pos Pengamatan  Kelud di Kampung Margomulyo, Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri atau dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

Sejarah Letusan Kelud

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat letusan pada tahun 1919 sebagai yang terparah.

* Tahun 1.000.

* tahun 1901, material yang dikeluarkan itu sekira 200 juta meter kubik.

* Tahun 1919, material letusan yang dilemparkan sekira 284 juta meter kubik. Korban meninggal saat itu ada 5.160 orang.

* Tahun 1951, material letusan  sekira 200 juta meter kubik.

* Tahun 1966, material yang dikeluarkan 90 juta meter kubik.

* Tahun 1990. material letusannya sekira 130 juta meter kubik.

* Tahun 2007 l material yang dikeluarkan adalah tercatat paling sedikit dalam sejarah letusan Kelud. 

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) belum bisa memastikan erupsi lanjutan Gunung Kelud (1.730 mdpl) setelah meletus pada Kamis (13/2) malam.

"Kalau melihat pengalaman sebelumnya, erupsi Kelud ini hanya beberapa hari dan mudah-mudahan ini mengikuti pola lama," kata Kepala PVMBG Muhammad Hendrasto saat ditemui di posko utama bencana di Simpang Lima Gumul (SLG) Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Jumat.

Ia mengatakan, erupsi yang terjadi pada Kamis malam itu merupakan erupsi yang cukup besar. Alat pemantau mengetahui jika ketinggian abunya mencapai 17.000 meter dan mengarah ke barat. Dengan kondisi tersebut, abu sampai turun ke Banjarnegara, Wonosobo, dan Purwokoerto di Jawa Tengah. 

"Kalau ke arah timur, relatif tidak turun, seperti di Lamongan, Lumajang," katanya.

Pihaknya juga belum bisa memastikan kondisi terkini Gunung Kelud yang berada di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri tersebut, sebab sejumlah alat yang dipasang untuk mengetahui kondisi gunung itu sudah hancur.

Bahkan, kamera pengintai atau CCTV yang baru dipasang di sekitar Gunung Kelud juga sudah hancur. PVMBG masih mempunyai satu alat yang dipasang sejauh 5 kilometer, tapi belum bisa dipastikan akan bertahan sampai kapan. Alat itu menggunakan panel surya dan baterai, tapi dipastikan tertutup debu vulkanik.

Ia juga menegaskan, letusan yang terjadi di Gunung Kelud ini bersifat "eksplosif", dengan ditandai guyuran hujan batu dan letusan secara vertikal. 

"Untuk lelehan lava, biasanya itu terjadi pada letusan "efusif", tapi yang tadi malam itu eksplosif," jelas Hendrasto.

Ia juga meminta masyarakat tidak percaya dengan segala bentuk "broadcast" yang mengabarkan akan ada letusan susulan dua jam lagi. "BC" itu juga beredar sejak Kamis malam, tapi ternyata juga tidak terbukti. Ia meminta masyarakat tetap waspada dan menjauh dari lokasi kawah radius 10 kilometer. 

Sementara itu, warga sejak pagi sudah mulai membersihkan halaman serta rumah mereka yang tertutup debu vulkanik. Mereka mengumpulkan debu-debu tersebut disimpan dalam karung.

Para pengendara pun tidak dapat melaju dengan kencang, mengingat debu vulkanik menutup seluruh jalan. Ketebalan debu itu mencapai 10-15 sentimeter. Debu juga beterbangan, membuat jarak pandang terbatas. 

Gunung Kelud mengalami erupsi, setelah sebelumnya terjadi gempa tremor sampai enam jam pada Kamis (13/2). Gunung itu dinyatakan erupsi pada pukul 22.56 WIB, setelah statusnya naik dari semula waspada menjadi awas. 

Perubahan status Gunung Kelud relatif sangat cepat, dari sebelumnya aktif normal berubah menjadi waspada pada Minggu (2/2), dan berubah lagi menjadi siaga pada Senin (10/2) pukul 16.00 WIB, dan Kamis (13/) pukul 21.15 WIB berubah statusnya menjadi awas.

Gunung itu pernah meletus sampai 25 kali, rentang 1000 sampai tahun 2007, dengan puluhan ribu korban jiwa, maupun materiil. Gunung tersebut meletus terakhir pada 2007, tapi secara "efusif" atau tertahan. (setkab.go.id/Ant)


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home