Loading...
RELIGI
Penulis: Equivalent Pangasi 15:00 WIB | Jumat, 25 April 2014

Gereja Orthodox: Tidak Pernah Ada Ikonografi Allah

Pendiri dan Ketua Umum Gereja Orthodox Indonesia Arkhimandrit Dr Daniel Byantoro memaparkan sejarah Ikonografi dalam tradisi Gereja Orthodox dalam Seminar Ikonografi di Gedung Pusat Alkitab-LAI, Kamis (24/4). (Foto: Equivalent Pangasi)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Arkhimandrit Dr Daniel Byantoro (Pendiri dan Ketua Umum Gereja Orthodox Indonesia) mengatakan tradisi ikonografi dalam Gereja Orthodox tidak pernah membuat ikonografi Allah. Karena, Allah tidak dapat digambarkan dalam lukisan maupun dalam patung.

Byantoro menyampaikan pernyataan tersebut sebagai pengantar materi “Sejarah dan Makna Ikon dalam Gereja Orthodox” pada Seminar Ikonografi yang diselenggarakan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), Kamis (24/4) di Gedung Pusat Alkitab-LAI, Jakarta Pusat.

Dalam pemaparannya, Byantoro menegaskan bahwa ikon yang dimaksud dalam tradisi Gereja Orthodox Timur adalah dalam bentuk gambar-gambar dan bukan patung. “Sampai sekarang pun Gereja Orthodox melarang penggunaan patung dalam gereja. Bahkan gambar atau ikon pun dilarang melukiskan Allah, sebab Allah tak dapat dilukis atau dipatungkan,” katanya.

Byantoro memaparkan, “Gereja Orthodox memaknai Pribadi Kristus pada Konsili Ekumenis VII tahun 787 Masehi dengan memusatkannya pada ikon-ikon kudus, yaitu gambar-gambar Kristus, Theotokos yang mencakup Bunda Allah dan Sang Firman, dan para Orang Kudus.”

Lebih lanjut, Byantoro mengungkapkan tiga hal penting mengenai keberadaan ikonografi dalam tradisi Gereja Orthodox.

Ikon, Bagian Pengajaran Gereja

Mengutip pernyataan Leontius dari Neapolis, Byantoro hendak mengatakan bahwa ikonografi adalah bagian tak terpisahkan dari pengajaran gereja.

Ia mengatakan, “menurut Leontius, ikon-ikon adalah buku-buku terbuka untuk mengingatkan kita akan Allah.”

“Berdasarkan hal itu, ikon-ikon menjadi salah satu sarana yang digunakan gereja untuk mengajarkan iman. Orang yang kurang dalam pengajaran dan kekurangan waktu untuk memelajari karya-karya teologi cukup hanya masuk gereja untuk melihat yang terpampang pada tembok-tembok, yaitu semua misteri dalam agama Kristen,” Byantoro menambahkan.

Makna Doktrinal Ikon

Byantoro memaparkan inti dari pertikaian Ikonoklasme (gerakan penghancuran ikon) antara ikonoklastis (kaum penghancur ikon) dengan ikonodoulia (kaum penghormat ikon), yaitu apakah ikon merupakan sesuatu yang diperbolehkan atau diharuskan serta mengenai sifat ikon.

Mengenai hal tersebut, Byantoro mengatakan, “ para pendukung ikonodoulia menyatakan ikon memiliki sifat hakiki karena ikon-ikon menjaga aman suatu doktrin Inkarnasi yang penuh dan layak. Inkarnasi telah membuat seni agamawi menjadi mungkin.”

Ikonografi Bukan Berhala

Sejarah panjang kekristenan dalam berbagai tradisi dan denominasi turut diwarnai perdebatan mengenai ikonografi yang dianggap sebagai bentuk berhala.

Menanggapi hal tersebut, Byantoro mengatakan, “jika seorang Kristen Orthodox mencium ikon-ikon atau bersujud di hadapannya, ia tidak sedang melakukan penyembahan berhala. Ikon bukanlah berhala, melainkan suatu simbol.”

Argumentasi tersebut disampaikannya dengan kembali mengutip pernyataan Leontius yang mengatakan, “kita tidak bersujud kepada kodrat si kayu, tetapi kita menghormati dan bersujud kepada Dia yang disalibkan di atas Salib.”

“Penghormatan yang ditunjukkan kepada gambar-gambar tersebut bukanlah ditujukan kepada kayu atau cat, melainkan kepada pribadi yang digambarkan. Jadi umat Orthodox tidak menyembah ikon melainkan menghormati pribadi yang disimbolkan dalam ikon,” pungkasnya.

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home