Loading...
HAM
Penulis: Diah Anggraeni Retnaningrum 14:29 WIB | Kamis, 05 Desember 2013

Peringati Hari HAM, KontraS Putar Film Dokumenter

Peringati Hari HAM, KontraS Putar Film Dokumenter
Peringatan Hari HAM yang diadakan di KontraS, Rabu (4/12). (Foto-foto: Diah Anggraeni Retnaningrum)
Peringati Hari HAM, KontraS Putar Film Dokumenter
Dari kiri ke kanan, Maman (Rumpin), moderator KontraS dan Bondan Andriano (Sawit Watch).
Peringati Hari HAM, KontraS Putar Film Dokumenter

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Koalisi Peringatan Hari HAM (KOPER HAM) memperingati hari hak asasi manusia (HAM) dengan menyelenggarakan pemutaran film dan diskusi publik sebagai salah satu Rangkaian Kegiatan Peringatan Hari HAM ke-65 dengan tema “Melawan Lupa Untuk Indonesia yang Menghormati HAM”.

KontraS yang berada di kawasan Menteng juga ikut berpartisipasi dalam peringatan hari HAM tersebut. Rabu (4/12) sore, KontraS memutar dua buah film dokumenter yang berjudul “Palm Off” dan “Children of Cibitung” yang diakhiri dengan sesi diskusi yang bertema “Ibu Pertiwi dan Bapak Aparat”.

Hadir sebagai narasumber adalah Maman, wakil dari masyarakat Rumpin dan Bondan Andriano, wakil dari Sawit Watch.

Palm Off, Ekspansi Sawit Besar-besaran

Di dalam film dokumenter yang berdurasi sekitar 40 menit ini bercerita tentang bagaimana perkembangan perkebunan kelapa sawit di berbagai tempat di kepulauan yang besar di Indonesia seperti Kalimantan.

Pengembangan perkebunan kelapa sawit ini pada awalnya pihak perusahaan menjanjikan masyarakat setempat bisa hidup enak, lapangan kerja, bisa menyekolahkan anak hingga ke luar negeri, mobil dan berbagai hal-hal mewah lainnya. Namun,  pada kenyataanya peningkatan ekonomi yang nyata tidak pernah mereka rasakan.

Bahkan, saat ini mereka banyak mengalami kerugian yang ditimbulkan dari perkembangan perkebunan kelapa sawit ini. Kerugian tersebut misalnya lahan hutan menjadi habis, sungai dangkal dan menyusut, pencemaran sungai, penyakit dan 70% ikan-ikan yang ada di sungai sudah punah.

Selain kerugian secara fisik pada lingkungan, adat dan istiadat pun ikut tergerus karena perkembangan perusahaan sawit. Misalnya, mencari akar untuk obat sudah sulit dan makam nenek moyang pun ikut digusur.

Ketidakjelasan undang-undang dalam hal aturan perkebunan kelapa sawit menguntungkan perusahaan. Selain itu, masyarakat sering kurang info mengenai tanah yang mereka tempati. Korupsi dan intimidasi juga digunakan untuk membuat masyarakat menyerahkan tananhya. Ironisnya, kebijakan yang dibuat pemerintah pun tidak mendukung masyarakat .

Akhirnya ada beberapa komunitas lokal yang bergerak untuk mengedukasi masyarakat setempat untuk hidup lebih mandiri dan mengetahui apa saja yang menjadi akibat jika perusahaan sawit terus berkembang.

Ada lima syarat dari masyarakat setempat terhadap perkembangan perkebunan sawit, yaitu pengakuan pemerintah terhadap tanah mereka, perlindungan hak masyarakat untuk menerima atau menolak perkembangan perkebunan sawit di wilayah mereka, menghentikan penebangan hutan, tidak menggunakan minyak sawit sebagai agrofuel, dan tidak ada perkebunan sawit yang baru sampai semua permasalahan terkait perusahaan sawit dan masyarakat setempat terselesaikan.

Children of Cibitung, Harapan Damai di Hati Mereka

Film “Children of Cibitung” menggambarkan anak-anak Cibitung, Jawa Barat merindukan kedamaian di kampung mereka. Setelah insiden pada 2007 yang menewaskan salah satu warga Cibitung yang bersengketa dengan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI), kini daerah tersebut tidak lagi tenteram dan anak-anak banyak mengalami trauma.

Sengketa antara petani Cibitung dan AURI terjadi sejak 1955 yang hingga saat ini belum jelas siapa pemilik tanah tersebut. Warga berkeras bahwa tanah yang ditempati adalah tanah warisan sejak 1945. Puncaknya adalah insiden penembakan seorang warga oleh AURI yang terjadi pada 2007.

Banyak kekerasan dan intimidasi yang dilakukan oleh TNI kepada warga Cibitung. Mata pencaharian warga Cibitung adalah petani dan sawah satu-satunya yang mereka miliki telah diambil oleh TNI. Kini mereka hanya memiliki sedikit sawah untuk digarap sedangkan tanah yang direbut oleh TNI telah dibuat sebagai water training dan ada beberapa bagian sawah lain tergenang air seperti danau dan tidak bisa digunakan lagi.

Warga Cibitung hanya berharap bahwa hak mereka dikembalikan lagi dan ingin mendapatkan kedamaian di kampung mereka. Setidaknya mereka masih bisa makan dan menggarap sawah. Sampai saat ini masih belum jelas tindakan dari pemerintah walaupun mereka telah mengajukan surat kepada Kementerian Pertahanan.

Rangkaian Kegiatan Koper HAM

Pemutaran Film juga akan dilaksanakan di Komnas HAM, Kamis (5/12) dengan judul Para Pejuang HAM dan diskusi yang bertemakan "Kalau Ada Sumur di Ladang" pada pukul 15.00 dan hari Jumat (6/12) dengan judul Jembatan Bacem dan Bunga Kering Perpisahan yang diakhiri dengan diskusi "Atas Nama Ideologi". Acara hari Jumat tersebut akan diselenggarakan di Wahid Institute pada pukul 15.00.

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home