Loading...
EDITORIAL
Penulis: Redaksi Editorial 09:54 WIB | Senin, 02 Desember 2013

Hadapi HIV/AIDS, Hapus Stigma dan Diskriminasi

Tanpa diskrimimasi.

SATUHARAPAN.COM – Masalah global yang kita hadapi sekarang antara lain adalah tentang HIV/AIDS, penyakit yang di dekade terakhir ini banyak ditularkan melalui hubungan seks dan penggunaan jarum suntik pada  kelompok kecanduan narkotika.

Meskipun hal ini meruakan masalah kesehatan, persoalannya tidak terbatas pada ranah medis saja. Justru sebaliknya, hambatan yang membuat capaian aspek medis tidak maksimal adalah hal-hal yang non medis.

Secara global ada kemajuan dalam melawan penyebaran HIV/AIDS, jumlah infeksi, khususnya pada anak-anak menurun, angka kematian juga menurun. Namun demikian masalah HIV/AIDS masih merupakan masalah yang besar. Indonesia sendiri masih menghadapai masalah ini dan harus bekerja keras.

Non Medis

Belum maksimalnya capaian untuk mengatasi problem kesehatan ini  justru karena aspek non medis, yaitu soal stigma dan diskriminasi yang masih terus terjadi terhadap mereka yang hidup dengan virus tersebut.

Masih ada stigma bahwa HIV /AIDS adalah penyakit pada mereka yang “kurang bermoral” karena tertular melalui hubungan seks, dan para pecandu narkotika. Akibatnya mereka dijauhi, dan penyebarannya makin tidak terkontrol. Namun sekarang kita melihat kenyataan tentang ibu rumah tangga dan anak yang tertular dari ibu sejak di kandungan. Apakah kita bisa menyebutkan sebagai masalah moral?

Belakangan juga ada sikap bahwa membagikan kondom, meskipun untuk mencegah HIV /AIDS sebagai tindakan yang tidak dibenarkan. Sementara secara global, pemakaian kondom justru dinilai, sejauh ini, sebagai yang paling efektif.

Masalah stigma, diskriminasi dan berbagai pandangan merupakan hal yang serius dalam melawan HIV AIDS. Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) bahkan menekankan agar masyarakat internasional bekerja lebih keras mengakhiri stigma, dan diskriminasi untuk menghentikan infeksi HIV baru di kalangan anak-anak, dan untuk menjamin akses ke perawatan dan pengobatan bagi semua orang yang membutuhkan.

Pengalaman Pahit

Diyakini bahwa jika masalah stigma dan diskriminasi ini tidak dihentikan justru penyebaran penyakit ini akan meluas secara diam-diam. Kita harus ingat bahwa isu menghentikan stigma dan diskriminasi ini dimulai dengan pengalaman pahit.

Sebagai contoh, di tahun 1990-an ketika awal virus HIV ditemukan, perlakukan diskriminasi terjadi pada mereka yang mengidap HIV. Di Thailand, misalnya, mereka dikejar dan ditangkap, sehingga banyak yang sembunyi di pedesaan. Lima tahun kemudian negeri itu kaget ketika ternyata HIV/AIDS menyebar begitu luas di desa-desa dan bahkan menginfeksi ibu rumah tangga.

Badan PBB untuk memberantas AIDS (UNAIDS) dengan tegas mengatakan bahwa menghapus stigma dan diskriminasi mutlak diperlukan untuk mengakhiri  epidemi ini.

Bercermin dari hal ini, HIV/AIDS bukan sekadar masalah medis, dan harus dihadapi dengan perubahan pada perilaku manusia. Mereka yang mengidap harus dibantu untuk menjalani hidup dengan produktif. Mereka yang rentan harus didamping untuk mengurangi dan menghapuskan faktor risiko. Akses perawatan harus dibuka tanpa diskriminasi.

Sekarang telah banyak orang dengan HIV yang mau terbuka dan mendampingi sesamanya, berbagi pengalaman dan saling membantu untuk mencegah. Justru sekarang yang diperlukan adalah sikap masyarakat umum yang harus mau berubah untuk melihat HIV/AIDS ini sebagai masalah serius dan masalah bersama.


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home