Loading...
BUDAYA
Penulis: Reporter Satuharapan 07:55 WIB | Selasa, 25 Oktober 2016

Festival Sangasari Budaya Bali Digelar di Leiden

Penampilan maestro tari Bulantrisna Djelantik dalam Festival Sangasari di Leiden, Belanda, 22-23 Oktober 2016. (Foto: Museum Volkenkunde)

LONDON, SATUHARAPAN.COM - Festival Sangasari menampilkan budaya Bali, khususnya tari-tarian, yang diadakan Dwibhumi bekerja sama dengan KBRI Den Haag melalui program Rumah Budaya Indonesia, berhasil menarik perhatian masyarakat di Leiden, Belanda.

Festival Sangasari digelar di Museum Volkenkunde, Leiden, selama dua hari pada akhir pekan lalu, dihadiri Dubes RI Den Haag, I Gusti Agung Wesaka Puja, demikian Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Den Haag, Bambang Hari Wibisono, kepada Antara London, Selasa (25/10).

Acara itu didukung Sanggar Tari Ayu Bulan, dipimpin maestro tari Bali, Anak Agung Ayu Bulantrisna Djelantik, yang juga dokter spesialis THT kelahiran Deventer, disertai beberapa penari profesional di antaranya Ni Ketut Putri Minangsari, Putu Evie Suyadnyani, dan Ida Bagus Gede Surya Peradantha.

Selama penyelenggaraan festival, tidak hanya tampil dengan sejumlah tarian Bali, namun juga memberikan ceramah, presentasi dan diskusi, serta workshop tari yang dengan antusias diikuti pengunjung.

Pada acara pembukaan Anne Marie Woerle, mewakili manajemen Museum Volkenkunde menyampaikan penghargaan atas inisiatif penyelenggaraan festival yang memperkaya khasanah seni-budaya yang disajikan di Museum Volkenkunde, salah satu museum yang memiliki koleksi tentang Indonesia cukup banyak.

Dubes RI Den Haag, I Gusti Agung Wesaka Puja, menyatakan kegembiraannya melihat antusiasme masyarakat Belanda yang bergabung dalam berbagai kegiatan Festival Sangasari.

Sebagai dubes yang berasal dari Bali, ia merasakan tari Bali merupakan sesuatu yang melekat dalam kehidupannya. Meskipun ketika masih kecil merasa terpaksa atau seperti mendapat hukuman dengan disuruh berlatih menari oleh sang kakek, namun kini ia merasa beruntung dapat mengapresiasi nilai seni yang luar biasa, ujar Dubes Puja.

Acara pembukaan ditandai dengan penampilan Gamelan Baleganjur oleh Banjar Suka-Duka, salah satu kelompok seni budaya Bali yang cukup aktif di Belanda. Gamelan Baleganjur yang dahulunya berfungsi sebagai pengiring upacara atau pawai adat dan acara keagamaan, kini memiliki fungsi yang lebih umum.

Serangkaian workshop, baik berupa latihan tari, maupun berbagai bentuk kerajinan tangan khas Bali, serta pemutaran film dokumenter, memberikan pilihan bagi pengunjung festival untuk memilih sesuai minatnya.

Arjanti dari Dwibhumi, mengatakan semula pengunjung hanya tertarik menghadiri festival menyaksikan pertunjukan tari Bali, namun dengan adanya berbagai pilihan workhshop sebagian besar pengunjung pun kembali hadir untuk mengikuti beberapa workshop lain.

Festival diakhiri dengan penampilan serangkaian tarian Bali yang sangat memukau, yaitu Sangasari, yang merupakan kompilasi sembilan macam tarian yang tercatat dalam inskripsi UNESCO, Tari Topeng Tua, Puspa Mekar yang merupakan ciptaan Guruh Soekarnoputra, Jauk Keras, Legong Kupu-kupu Tarum, dan Topeng Sitayana. Tarian diiringi gamelan yang dimainkan Sekar Alit, pimpinan Henry Nagelberg. (Ant)

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home