Loading...
FOTO
Penulis: Sabar Subekti 11:36 WIB | Senin, 01 Maret 2021

Bentrok Polisi Myanmar dan Massa Anti Kudeta, 26 Tewas

Bentrok Polisi Myanmar dan Massa Anti Kudeta, 26 Tewas
Seorang pengunjuk rasa menyemprotkan alat pemadam kebakaran saat demonstran bentrok dengan petugas polisi anti huruhara selama protes terhadap kudeta militer di Yangon, Myanmar, hari Minggu (28/2). (Foto: Reuters/Stringer)
Bentrok Polisi Myanmar dan Massa Anti Kudeta, 26 Tewas
Petugas polisi anti huru-hara menembakkan tabung gas air mata selama protes terhadap kudeta militer di Yangon, Myanmar, hari Minggu (28/2). (Foto: Reuters/Stringer)
Bentrok Polisi Myanmar dan Massa Anti Kudeta, 26 Tewas
Seorang pengunjuk rasa yang terluka dibawa di tengah protes terhadap kudeta militer di Dawei, Myanmar, hari Minggu (28/2), seperti diunggah di media sosial. (Foto: Dawei Watch via Reuters)
Bentrok Polisi Myanmar dan Massa Anti Kudeta, 26 Tewas
Para pengunjuk rasa berlindung saat mereka bentrok dengan petugas polisi anti huru hara selama protes terhadap kudeta militer di Yangon, Myanmar, hari Minggu (28/2). (Foto: Reuters/Stringer).
Bentrok Polisi Myanmar dan Massa Anti Kudeta, 26 Tewas
Demonstran bentrok dengan petugas polisi anti huru hara selama protes terhadap kudeta militer di Yangon, Myanmar, hari Minggu (28/2). (Foto: Reuters/Stringer)

YANGON, SATUHARAPAN.COM-Telah berminggu-minggu demonstrasi anti kudeta digelar di berbagai kota Myanmar sebagai tindakan menentang kudeta militer pada 1 Februari lalu. Belum ada tanda-tanda krisis politik di negara itu akan mereda, demontrasi justru semakin banyak dan didukung warga, dan junta militer menggunakan kekuatan, bahkan dengan tembakan yang mematikan.

Pada demonstrasi hari Minggu (28/2) di beberapa kota dilaporkan bahwa sedikitnya 26 otang tewas akibat tembakan polisi anti huru-hara Myanmar, sementara sejumlah laporan menyebut 270 orang ditahan. Ada puluhan lainya yang dilaporkan mengalami luka-luka. Ini terjadi akibat bentrokan massa protes dan polisi serta militer Myanmar.

Kecaman dunia internasional, bahkan sejumlah negara menjatuhkan sanksi terhadap pejabat militer, tidak meredakan situasi. Militer tetap menganggap kudeta yang dilakukan sah menurut konstitusi atas protes klaim kecurangan pemilu November lalu. Sementara rakyat Myanmar menilai bahwa pemilu sah, dan klaim kecurangan tidak terbukti, serta ini sebagai perampasan kekuasaan pada pemerintah sipil hasil pemilu.

Sistuasi di Myanmar tampaknya akan semakin suram, dengan massa protes anti kudeta bukannya mereda karena ancaman militer, justru berjanji untuk menggelar aksi lebih banyak setidaknya pada hari Senin (1/3) ini.

Editor : Sabar Subekti

Kampus Maranatha
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home