Loading...
EKONOMI
Penulis: Diah Anggraeni Retnaningrum 10:46 WIB | Kamis, 19 Maret 2015

Kadin: Perkuat Cadangan Devisa Cegah "Spekulan" Rupiah

Ilustrasi uang. (Foto: istimewa)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Suryo Bambang Sulisto mengatakan pemerintah harus memperkuat cadangan devisa untuk mencegah para spekulan di pasar valuta asing yang memanfaatkan kondisi pelemahan nilai tukar rupiah.

"Tetapi harus disadari bahwa satu-satunya cara untuk menempatkan negara dalam posisi yang kokoh dan tegar agar tidak bisa dipermainkan atau dikerjain oleh para spekulan adalah dengan memperkuat cadangan devisa kita," kata Suryo Bambang Sulisto di Jakarta, Kamis (19/3).

Upaya tersebut, lanjutnya, wajib hukumnya agar bisa mencegah dan tidak akan ada yang berani berspekulasi menyerang mata uang rupiah.

Suryo menilai kebijakan pemerintah yang sudah mengeluarkan 8 kebijakan untuk meredam dampak pelemahan nilai tukar rupiah itu sudah bagus.

Ia mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah berdampak kepada para importir maupun pengusaha yang mempunyai pinjaman dalam valuta asing.

"Pelemahan nilai tukar rupiah berdampak pada semua sektor dalam tingkat yg berbeda-beda tentunya. Yang paling parah adalah bagi para importir dan bagi pengusaha yang punya pinjaman dalam valuta asing," ujar Suryo.

Menurut Suryo, para pengusaha terutama di sektor perikanan dan kelautan yang tidak mempunyai pinjaman mata uang dolar tidak berdampak terhadap lini usaha mereka.

"Justru bagi pengusaha perikanan yang tidak punya pinjaman dolar, apalagi kalau dia eksportir. wah ini masa panen raya seperti dapat durian runtuh, rezeki besar," ujar dia.

Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Berlebihan

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah saat ini memang sudah berlebihan di bawah level fundamentalnya (under value) yang disebabkan faktor eksternal dan juga internal.

"Kalau ditanya apakah pelemahannya sudah under value, memang iya. Mata uang kita melemahnya sebenarnya sudah berlebihan juga," ujar Mirza di Jakarta, Rabu (18/3).

Mirza menjelaskan, faktor eksternal yang membuat rupiah terdepresiasi yakni rencana kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika The Fed pada tahun ini.

Stimulus moneter sebesar 20 persen dari PDB Amerika atau 3,8 triliun dolar AS akan ditarik perlahan oleh bank sentral dengan menaikkan suku bunga.

"Saat ini suku bunganya 0,25 persen. Dalam tiga tahun ke depan akan naik 2,5-3 persen, sementara itu suku bunga Eropa negatif, Jepang hanya nol koma sekian, China juga turun. AS ekonominya meningkat sendiri," kata Mirza.

Di samping akibat menguatnya ekonomi AS, pelemahan rupiah juga disebabkan faktor fundamental Indonesia sendiri di mana permintaan terhadap dolar AS melebihi suplai.

Pada Rabu (18/3) sore nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, bergerak menguat sebesar 30 poin menjadi Rp 13.150 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp 13.180 per dolar AS. (Ant)

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home