Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 02:41 WIB | Minggu, 16 September 2018

Membangun Pengalaman Antar Budaya Melalui Asia Tri

Membangun Pengalaman Antar Budaya Melalui Asia Tri
Penampilan solo Miho Ryu (Jepang) pada Asia Tri 2018 di Omah Petroek, Jumat (14/9) malam. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Membangun Pengalaman Antar Budaya Melalui Asia Tri
Repertoar "Reflection" oleh Kiki Rahmatika.
Membangun Pengalaman Antar Budaya Melalui Asia Tri
Kolaborasi Kinanti Sekar dan Kaguya Nakamura (baju putih) pada repertoar "Two Moons".
Membangun Pengalaman Antar Budaya Melalui Asia Tri
Repertoar Bambona dan Mitos Tambang oleh Indonesia Perfromance Syndicate (Padang Panjang).

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Asia Tri, sebuah festival seni pertunjukan yang diprakarsai oleh artis dari tiga negara: Korea Selatan, Jepang, dan Indonesia (Yogyakarta) kembali digelar selama dua hari (13-14 September) di Omah Petroek, Karangklethak Wonorejo, Hargobinangun-Sleman. Para seniman yang memprakarsai adalah Yang Hye Jin dari Korea Selatan, Soga Masaru dari Jepang, dan Bambang Paningron dan Bimo Wiwohatmo dari Indonesia (Yogyakarta). 

Asia Tri pertama kali diadakan pada tahun 2005 di Seoul, Korea Selatan, disusul oleh Yogyakarta pada tahun 2006. Meskipun diprakarsai oleh tiga negara, Asia Tri terbuka bagi artis-artis dari negara manapun tanpa memandang latar belakang suku, ras, dan agama. Sebelumnya, telah banyak juga artis-artis dari berbagai negara yang datang dan turut meramaikan festival ini seperti: Belanda, Australia, Jerman, Austria, Libanon, Prancis, dan Italia.

Hari kedua perhelatan Asia Tri 2018 di Omah Petroek, Karangklethak Wonorejo, Hargobinangun-Sleman, Jumat (14/9) malam menampilkan sebelas perform baik dari performer asal Yogyakarta, luar Yogyakarta, maupun manca negara. Asia Tri yang telah dihelat untuk keempat belas kalinya, pada tahun ini dalam dua hari menampilkan dua puluh satu perform.

Diawali dengan penampilan Sanggar Purwa Kencana yang memainkan gamelan, Kazco Takemoto dan kolaborasi Kinanti Sekar-Kaguya Nakamura melanjutkan dengan memainkan dua repertoar secara berurutan berjudul "Two Moons". Kinanti Sekar Rahina adalah koreografer muda asal Yogyakarta yang produktif menghasilkan karya-karya menggabungkan unsur tradisi dan modern dalam sebuah koreografi. 

Beberapa karya koreografi yang telah dihasilkan Kinanti Sekar antara lain “Donga Drupadi”, “Jampi Gugat”, “Air Mata Kunthi”, "Mitoni", "Pandonga". Pada penyelenggaraan Maliboro Night Festival 2016 dengan mengusung tema "Simphoni Indonesia Gelegar Nusantara", Kinanti Sekar bersama sanggarnya menampilkan rangkaian tari nusantara diawali penampilan tarian Seudati dari Atjeh. Sepuluh penari perempuan dalam iringan dua rebana menarikan Seudati dilanjutkan tari Sembah dari Lampung, dan tari Talempong dari Sumatera Barat. Rangkaian tari berikutnya  lima penari menarikan tarian Sunda dengan gerakan khas ketuk tilu yang menjadi dasar tari Jaipong dilanjutkan berturut-turut tarian Jawa, Bali, dan Kalimantan, dengan lima penari pada masing-masing jenis tarian. Tidak ketinggalan tari Pakarena dari Selayar, Sulawesi Selatan. Dalam iringan lagu Yamko Rambe, Kinanti Sekar membuat koreografi tarian Papua kreasi baru yang keseluruhan ditarikan oleh anak-anak.

Setelah penampilan "Two Moons" panggung Asia Tri hari kedua dilanjutkan dengan penampilan Potchanan Pantham yang menampilkan repertoar "Rian" tentang dua sisi mata uang dalam kehidupan manusia. Dua hari sebelumnya di panggung Jogja International Street Performance (JISP) 2018 Potchanan Pantham menampilkan repertoar yang berbeda dengan judul "Anantha" yang berkisah tentang siklus kehidupan mulai dari kelahiran hingga kematian.

Duo penari asal Jepang Neiro-Mutsumi mengulang repertoar "Paradise" yang pernah ditampilkan pada JISP 2018 dilanjutkan dengan penampilan repertoar berjudul "Reflection" oleh koreografer asal Yogyakarta Kiki Rahmatika.

Penampilan berikutnya berjudul "Uneri" oleh Yuko Kawamoto, sebuah repertoar yang terinspirasi dari kisah seorang anak yang menjadi korban tsunami pada tahun 2011. Repertoar "Uneri" pertama kali dipentaskan pada tahun 2014 di Tokyo kemudian ditampilkan di Kuala Lumpur (Malaysia), Barcelona, Vigo (Spanyol), Warsawa, Gdansk (Polandia) dan Xi'an (China).

Setelah repertoar "Uneri", koreografer Fetri Rachmawati menampilkan repertoar "Ditri" yang diangkat dari cerita  perempuan yang berperang dengan sebuah ideologi masyarakat Dayak Losarang-Indramayu. Di Desa Krimun Kecamatan Losarang-Indramayu terdapat sekelompok komunitas lokal yang mempercayai suatu ajaran bersama. Kelompok masyarakat adat ini biasa dikenal dengan sebutan Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu (SDHBBSI). Mereka membangun komunitas dengan berpegang teguh pada spiritualitas sebagai dasar pembentukan ajarannya. Tidak jarang pula  mereka menyebut kepercayaannya sebagai agama Jawa. Dalam repertoar "Ditri" diceritakan laki-laki dan perempuan dalam posisi yang setara, termasuk saat harus berangkat perang.

Tiga penampilan berikutnya adalah repertoar "Curtain Call" yang dibawakan secara solo oleh Miho Ryu (Jepang), Silvia Dewi-Konyel dengan karya koreografi berjudul "Tidak akan ada lagi sarang burung di atas pohon,  ikan ikan hidup di darat". Panggung Asia Tri 2018 ditutup dengan penampilan Indonesia Performance Syndicate (Padang Panjang) dalam sebuah repertoar berjudul "Baromban dan Mitos Tambang" dalam tiga bagian repertoar.

Forum Asia Tri Jogja memberikan ruang yang terbuka bagi para peserta untuk berkolaborasi, berdiskusi, membuat workshop, dan mengembangkan jejaring antar seniman yang hadir. Selain program-program pertunjukan, diselenggarakan juga sarasehan dan latihan bersama sehingga terbentuk intercultural experiences diantara para peserta.

Penyelenggaraan Asia Tri dan JISP 2018 menjadi dua event yang saling melengkapi dimana JISP bertujuan untuk menarik minat wisatawan sementara Asia Tri sebagai panggung untuk mempresentasikan karya-karya terbaru dari koreografer seluruh dunia.

 

Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home