Loading...
INSPIRASI
Penulis: Hananto Kusumo 01:00 WIB | Minggu, 24 Agustus 2014

Lawanku Kawanku

Dengan beralih dari ”memikirkan diri sendiri” ke ”memikirkan orang lain”, terpancarlah ”persahabatan” melalui pengampunan dan kasih kepada ”lawan”.
Foto: istimewa

SATUHARAPAN.COM -  Kalau ada yang berpandangan bahwa ungkapan ”Lawanku kawanku” terlalu bombastis, maka ia perlu dijelaskan bahwa ungkapan itu pun sudah merupakan ”eufemisme”, penghalusan kata. Karena ungkapan yang lebih tepat ialah ”Lawanku Sahabatku”! Itu tersirat dari kata-kata Capres RI Terpilih 2014, Joko Widodo (Jokowi), ketika menjawab pertanyaan wartawan soal rekonsiliasi saat konferensi pers mereka pasca pengumuman keputusan MK atas gugatan kubu Prabowo-Hatta. Jokowi menjawab, ”.... Pak Prabowo - Pak Hatta itu sahabat baik kami. Saya - Pak JK ini sangat bersahabat dengan Pak Prabowo - Pak Hatta.... Tidak ada masalah, kita ini sahabat, dan sahabat yang baik.

Dalam kesempatan itu tak sedikit pun tampak sikap permusuhan atau dendam Jokowi karena pernah diserang melalui pelbagai kampanye negatif. Jokowi justru memandang lawan politiknya dalam pilpres itu sebagai sahabat.

Jokowi bukan orang pertama yang bersikap seperti itu. Sikap mengasihi lawan itu jamak dijumpai dalam kehidupan para nabi, tokoh agama, serta negarawan. Raja yang paling diagungkan orang Yahudi, yaitu Daud, menunjukkan kenegarawanannya terhadap Saul, yang sekalipun pernah ditolongnya, berniat membunuhnya. Daud justru membalasnya dengan berbuat baik. Bahkan Yonatan, anak Saul, merupakan sahabat terdekatnya. 

Sikap bersahabat terhadap para lawan yang menghina juga diperlihatkan oleh Sidharta Gautama, Konfusius, Stefanus, hingga Muhammad. Demikian pula Abraham Lincoln, Mahatma Gandhi, hingga Nelson Mandela. Mereka ini telah memiliki roh kenegarawanan dan keillahian, yakni kasih.

Yesus juga dengan tegas mengajarkan: ”Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”  (Mat. 5:44). Yesus bukan hanya mengajar, melainkan juga menjalankannya sepanjang hidup sebagai manusia. Apa rahasianya untuk dapat melakukannya? Karena hatinya tertuju kepada sesama manusia! Karena Yesus memperhatikan mereka, maka Yesus memahami beban atau alasan yang membuat mereka berlaku tidak wajar. Yesus berkata, ”Ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat!” (Luk. 23:34a).

Mungkin Jokowi telah memandang Prabowo-Hatta sebagai sahabat karena dengan kehadiran merekalah Jokowi-JK punya rival yang kuat yang mendorong mereka menyiapkan program-program terbaik bagi rakyat. Mungkin juga ia bersikap begitu karena memahami beban psikologis penyebab sikap-sikap mereka. Yang jelas, dengan beralih dari ”memikirkan diri sendiri” ke ”memikirkan orang lain”, maka terpancarlah ”persahabatan” melalui pengampunan dan kasih kepada ”lawan”.

Ya, lawanku sesungguhnya kawanku!

 

Editor: ymindrasmoro

Email: insprasi@satuharapan.com


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home