Loading...
RELIGI
Penulis: Prasasta Widiadi 06:18 WIB | Minggu, 17 Januari 2016

Dakwah Harus Mencerahkan, Tidak Provokatif

Ilustrasi: Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (kedua dari kiri) saat menghadiri Hari Perdamaian Dunia pada 2014, di Monumen Nasional, Jakarta. (Foto: Dok. satuharapan.com/ Prasasta Widiadi).

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Menteri  Agama Lukman Hakim Saifuddin mengharapkan para pendakwah dalam menyampaikan dakwahnya tidak hanya menerangkan tapi mencerahkan dan tidak melakukan provokasi menghasut lewat dakwah.

"Dakwah yang mencerahkan lebih luas lagi konteksnya, tidak hanya menjelaskan, tapi mampu menjelaskan mengapa ada pandangan yang membolehkan dan mengapa ada pandangan yang tidak membolehkan. Masing-masing dijelaskan sehingga kemudian umat tercerahkan, arif dan tahu ada beragam pandangan di Islam terkait sebuah persoalan," kata  Lukman  di Jakarta, hari Sabtu (16/1).

Dakwah yang memprovokasi, kata Menag, adalah dakwah yang menyatakan pandangan-pandangannya saja yang paling benar, menjelek-jelekkan kelompok lain dan sejenisnya.

Lukman  meminta umat Islam tidak terlalu mudah diprovokasi dengan tindakan-tindakan oknum tidak bertanggung jawab seperti sandal dengan Allah, kejadian terompet yang menggunakan cover Alquran dan lainnya.

"Inilah bentuk-bentuk dakwah yang harus kita hindari karena dakwah-dakwah seperti itulah yang menyebabkan Islam di Indonesia ini selalu disibukkan dengan hal-hal yang tidak produktif," kata Menag.

Menag juga berharap pengurus masjid betul-betul bisa menyeleksi da'i, mubaligh dan khatibnya. Terlebih belakangan para pendakwah di masjid terlalu leluasa menyampaikan ceramah-ceramah, khutbah-khutbah yang bertolak belakang dengan esensi ajaran Islam yang damai. Bahkan di beberapa kasus, materi dakwah berisi tentang anjuran radikalisme dan terorisme.

"Oleh karena itu, kita berharap masjid betul-betul bisa menyeleksi dengan baik," kata Lukman.  (Ant).

Ikuti berita kami di Facebook

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home