Loading...
HAM
Penulis: Dewasasri M Wardani 11:18 WIB | Rabu, 02 Juli 2014

PBB: Jatah Pangan 800 Ribu Pengungsi Afrika Dikurangi

Anak-anak Somalia yang menderita kelaparan akibat bencana kekeringan, dirawat di rumah sakit Mogadishu. (Foto voaindonesia.com)

JENEWA, SATUHARAPAN.COM - Jatah makanan untuk hampir 800.000 pengungsi di Afrika dikurangi hingga 60 persen, sehingga mengancam lebih banyak lagi kelaparan, kata Perserikatan Bangsa-Bangsa, Selasa (1/6).

Pengurangan pasokan tersebut "mengancam akan memperparah malnutrisi akut yang sudah tidak bisa diterima lagi, hambatan pertumbuhan, dan anemia, terutama di kalangan anak-anak," kata Badan Pangan Dunia (WFP) dan badan PBB untuk pengungsi (UNHCR) dalam pernyataan bersama.

Pemimpin kedua badan dunia itu berada di Jenewa, Swiss, untuk mengajukan permintaan mendesak kepada perwakilan pemerintah, agar mengalirkan lebih banyak bantuan demi membantu pengungsi Afrika.

"Sungguh tidak bisa diterima dalam situasi yang berlebih saat ini, pengungsi menghadapi kelaparan kronis," kata kepala UNHCR Antonio Guterres.

WFP membutuhkan dana 186 juta dolar AS hingga akhir tahun ini, untuk memulihkan pasokan penuh dan mencegah terjadinya pengurangan jatah makanan di mana pun, sementara UNHCR mengatakan perlu tambahan 39 juta dolar AS untuk mendanai pemberian nutrisi tambahan bagi pengungsi yang rentan di seluruh benua tersebut.

"Banyak pengungsi di Afrika bergantung pada pasok makanan dari WFP, untuk bertahan hidup dan mereka sekarang menderita karena kurangnya pendanaan," kata Ertharin Cousin dalam sebuah pernyataan.

Krisis pendanaan tersebut memaksa WFP untuk ketiga kalinya mengurangi jatah bagi 2,4 juta pengungsi, yang butuh bantuan pangan di 22 negara Afrika, dengan lebih separuh dari 800.000 pengungsi itu mengalami pengurangan jatah makanan hingga 50 persen.

“Situasi paling parah dialami 300.000 pengungsi di Chad, terutama yang berasal dari kawasan Darfur, Sudan, dan Republik Afrika Tengah yang mengalami pengurangan jatah makanan hingga 60 persen,“ kata pernyataan itu.

Para pengungsi di sana, dalam banyak kasus hanya mendapat jatah makanan 850 kalori per hari dibandingkan jumlah kalori yang dibutuhkan orang dewasa umumnya sebanyak 2.100 kalori per hari agar tetap sehat. Sebagai contoh untuk sekali makan dengan nasi putih 100 gram adalah 175 kalori dan telur rebus satu butir adalah 78 kalori. 

Situasi pengungsi itu tidak lebih baik bagi sekitar 150.000 pengungsi di Afrika Tengah, atau di Sudan Selatan, di mana pasok makanan juga dikurangi hingga setidaknya 50 persen. Sementara 338.000 pengungsi di Liberia, Burkina Faso, Mozambique, Ghana, Mauritania, dan Uganda mengalami pengurangan jatah hingga 43 persen, kata badan PBB tersebut.

Serangkaian pengurangan jatah sementara yang tidak terduga, kadang kala disebabkan oleh masalah keamanan, juga terjadi di beberapa kamp pengungsi di beberapa negara sejak awal 2013, termasuk Kenya, Ethiopia, Kongo, Republik Demokrat Kongo, dan Kamerun.

"Jumlah krisis di seluruh dunia jauh melampaui tingkat pendanaan bagi operasi kemanusiaan, dan pengungsi yang rentan terkorban akibat kekurangan ini," kata Guterres.

Ia memperingatkan, pengurangan jatah makanan sekecil apa pun bisa menyebabkan bencana bagi orang-orang yang memang sudah kekurangan gizi, dengan dampak yang cepat dan sering kali tidak bisa dipulihkan lagi, terutama bagi anak-anak.

Pengungsi yang terkena pengurangan jatah, mati-matian mencari jalan untuk tetap menghidangkan makanan di meja, dan krisis ini mendorong lebih banyak anak-anak yang berhenti sekolah untuk bekerja, sementara banyak keluarga yang mengawinkan anak perempuan pada usia muda. Prostitusi "untuk bertahan hidup", yang dilakukan perempuan dan gadis-gadis remaja demi mendapatkan uang untuk makanan, juga semakin menjadi masalah, demikian pernyataan tersebut. (Ant/AFP) 

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home