Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 15:40 WIB | Rabu, 18 September 2019

Dampak Asap Karhutla, Menkes Anjurkan Gunakan Teknologi Tepat Guna

Ilustrasi. Kendaraan melintas di jalanan yang diselimuti asap. (Foto: Antaranews.com/Hafidz Mubarak)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Upaya pencegahan dan pengobatan terus dilakukan oleh sektor kesehatan melihat banyaknya penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada masalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menkes menyarankan upaya pencegahan dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi tepat guna.

Penggunaan teknologi tepat guna sempat dimanfaatkan pada 2017 dalam kasus yang sama. Sekretaris Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Pusat Krisi Kesehatan, Kemenkes, dr Ahmad Yurianto, mengatakan dua tahun lalu Kemenkes bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung, membangun save community pada masyarakat. Salah satunya, menciptakan teknologi tepat guna sederhana berupa pemasangan kain dakron yang dibasahi.

''Setelah diuji coba di beberapa sekolah dan dilakukan pengukuran ISPU (indeks standar pencemar udara, Red) di dalam dan di luar kelas, ternyata udara lebih baik di dalam kelas karena terpasang kain dakron,” katanya saat Rapat Koordinasi dengan Menkes Nila Moeloek, yang dilansir situs resmi depkes.go.id, pada Senin (16/9).

Dr Ahmad Yurianto yang kerap disapa Yuri menambahkan, masalah karhutla pada 2015 menelan korban jiwa, pada anak. Hal itu sebenarnya disebabkan gastroenteritis dan dehidrasi berat karena kurang tersedianya air bersih.

''Saat itu sebenarnya diawali kekeringan dan sulit dapat air bersih, sehingga yang muncul gastroenteritis. Terlambat melakukan rujukan karena memang warga takut asap di luar,  sehingga meninggal. Informasi yang ramai meninggal karena asap padahal bukan,” katanya.

Menteri Kesehatan RI Nila Moeloek menambahkan, kalau sudah musim kemarau yang utama adalah air bersih. Ia mengatakan, Poltekkes sempat menciptakan teknologi tepat guna berupa penjernih air, dan berhasil menjernihkan air gambut di Kalimantan.

Kalau sudah musim kemarau yang utama itu air. "Poltekkes sudah bisa menjernihkan air gambut, kecil alatnya," kata Menkes.

Selain itu, Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) Batam, empat tahun lalu juga membuat teknologi penjernih air agar bisa langsung minum. Teknologi tersebut dijadikan replika untuk daerah agar bisa mengembangkan sendiri.

Dr Yuri menambahkan, teknologi tepat guna lainnya adalah oksigen konsentrator. Tim Pusat Krisis Kesehatan sempat memantau Puskesmas Pulang Pisau, Kalimantan Tengah yang bermasalah karena kabut asap yang begitu pekat.

''Kami datangi, kami beri oksigen konsentrator kemudian puskesmasnya kami tutup pakai kain dakron. Tim Puskris mau mengecek lagi ke sana,'' kata dr Yuri.

Rencananya, tambah dr Yuri, kalau oksigen konsentrator ini sesuatu yang bagus, Direktorat Pelayanan Kesehatan Primer dapat meminta puskesmas untuk menggunakan oksigen konsentrator.

“Kami mengirim (oksigen konsentrator) ke Riau,'' katanya.

Terkait teknologi tepat guna ini, Menkes Nila mengatakan, bisa dijadikan contoh untuk mencegah terjadinya masalah kesehatan akibat karhutla.

''Ini bisa kita manfaatkan sebaik-baiknya. Bisa kita gunakan untuk masyarakat. Jangan sampai kita telat lagi dalam pencegahan,'' katanya.

 

 

 

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home