Loading...
RELIGI
Penulis: Sabar Subekti 07:31 WIB | Jumat, 04 Desember 2020

Menag: Tidak Boleh Kalah dengan Kelompok Yang Melecehkan Agama

Menag: Tidak Boleh Kalah dengan Kelompok Yang Melecehkan Agama
Menteri Agama, Fachrul Razi. (Foto: dok. Ist.)
Menag: Tidak Boleh Kalah dengan Kelompok Yang Melecehkan Agama
Dr Ali Rashid Al Nuaimi. (Foto: dok. Ist.)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM-Menteri Agama, Fachrul Razi, mengatakan bahwa “Kita tidak boleh kalah dengan kelompok-kelompok yang melecehkan nilai-nilai luhur agama.”

Dalam sambutan pada webinar kerja sama Kementerian Agama dan Institute Leimena, hari Selasa (24/11), Razi mengatakan agama sering dipakai untuk menciptakan intoleransi dan memicu intoleransi dan tindakan ektrimisme lainnya.

Kelompok-kelompok ekstrimis di dunia, banyak menggunakan agama untuk semakin mengobarkan intoleransi, kebencian, dan permusuhan. Mereka bahkan mampu bekerja sama lintas batas negara, dan kesenjangan hubungan antar umat Muslim, Kristen, dan Yahudi, agama-agama besar keluarga Abrahamik inilah yang sering kali dimanfaatkan.

“Sudah saatnya kita melihat toleransi dan perdamaian lebih besar dari kita sendiri, lebih besar dari negara kita masing-masing. Sudah saatnya negara-negara dan bangsa-bangsa yang menghormati agama sebagai landasan toleransi, perdamaian, dan kemanusiaan, bekerja sama, agar agama kembali pada hakikatnya yang sejati dan terhormat.

Contoh UEA

Webinar dengan tema “Sebuah Narasi Baru Toleransi Keluarga Abrahamik dari Uni Emirat Arab” menghadirkan pembicara Dr. Ali Rashid Al Nuaimi (Anggota Dewan Nasional Federal Uni Emirat Arab, dan Ketua Umum World Council of Muslim Communities), Rabbi David Saperstein (Mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Kebebasan Beragama Internasional dan Anggota Dewan Penasehat Muslim-Yahudi, AJC), dan Pdt. Johnnie Moore (Presiden Congress of Christian Leaders dan Komisioner Komisi Kebebasan Beragama Internasional Amerika Serikat).

Dari Indonesia adalah Dr. Alwi Shihab (Senior Fellow Institut Leimena), Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin (Tenaga Ahli Utama Kantor Staff Kepresidenan RI dan Komisioner Komisi HAM Organisasi Kerjasama Islam (2012 - 2018), serta Drs. Jakob Tobing, MPA (Chairman Institut Leimena)

Menag mengatakan Indonesia dan Uni Emirat Arab (UEA) memiliki kedekatan dan kesamaan dalam komitmen dan modal sosial untuk toleransi beragama. “Saatnya kita keluar dari kungkungan stereotip negatif yang ditanamkan kelompok-kelompok anti-toleransi, anti - perdamaian, agar kita dapat saling belajar dan bekerja sama lintas bangsa, lintas negara, untuk membawa toleransi dan perdamaian bagi dunia,” katanya.

UEA, kata Razi, sebagai salah satu contoh negara maju dalam urusan ekonomi, teknologi dan kehidupan keagamaan. Kemajuannya dibangun dalam bingkai nilai-nilai moderasi, toleransi dan harmoni yang sangat baik.

UEA sedang membangun kompleks ibadah yang terdiri dari masjid, gereja, dan sinagog di ibu kota negara, pulau Al-Saadiyat, Abu Dhabi yang disebut sebagai “Abrahamic Family House.” Kompleks ini digunakan sebagai tempat beribadah dan juga berbagai kegiatan yang menekankan pada dialog antar agama.

Bukan Pilihan, tapi Keharusan

Sementara itu, Ali Rashid Al Nuaimi mengatakan bahwa UEA negara kecil, tetapi dibangun dengan visi keyakinan akan kemanusiaan. “Hidup berdampingan dalam perdamaian bukan lagi pilihan, tetapi keharusan,” katanya.

Dia memberi contoh bahwa pemimpin UEA, negara yang merdeka tahun 1971, pada tahun 1968 membangun rumah ibadah yang pertama adalah gereja, bukan masjid.

Dalam pemaparannya, Al Nuaimi mengatakan, “kami yakin bahwa Islam adalah agama damai, tetapi dibajak oleh terorisme untuk agenda kepentingan politik mereka sendiri. Kami akan merebut kembali sebagai agama damai.”  

Dia menjelaskan bahwa pendidikan dikembangkan untuk mempromosikan toleransi dan melawan ekstremisme. Hal itu dilihat sebagai investasi penting dan Islam membutuhkan hal itu. Dia menyebutkan bahwa UEA sangat berkomitmen tentang hal ini, sehingga ada Kementerian Tolerasi, yang memastikan adanya praktik toleransi dalam berbagai kehidupan.

Menag mengharapkan ke depan bisa dikembangkan kerja sama Indonesia dan UEA untuk pertukaran keahlian dan pengalaman, serta mempromosikan konsep dan nilai-nilai toleransi dan moderasi beragama.

“Kita juga harus terus mempromosikan kesadaran bersama tentang bahaya ideologi ekstremisme. Ideologi ekstrimisme adalah ancaman agama-agama Abrahamik dan bisa mengganggu tatanan perdamaian global,” kata Razi. 

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home