Loading...
DUNIA
Penulis: Melki Pangaribuan 17:24 WIB | Kamis, 26 November 2015

Prancis Minta Dukungan Jerman Perangi ISIS

Ilustrasi: Kanselir Jerman Angela Merkel (kemeja kuning), dan Presiden Prancis François Hollande (jas hitam) saat melakukan pertemuan bilateral di Champ-Élysées, Paris, Februari 2015. (Foto: reuters.com)

PARIS, SATUHARAPAN.COM - Presiden Prancis, Francois Hollande, setibanya dia dari Washington, bertemu dengan Kanselir Jerman Angela Merkel, pada hari Rabu (25/11). Dia berusaha menggalang dukungan untuk membentuk koalisi melawan ekstremis Islamic State (ISIS).

Hollande diperkirakan meminta pendapat Merkel untuk berusaha meredakan ketegangan antara Rusia dan Turki -- dua calon pemain dalam aliansi anti-ISIS -- yang terjadi setelah Ankara menembak pesawat tempur Rusia di perbatasan Turki-Suriah.

Hollande tengah melangsungkan sejumlah kunjungan diplomatik yang didorong oleh serangan pada 13 November di Paris yang menewaskan 130 orang dan melukai 350 lainnya.

Dia berunding dengan beberapa negara besar demi membentuk koalisi yang akan menghancurkan ISIS di Irak dan Suriah. Namun, sejauh ini hasilnya kurang begitu menjanjikan.

Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama pada hari Selasa menyampaikan belasungkawa kepada Hollande di Gedung Putih sekaligus menegaskan komitmennya.

Obama sepakat menggencarkan serangan udara terhadap ekstremis yang sudah dilakukan pesawat tempur AS selama beberapa bulan dan mengatakan dia akan meningkatkan pertukaran informasi intelijen.

Namun, Obama tidak yakin bahwa dia bisa mempererat kerja sama dengan musuh Perang Dinginnya.

Presiden AS itu mengatakan masalah yang dihadapi Washington adalah “Rusia terlalu fokus membantu Assad bukannya fokus pada ISIL (ISIS)”.

Mempererat kerja sama AS-Rusia akan membutuhkan “perubahan strategi,” kata Obama, mendesak Rusia berhenti membombardir kelompok pemberontak yang menentang sekutu Moskow, Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Hollande akan meminta kepada Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow pada Kamis agar kerja sama bisa semakin dipererat.

Permintaan “koordinasi” Prancis dalam perang melawan ekstremis seharusnya lebih bisa diterima Merkel, pemimpin sekutu terdekat Paris di Uni Eropa.

Perang melawan terorisme dan aliran masuknya imigran ke Eropa masih berlangsung, dan Jerman menegaskan niatnya dengan mengumumkan pada Rabu bahwa pihaknya akan mengerahkan 650 tentara ke Mali untuk membantu pasukan Prancis yang memerangi ekstremis di sana. (AFP/Ant)

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home