Loading...
BUDAYA
Penulis: Diah Anggraeni Retnaningrum 11:40 WIB | Jumat, 21 Maret 2014

Di Tangan Sineas Perempuan, Perempuan Bukan Objek

Di Tangan Sineas Perempuan, Perempuan Bukan Objek
Dari kiri, Seno Gumira Ajidarma, Sofia Setyorini, Olin Monteiro, Melani Budianta, Jugiarie Soegiarto. (Foto: Diah A.R)
Di Tangan Sineas Perempuan, Perempuan Bukan Objek
Buku Indonesian Women Filmmakers. (Foto: fembooks.de)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Seno Gumira Ajidarma mengungkapkan bahwa dalam film karya perempuan peran perempuan menjadi subjek dan pahlawan dan bukan lagi sebagai objek tertindas.

Seno berbicara dalam peluncuran buku Indonesian Women Filmmakers karya sembilan penulis dengan editor Yvonne Michalik. Acara diadakan di Gedung IV Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Jakarta (20/3). Acara ini dipersembahkan oleh Goethe-Institut Indonesien sebagai pendukung acara diskusi ini. Sembilan penulis adalah warga Indonesia dan Jerman. Mereka adalah Novi Kurnia, Olin Monteiro, Intan Paramadhita, Ekky Imanjaya, Diani Citra, Wiwik Sushartami, Jan Budweg, Sofia Setyorini dan Yvonne Michalik sendiri.

Dalam diskusi ini, selain Seno Gumira Ajidarma yang adalah seorang dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ) juga ada Jugiarie Soegiarto sebagai seorang yang peduli tentang film dan dosen Sastra Belanda di UI. Penulis yang hadir Olin Monteiro—penulis, editor, dan pembuat film dokumenter. Juga, Sofia Setyorini—koordinator Arthouse Cinema di Goethe-Institut, Jakarta dan pernah bekerja di industri film, In-Docs.

Dalam diskusi tersebut, buku ini dinilai menarik karena terfokus pada perbedaan serta perkembangan yang cepat dari industri film di Indonesia sejak berakhirnya rezim orde baru pada1998. Buku ini menyoroti peran dari sineas-sineas perempuan yang memainkan peranan penting dalam membentuk sinema kontemporer Indonesia dan secara berkelanjutan memberikan cara pandang yang baru terhadap perkembangan industri film di Indonesia.

Jugiarie Soegiarto atau Arie menyampaikan pendapatnya bahwa kendala terbesar yang dihadapi oleh para sineas perempuan terutama dalam pembuatan film dokumenter adalah dana, distribusi, monopoli bioskop besar dan tidak ada peran pemerintah. Kendala tersebut yang perlu dikaji lagi oleh pemerintah supaya industri perfilman Indonesia bisa berkembang.

Dia juga menyayangkan mengapa film Indonesia tidak bisa ‘berbicara’ di panggung internasional. Menurutnya, hal ini karena film-film dokumenter hanya bisa dinikmati oleh orang kota saja yang bisa mengerti dan menikmati film. Ini artinya bahwa film dokumenter belum bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Seno Gumira Ajidarma melihat secara lain tentang buku tersebut. Dia menilai bahwa buku ini merupakan bentuk perjuangan ideologi. “Penulis mencoba untuk merumuskan pandangan si pembuat film apakah dia adalah seorang feminis atau bukan.”

Menurutnya, ada tiga hal yang dapat dia rumuskan yaitu pertama, bahwa si pembuat film tidak ada kepentingan terhadap feminis, kedua si pembuat film bukanlah seorang feminis tapi dia memperjuangkan kaum perempuan melalui karyanya dan yang ketiga adalah si pembuat film tidak peduli tentang feminis.

Seno juga mengungkapkan bahwa rata-rata pembuat film perempuan enggan dijuluki seorang feminis karena di benak mereka feminis merupakan istilah yang sangat mengerikan dan menjadi beban untuk mereka. Walaupun dalam kenyataannya, di setiap karya yang mereka buat bisa dilihat peran perempuan menjadi subjek dan pahlawan dan bukan lagi sebagai objek yang tertindas.

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home