Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 04:34 WIB | Minggu, 28 Februari 2021

Polisi Myanmar Bubarkan Demonstrasi, Seorang Terbunuh

Polisi Myanmar Bubarkan Demonstrasi, Seorang Terbunuh
Seorang pengunjuk rasa anti kudeta ditahan polisi dalam aksi di Yangon, Myanmar, hari Sabtu (27/2). (Foto: Reuters)
Polisi Myanmar Bubarkan Demonstrasi, Seorang Terbunuh
Polisi menembakkan gas air mata saat mereka berusaha membubarkan pengunjuk rasa yang mengambil bagian dalam demonstrasi menentang kudeta militer di Yangon pada hari Sabtu (27/2). (Foto: AFP)

YANGON, SATUHARAPAN.COM-Polisi Myanmar menindak demonstran pada hari Sabtu (27/2) untuk mencegah para penentang kudeta melanggar aturan militer untuk berkumpul, dan seorang perempuan ditembak dan dibunuh, menurut laporan media. Sementara utusan Myanmar di PBB mendesak badan dunia itu menggunakan "segala cara yang diperlukan" untuk menghentikan kudeta 1 Februari.

Myanmar berada dalam kekacauan sejak tentara merebut kekuasaan dan menahan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi dan sejumlah pemimpin partainya. Mereka menuduh adanya kecurangan dalam pemilihan umum bulan November yang dimenangkan partai Liga nasional untuk Demokrasi (NLD) pimpianan Suu Kyi secara telak.

Ketidakpastian muncul mengenai keberadaan Suu Kyi, karena situs web independen Myanmar Now pada hari Jumat (26/2) mengutip pejabat partai NLD yang mengatakan bahwa dia telah dipindahkan pekan ini dari tahanan rumah ke lokasi yang dirahasiakan.

Kudeta tersebut telah membawa ratusan ribu pengunjuk rasa ke jalan-jalan, dan  Myanmar menuai kecaman dari negara-negara Barat, dengan beberapa menjatuhkan sanksi terbatas. 

 

Pengunjuk rasa anti kudeta duduk di belakang poster dengan gambar pemimpin Myanmar yang digulingkan Aung San Suu Kyi selama unjuk rasa di Yangon, Myanmar, hari Senin (22/2). (Foto: dok. AP)

 

Tindakan Keras Militer

Polisi mengerahkan pasukan di kota utama Yangon dan tempat lain pada hari Sabtu, mengambil posisi di tempat-tempat protes biasa digelar dan menahan orang-orang saat mereka berkumpul, kata saksi mata. Beberapa pekerja media ditahan.

Tiga media domestik mengatakan seorang perempuan ditembak dan dibunuh di pusat kota Monwya. Polisi di sana belum bisa dihubungi untuk dimintai komentar.

Sebelumnya, seorang pengunjuk rasa di kota itu mengatakan polisi telah menembakkan meriam air saat mereka mengepung kerumunan. "Mereka menggunakan meriam air untuk melawan pengunjuk rasa, mereka tidak boleh memperlakukan orang seperti itu," kata Aye Aye Tint kepada Reuters dari kota itu.

Di Yangon, terlepas dari kehadiran polisi, orang-orang keluar untuk menyanyi, kemudian berpencar ke jalan-jalan saat polisi bergerak maju, menembakkan gas air mata, meledakkan granat asap dan menembakkan senjata ke udara, kata saksi mata. Adegan serupa terjadi di kota kedua Mandalay dan beberapa kota lain, termasuk Dawei di selatan, kata saksi dan media.

Di antara mereka yang ditahan di protes Mandalay adalah Win Mya Mya, satu dari dua anggota parlemen Muslim untuk NLD, kata media. Namun pemimpin junta, Jenderal Min Aung Hlaing mengatakan pihak berwenang menggunakan kekuatan minimal. Namun demikian, setidaknya tiga pengunjuk rasa telah tewas selama kekacauan itu. Tentara mengatakan seorang polisi juga tewas. 

 

Para biksu Buddha memimpin pawai protes anti kudeta di Mandalay, Myanmar, hari Sabtu (27/2). (Foto: AP)

 

Kyaw Moe Tun Dipuji sebagai Pahlawan

Di Sidang Umum PBB, Duta Besar Myanmar, Kyaw Moe Tun, mengatakan bahwa dia berbicara atas nama pemerintah Suu Kyi dan meminta "segala cara yang diperlukan untuk mengambil tindakan terhadap militer Myanmar dan untuk memberikan keselamatan dan keamanan bagi rakyat".

"Kami membutuhkan tindakan sekuat mungkin dari komunitas internasional untuk segera mengakhiri kudeta militer... dan memulihkan demokrasi," katanya.

Kyaw Moe Tun tampak emosional saat membaca pernyataan atas nama sekelompok politisi terpilih yang katanya mewakili pemerintah yang sah. Dia menyampaikan kata-kata terakhirnya dalam bahasa Burma, dan diplomat karier itu memberi hormat tiga jari kepada para pengunjuk rasa pro-demokrasi dan mengumumkan, "tujuan kami akan menang."

Warga Myanmar memuji Kyaw Moe Tun sebagai pahlawan dan media sosial dibanjiri dengan pesan terima kasih. Pelapor Khusus PBB, Tom Andrews, mengatakan dia kewalahan saat menyaksikan "tindakan keberanian" duta besar. “Sudah waktunya bagi dunia untuk menjawab seruan berani itu dengan tindakan,” kata Andrews di Twitter. (Reuters)

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home