Loading...
RELIGI
Penulis: Dr. Martin Lukito Sinaga 14:00 WIB | Rabu, 03 Juli 2013

Filsafat Terlalu Mendaku, Teologi Terlalu Kaku

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Pendakuan atau klaim filsafat bahwa ia berpikir utuh, dan rasa terbatas teologi karena ia mengurusi soal-soal iman yang partikular, perlu dipertanyakan ulang, demikian kesimpulan ceramah Nicholas Adams di Freedom Institute Senin (1/07) lalu. Pengajar di Universitas Edinburgh itu menegaskan bahwa pembagian tugas filsafat dan teologi di atas terasa kaku, dan bisa merugikan peri kehidupan agama-agama juga di Indonesia.

Menurut penulis buku “Habermas and Theology”  itu, pembagian tugas tadi mengecoh, seolah filsafat bekerja dengan rasio dan teologi melulu bersandar pada iman. Memang sejak Immanuel Kant sudah pula diusulkan pembagian tugas yang bermasalah ini; Kant menegaskan bahwa teologi bekerja menafsir Kitab Suci dan menjembatani makna wahyu untuk manusia kini, sementara filsafat memikirkan hal-ihwal yang universal, utuh lalu memerikan mana yang niscaya dan menyeluruh.

“Pembagian tugas itu memojokkan teologi dan agama menjadi atom-atom yang beredar sendirian di kancah kehidupan. Sementara filsafat mengklaim bisa memberi kerangka hidup bersama yang tidak parsial dan berdaya guna,” katanya di hadapan sekitar 40 peserta yang kebanyakan adalah mahasiswa dan pegiat filsafat dan teologi tersebut.

Dengan simpatik Nicholas Adams juga membaca Pancasila dalam kerangka pembagian tugas di atas. Menurut editor buku-buku “Seri Filsafat Cambridge” ini, Pancasila umumnya dilihat sebagai kerangka universal yang di bawah payungnya agama-agama diminta menyesuaikan diri. Cara penyesuaiannya ialah dengan menerjemahkan apa-apa yang cocok bagi Pancasila, namun agama tidak boleh mendaku sebagai yang menyeluruh.

Pancasila adalah kerangka rasional hidup bernegara, yang di dalamnya Islam, Kristen, dan agama-agama lainnya secara partikular memberi masukan berdasarkan imannya yang partikular. Menurut Adams, pendekatan seperti ini juga mirip dengan usulan filsuf Jerman Habermas dan intelektual Amerika Rawls sebagai solusi bernegara di tengah konteks kemajemukan agama dan kepercayaan. “Bhinneka Tunggal Ika memang dekat dengan gagasan Habermas dan Rawls,” katanya sambil memohon dikoreksi kalau kurang jitu karena ia bukan ahli Indonesia.

Nalar Kontekstual   

Adams ingin agar pembagian tugas yang ketat ini dilonggarkan, sebab agama-agama tidak hidup sebagai atom-atom dan tidak bekerja secara parsial. Teologi yang hidup di masing-masing agama itu sesungguhnya sudah bersenyawa satu dengan lainnya, dan secara bernalar memperkaya diri satu dengan lainnya.

Teologi tidak bekerja secara insular, tetapi terus-menerus membuka diri, melintas batas dan bahkan tumbuh inklusif bersama kebudayaan orang Indonesia. Sementara filsafat sesungguhnya tidak bekerja secara utuh, sebab ia bekerja juga dengan ambiguitas, paradoks dan hanya secara terbatas memecahkan masalah.

“Filsafat Kritis Habermas tidak universal, ia sebentuk tanggapan terhadap merebaknya kapitalisme di Eropa. Dan cogito ergo sumnya Descartes hanya bisa dipahami dalam latarbelakang perang-perang agama selama 30 tahun di Eropa!,” ujarnya.

Bagi Adams, filsafat dan agama sesunggguhnya bekerja dalam nalar kontekstual. Filsafat tak boleh meluaskan skala pendakuannya, dan teologi tak perlu kaku membatasi diri pada urusan iman semata. Tradisi teologi telah tumbuh secara kontekstual, dan hidup kekristenan di Indonesia saat ini sesungguhnya ditentukan oleh tetangganya yang Muslim. Hal ini menurut Adams perlu disadari agar komunitas-komunitas agama bisa bertumbuh bersama dan saling bersinggungan, jauh dari tuduhan bahwa agama adalah atom-atom yang berjauhan satu dengan lainnya.

 

Editor: Trisno S. Sutanto


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home