Loading...
EKONOMI
Penulis: Prasasta Widiadi 08:36 WIB | Sabtu, 10 Januari 2015

Investor Asing Beri Sentimen Positif Pemerintahan Baru

Investor Asing Beri Sentimen Positif Pemerintahan Baru
Lobi Gedung A Direktorat Jenderal Pajak. (Foto-foto: Prasasta Widiadi).
Investor Asing Beri Sentimen Positif Pemerintahan Baru
Menteri Keuangan, Bambang Brodjonegoro beberapa saat setelah meninggalkan Gedung A Direktorat Jenderal Pajak menuju Gedung DPR RI.

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Penanam modal (investor) asing memberi sinyal positif bagi perekonomian Indonesia. Optimisme terhadap pemerintahan baru membuat investor asing berbondong-bondong menanamkan modal ke Indonesia.

“Investor asing memberikan sentimen positif terhadap pemerintahan baru. Jadi, sentimen positif ini masih muncul dan tentunya harus kita pertahankan,” kata Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro saat melakukan dialog dengan para pewarta di Gedung Direktorat Jenderal Pajak, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (9/1).  

Bambang menjelaskan ketertarikan investor asing itu ditunjukkan dengan kelebihan permintaan dari Surat Utang Negara (SUN) berdenominasi dollar AS atau global bonds yang dikeluarkan Kementerian Keuangan (oversubscribed).

Bambang pun antusias. Dia mengatakan, ini untuk pertama kalinya pemerintah yang dipimpin Presiden Joko Widodo mengeluarkan surat utang negara.

Bambang mengatakan, Kementerian Keuangan sedianya mengeluarkan global bonds senilai 4 miliar dollar AS. Sementara itu, penawaran yang masuk ternyata mencapai 19,3 dollar AS.

“Artinya oversubscribed sebanyak 4,8 kali lipat. Ini pertanda bagus,” ujar Bambang.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, Robert Pakpahan, dalam siaran pers yang diterima satuharapan.com, Jumat (9/1), menjelaskan global bond atau Surat Utang Negara (SUN) yang diterbitkan adalah seri RI0125 dan RI0145. Nominal yang diterbitkan untuk masing-masing obligasi tersebut sebesar 2 miliar dolar Amerika Serikat (AS).

“Transaksi ini merupakan bagian dari program Global Medium Term Notes (GMTN) Republik Indonesia sebesar 30 miliar dolar AS," kata Robert Pakpahan. 

Menurutnya, imbal hasil atau yield kedua obligasi valas tersebut  30 basis poin lebih ketat dari patokan harga awal, yaitu 4,5 persen untuk tenor 10 tahun dan 5,5 persen untuk tenor 30 tahun. Sementara untuk total penawaran yang masuk untuk kedua varian obligasi tersebut mencapai 19,3 miliar dolar AS.

"Sehingga terdapat oversubscription (kelebihan permintaan) sebesar 4,8 kali. Total penawaran ini merupakan penawaran terbesar yang pernah dicapai pemerintah untuk transaksi penjualan SUN dalam valuta asing berdenominasi dolar AS," Robert menjelaskan.

Robert memerinci bahwa GMTN didistribusikan untuk beberapa kawasan antara lain 48 persen untuk investor AS, 24 persen untuk investor Eropa, 15 persen untuk investor Asia, dan 13 persen untuk investor di Indonesia.

Sedangkan distribusi untuk seri RI0145, lanjut Robert Pakpahan, sebesar 53 persen untuk investor AS, 23 persen untuk investor Eropa, 20 persen untuk investor Asia, dan 4 persen untuk investor di Indonesia.

Bambang yang merupakan mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal ini memastikan, pemerintah tidak akan berhenti mencari pinjaman dari luar negeri untuk mendanai program-program pembangunan yang sudah disusun.

“Kami akan menerbitkan lagi surat utang dalam mata uang dolar dan rupiah pada semester I. Nanti untuk denominasi euro dan yen bisa dilakukan semester II,” kata Bambang.

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home