Loading...
INDONESIA
Penulis: Martahan Lumban Gaol 23:48 WIB | Selasa, 19 April 2016

PBNU: Tidak ‎Ada Perang Horizontal Jelang Tragedi 1965‎

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Imam Azis‎, saat berdiskusi dengan awak media usai menjadi pembicara dalam acara Simposium Nasional 'Membedah Tragedi 1965, Pendekatan Kesejarahan', di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, hari Selasa (19/4). (Foto: Martahan Sohuturon Lumban Gaol)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Imam Aziz‎, mengonfirmasi bahwa tidak terjadi perang saudara atau horizontal jelang Tragedi 1965. Yang terjadi, kata dia adalah penangkapan yang dilakukan militer.‎‎

Imam mengatakan, pada penangkapan itu militer merekrut anggota organisasi keagamaan seperti Anshor dan Muhammadiyah.‎

‎Menurutnya, fakta tersebut berdasarkan hasil temuan Syarikat Indonesia, kelompok muda NU yang memiliki keingintahuan akan fakta sesungguhnya tentang Tragedi 1965. Sebab, berbagai informasi yang beredar menyatakan bahwa Tragedi 1965 adalah perang antara Partai Komunis Indonesia (PKI) melawan NU.

"Ini terkonfirmasi. Ada komando yang jelas sekali. Yang dipertanyakan, apa isi komando itu dan apakah ada penyimpangan," ucap Imam dalam acara Simposium Nasional 'Membedah Tragedi 1965, Pendekatan Kesejarahan', di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, hari Selasa (19/4).

Dia menjelaskan, Syarikat Indonesia telah mencoba menggali kebenaran terkait Tragedi 1965 sejak tahun 2000. Syarikat‎ Indonesia mencoba menggali informasi melalui putra dan putri korban yang tersebar di 35 kabupaten di Pulau Jawa dan Bali serta mewawancarai mantan tahanan politik.

Dalam perjalanan menggali informasi tersebut, katanya, NU mencoba melakukan proses rekonsiliasi dengan duduk bersama dengan korban dari tingkat desa hingga provinsi. Pertemuan berlangsung seperti acara reuni, bahkan kaum Nahdliyin mengadaptasi lagu Genjer-genjer.

"Kami lalu merumuskan rekomendasi untuk tidak saling menstigmatisasi," ucapnya

Yang mengharukan, menurut Imam, seorang kiai NU pernah berkata kepada para korban, "Kalau seandainya apa yang dilakukan NU menyakitkan bapak-bapak, kami mohon maaf," ucap Imam menirukan perkataan kiai tersebut. ‎

Kemudian, Imam melanjutkan, pada tahun 2004, Syarikat Indonesia menyadari apa yang terjadi pada kaum ibu korban Tragedi 1965. Katanya‎, banyak kaum ibu yang menangis saat mengingat dirinya dijadikan objek kekerasan kala tragedi itu terjadi.

"Perempuan adalah sasaran dan objek kekerasan seksual. Ini berat sekali," ucapnya.

Editor : Eben E. Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home