Loading...
EKONOMI
Penulis: Melki Pangaribuan 17:13 WIB | Selasa, 08 Maret 2016

GINSI Dukung Pemerintah RI Boikot Produk Israel

GINSI Dukung Pemerintah RI Boikot Produk Israel
Jeruk Jaffa, salah satu produk Israel yang berasal dari daerah pendudukan. (Foto: huffingtonpost/gettyimages)
GINSI Dukung Pemerintah RI Boikot Produk Israel
Achmad Ridwan Tento, Sekretaris Jenderal Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI). (Foto: Dok. Pribadi)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Achmad Ridwan Tento, Sekretaris Jenderal Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI), mendukung Pemerintah Republik Indonesia untuk memboikot produk Israel sebagaimana disepakati dalam “Deklarasi Jakarta” hasil Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa Organisasi Kerjasama Islam (KTT LB OKI) di Jakarta kemarin.

“Kalau pak Presiden (Joko Widodo) demikian (memboikot produk Israel), GINSI setuju dan mendukung pemerintah Republik Indonesia,” kata Ridwan kepada satuharapan.com, yang dihubungi hari Selasa (8/3) sore.

Menurut Ridwan, sejauh ini GINSI belum mengetahui produk-produk Israel yang beredar di Indonesia. Dia tidak ingin berspekulasi produk-produk Israel yang beredar di Indonesia apakah menggunakan merek tertentu. Namun dia menegaskan bahwa GINSI berani memboikot produk Israel seperti pada waktu memboikot produk-produk Australia tahun lalu.

Saat itu, kata Ridwan, warga Australia mau memboikot produk-produk Indonesia untuk menentang hukuman mati terpidana kasus narkoba yang melibatkan warga Australia. GINSI saat itu juga dengan berani memboikot produk-produk Australia.

“Dari GINSI waktu itu mengeluarkan pernyataan juga untuk memboikot barang Australia: ‘GINSI memboikot barang dari Australia’,” katanya.

“Berani kita, enggak ada masalah. Kita mendukung pemerintahlah,” dia menegaskan.

Deklarasi Jakarta

Sebelumnya, Presiden RI, Joko Widodo dalam KTT LB OKI menyerukan agar negara-negara anggota memboikot produk Israel yang diproduksi di wilayah pendudukan. Seruan itu juga tertuang dalam salah satu butir deklarasi.

Imbauan tersebut tercantum dalam poin 16 "Deklarasi Jakarta", salah satu dokumen hasil KTT LB OKI yang berlangsung di Jakarta, mulai dari Minggu (6/3) sampai dengan Senin (7/3).

Negara-negara anggota OKI sejak dua hingga tiga tahun lalu menyerukan boikot berbagai produk Israel terutama pertanian dan perkebunan, namun di sejumlah negara seruan boikot itu mendapat reaksi yang beragam.

Dampak dari aturan ini di Indonesia belum jelas  mengingat tidak ada data  berapa banyak produk Israel yang beredar di Tanah Air. Apalagi Indonesia dan Israel tidak memiliki hubungan diplomatik.

Namun, gambaran tentang produk-produk yang masuk dalam kategori boikot, dapat diketahui dengan mengacu kepada daftar produk yang dikeluarkan oleh Boycott, Divestment and Sanction (BDS) Movement, sebuah organisasi nirlaba internasional yang gencar mengampanyekan boikot terhadap Israel.

Menurut lembaga ini, sebagian besar produk-produk yang diboikot itu adalah produk pertanian, kosmetik serta produk makanan dan minuman.

Berikut ini beberapa di antaranya:

  • Medjoul Dates. Ini adalah cemilan populer yang hampir semuanya secara eksklusif diproduki dan berasal dari wilayah-wilayah pendudukan di Tepi Barat. Belum ada data apakah produk ini dijual di Indonesia. Di Inggris produk ini dengan mudah ditemukan di supermarket.
  • Jeruk Jaffa. Ini adalah serangkaian jenis jeruk yang terutama dibudidayakan di Timur Tengah, yang secara tradisional ditanam oleh para petani Palestina di kota Jaffa.Jeruk Jaffa belakangan ini menjadi simbol negara Israel. Israel kini menjadi salah satu eksportir jeruk ke Uni Eropa.
  • Air Mineral Eden. Air mineral ini banyak diekspor ke negara-negara Eropa. Sumber airnya berasal dari Dataran Tinggi Golan.
  • Produk Kosmetik Ahava. Produk ini menggunakan sumber daya alam dari wilayah pendudukan. Menurut stolenbeauty.org, produk Ahava bersembunyi dibalik kata-kata 'made in Israel' tetapi diproduksi di wilayah pendudukan.
  • Anggur dari Golan dan berbagai jenis anggur produk Israel lainnya.

Menurut BDS, tiap individu konsumen dapat menunjukkan penentangan mereka terhadap pendudukan Israel dengan berpartisipasi dalam boikot produk  Israel,  atau perusahaan internasional yang terlibat dalam kebijakan Israel dalam melakukan pelanggaran HAM.

Ditambahkan, boikot dapat bekerja dengan dua cara. Pertama, menghasilkan kesadaran masyarakat tentang pelanggaran Israel,  serta dukungan internasional untuk itu, dan kedua, menerapkan tekanan ekonomi untuk terjadinya perubahan.

Selain menyerukan boikot produk, BDS menyerukan boikot akademis dan kultural. Mereka mencanangkan gerakan untuk memboikot seluruh institusi akademis dan kultural Israel sebelum mereka menarik diri dari daerah pendudukan, termasuk dari Yerusalem Timur.

Seperti diberitakan Huffingtonpost, aksi boikot belum begitu ampuh memberikan tekanan. Apalagi sejumlah negara menentang aksi boikot seperti Amerika Serikat.

Bulan lalu, Kongres mengesahkan undang-undang yang disebut Trade Facilitation and Trade Enforcement Act of 2015. Undang undang ini meliputi ketentuan yang dirancang untuk menentang boikot dan perang ekonomi seperti yang ditujukan kepada Israel.

Meskipun Presiden Barack Obama menyatakan keberatan pada bagian yang menyatakan menentang boikot terhadap perusahaan Israel, ia akhirnya menandatangani Undang-Undang ini.

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home