Loading...
BUDAYA
Penulis: Fung Siauw 00:00 WIB | Rabu, 20 Maret 2013

Lokananta, Riwayatmu Kini

Lokananta, Riwayatmu Kini
Papan nama studio Lokananta yang berada di bawah naungan Perum Percetakan Negara RI dibangun tahun 1956. (dok. Solopos)
Lokananta, Riwayatmu Kini
Tampak depan gedung studio rekaman Lokananta di Jl. Ahmad Yani No. 39, Solo, Jawa Tengah. (dok. Solopos)
Lokananta, Riwayatmu Kini
Piringan hitam Pidato Presiden pertama RI, Soekarno yang menjadi bukti sejarah bangsa Indonesia. (dok. Solopos)
Lokananta, Riwayatmu Kini

Bukan bermaksud menggurui, tetapi faktanya, justru banyak yang bermanfaat dari kekayaan masa lalu. Selain sarat menyimpan sejarah, harta masa lalu merupakan guru bagi generasi muda untuk menapak ke masa depan yang lebih terarah.

Pemandangan inilah yang tersirat pada Lokananta. Gedung studio rekaman pertama dan tertua di Indonesia yang masih berdiri kokoh hingga saat ini di kota Solo, Jawa Tengah.  

Gedung Lokananta yang terletak di bilangan Ahmad Yani, Kota Solo ini menyimpan begitu banyak sejarah. Lagu "Rasa Sayange" yang begitu populer di Tanah Air bahkan pernah diklaim sebagai milik negara tetangga, Malaysia, terbukti ditemukan piringan hitamnya di studio ini. 

Tidak hanya Rasa Sayange, lagu Terang Bulan juga ditemukan di studio ini. Titik, salah seorang petugas studio menemukan piringan hitam dua lagu ini dalam keadaan sudah berjamur dan kurang terawat. 

Namun yang patut disyukuri kini adalah perhatian masyarakat Indonesia yang sudah mulai teralih kembali kepada kekayaan yang dimiliki Lokananta. Terutama kalangan para musisi Indonesia, yang mulai melakukan proses rekaman di studio bersejarah ini. Solois pria, Glenn Fredly bersama Bakuucakar, kemudian grup musik indie seperti White Shoes and The Couples Company serta Efek Rumah Kaca adalah beberapa musisi diantaranya.

Lebih dari empat puluh ribu piringan hitam musik tradisional seluruh Indonesia, rekaman lagu para musisi- musisi seperti Gesang, Titik Puspa, Ismail Marzuki, Bubi Chen, Jack Lesmana, Bing Slamet, Idris Sardi adalah nama-nama seniman yang karyanya masih tersimpan di dalam Lokananta. Masih ada pula ribuan master rekaman dari berbagai genre mulai dari pop, kroncong, jazz, mulai dari era tahun 50-an sampai 80-an.

Tidak hanya rekaman lagu, rekaman pidato Presiden pertama RI, Soekarno juga masih disimpan di sini. Di bagian gedung baru Lokananta, kita semua bisa melihat adanya sentuhan  generasi masa kini yang modern. Salah satu buktinya adalah ketersediaan komputer dan alat-alat canggih yang mengisi ruangan. 

Gedung bersejarah yang sempat mati suri selama satu dekade dari 1996 hingga 2006 lalu ini tidak bisa dimungkiri bahwa ia telah menjadi saksi bisu perkembangan musik Indonesia dari waktu ke waktu, bahkan hingga saat ini, ketika musik Indonesia terseok-seok meraih masa kejayaannya kembali.

Memang tidak terlihat perubahan yang signifikan pada aset sejarah yg satu ini, namun jika beberapa komunitas pemuda di perfilman boleh mengatakan 'sejarah adalah sekarang', mengapa tidak demikian pada dunia musik?

 

 

 

Editor : KP3


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home