Loading...
HAM
Penulis: Endang Saputra 17:15 WIB | Rabu, 01 Juni 2016

Agus Widjojo: Tangan PKI Juga Berdarah

Suasana acara Simposium Nasional Mengamankan Pancasila dari Ancaman PKI dan Ideologi Sejenis di Balai Kartini hari Rabu (1/6). (Foto: Endang Saputra)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Gubernur Lemhanas, Letjen (Purn) Agus Widjojo mengatakan, anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) pada masa sebelum tahun 1965 juga melakukan aksi kekerasan dan pembunuhan pada pihak yang berlawanan dengan partainya.

Menurut Agus, dia ingin terbuka supaya generasi muda mengetahui bahwa partai berlambang palu arit itu juga beberapa kali melakukan aksi kekerasan juga pemberontakan.

“Tangan PKI juga berdarah, ini yang kita buka, ini yang jarang dipahami oleh generasi pasca 1965. PKI juga lakukan kekerasan,” kata Agus di dalam acara Simposium Nasional "Mengamankan Pancasila dari Ancaman PKI dan Ideologi Sejenis" di Balai Kartini hari Rabu (1/6).

Agus mengatakan PKI melakukan pemberontakan tahun 1948 di Madiun, di kala situasi belum stabil karena bangsa Indonesia baru merdeka dan tengah berjuang melawan agresi militer Belanda.

‪‪PKI terus memaksakan ideologinya secara sepihak. Melalui isu penggarapan tanah, partai palu arit terlibat perseteruan dengan TNI sehingga memunculkan peristiwa Bandar Betsi, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara yang memicu korban dari pihak militer.‪‪

”PKI bandel lagi, mereka paksakan ideologinya melalui aksi sepihak terhadap penggarap tanah waktu itu, TNI ada korban (Letda Soedjono) di peristiwa Bandar Betsi,” kata Agus.

Menurut Agus, Insiden-insiden tersebut memunculkan trauma dan membuat PKI menjadi bahaya laten bagi Negara. Bahkan, PKI secara terang-terangan melawan TNI AD lantaran kerap melakukan kekerasan.

“Ini jadi trauma sehingga muncul bahaya laten. Ini memang bersumber dari catatan sejarah. Lawan PKI itu AD. Secara konsisten PKI memakai kekerasan untuk tawarkan ideologinya,” dia menambahkan.

Agus pun meminta agar generasi muda mengerti sejarah. Adapun tujuan simposium yang digelar di Hotel Arya Duta di bulan April kemarin, ialah ingin membuka tragedi 1965.

‪”Kita harus tau sejarah, simposium itu ingin membuka tragedi 1965, jangan diartikan tentang itu saja. Sisi sebelum Tahun 1965 apa yang diperbuat PKI. Tahun 1948 mereka lakukan pemberontakan masal,” tegas dia.

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home