Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 10:08 WIB | Selasa, 18 April 2023

Duta Besar Uni Eropa di Sudan Diserang di Rumahnya

Warga Sudan menyapa tentara, yang setia kepada panglima militer Abdel Fattah al-Burhan, di kota Laut Merah Port Sudan pada 16 April 2023. (Foto: AFP)

KHARTOUM, SATUHARAPAN.COM-Duta Besar Uni Eropa untuk Sudan diserang di rumahnya sendiri di Khartoum, kata kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Josep Borell, pada hari Senin (17/4), ketika pertempuran antara dua jenderal yang bersaing memperebutkan kekuasaan menjerumuskan negara itu ke dalam pecahnya kekerasan.

“Beberapa jam yang lalu, Duta Besar Uni Eropa di Sudan diserang di kediamannya sendiri,” tulis Borrell di Twitter.

Dia menambahkan: “Ini merupakan pelanggaran berat terhadap Konvensi Wina. Keamanan tempat dan staf diplomatik adalah tanggung jawab utama otoritas Sudan dan kewajiban di bawah hukum internasional.”

Juru bicara Uni Eropa, Nabila Massrali, mengatakan bahwa duta besar, diplomat Irlandia, Aidan O'Hara, "baik-baik saja" setelah serangan itu. Juru bicara mengatakan: “Keamanan staf adalah prioritas kami. Delegasi UE belum dievakuasi. Langkah-langkah keamanan sedang dinilai.”

Pertempuran yang pecah tiga hari lalu antara tentara Sudan di bawah pimpinan Jenderal Abdel Fattah al-Burhan dan Pasukan Pendukung Cepat (RSF) paramiliter di bawah kepemimpinan Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo, yang dikenal sebagai Hemedti, telah menewaskan lebih dari 180 orang. dan melukai lebih dari 1.800, menurut PBB.

AS Serukan Gencatan Senjata Tanpa Syarat

Sementara itu, Amerika Serikat menyerukan gencatan senjata segera untuk mengakhiri pertempuran di Sudan, kata seorang pejabat Gedung Putih Senin, sambil memperingatkan Jenderal Abdel Fattah al-Burhan dan Jenderal Hemedti bahwa mereka perlu memastikan keamanan warga sipil.

“Kami menyesalkan meningkatnya kekerasan di Khartoum dan di tempat lain di Sudan,” kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional (NSC) dalam sebuah pernyataan. “Kami menyerukan gencatan senjata segera tanpa syarat antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan Pasukan Pendukung Cepat (RSF).”

Militer Sudan dan RSF paramiliter telah berperang sejak pecahnya kekerasan secara tiba-tiba akhir pekan lalu untuk menguasai negara.

“Eskalasi yang berbahaya ini membahayakan kemajuan yang dicapai hingga saat ini dalam negosiasi untuk memulihkan transisi demokrasi Sudan, dan merusak aspirasi rakyat Sudan,” kata pejabat NSC, seraya menambahkan bahwa rakyat Sudan ingin mengakhiri pertempuran dan untuk melihat Sudan yang demokratis.

Pejabat NSC mengatakan tidak ada solusi militer untuk krisis politik Sudan dan meminta pasukan keamanan untuk segera menurunkan ketegangan dan kembali ke pembicaraan tanpa prasyarat. (AFP/ Al Arabiya)

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home