Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 16:27 WIB | Jumat, 27 Desember 2019

Presiden Irak Barham Salih Resmi Mengundurkan Diri

Barham Salih, Mundur dari Jabatan Prsiden Irak, karena menolak Assad al-Eidani sebagai perdana menteri yang diajukan parlemen. (Foto: Ist)

BAGHDAD, SATUHARAPAN.COM-Presiden Irak, Barham Salih secara resmi mengajukan pengunduran diri dari jabatan itu ke Parlemen, menurut laporan media setempat, Baghdad Post, hari Kamis (26/12). Hal ini dilakukan di tengah meningkatnya protes rakyat kepada pemerintah Irak yang telah berlangsung hampir tiga bulan.

Sebelumnya, parlemen Irak telah menyetujui pengunduran diri Perdana Menteri, Adel Abdul-Mahdi, setelah berminggu-minggu protes yang memakan banyak korban digelar menentang pemerintahnya.

Awal bulan ini, Abdul Mahdi mengumumkan bahwa ia akan mengundurkan diri karena gelombang kerusuhan anti-pemerintah yang telah menewaskan sedikitnya 400 orang sejak awal Oktober.

Ribuan pemuda Irak telah memprotes para pemimpin yang dinilai korup, tingkat pengangguran yang tinggi di negara itu, dan layanan publik yang buruk. Mereka menghendaki perobakan total pemerintah yang menerapkan sitem sectarian, dan menjadi kaki tangan kepentingan negara lain.

Irak masih menghadapi keadaan kerusuhan bahkan setelah pengunduran diri Abdul Mahdi, karena pengunjuk rasa mengatakan bahwa hal itu tidak cukup. Mereka menuntut reformasi luas untuk meningkatkan ekonomi, untuk mengurangi korupsi dan untuk mengakhiri pengaruh Iran di negara itu.

Sebelumnya, Barham Salih menyatakan menolak untuk menunjuk calon dari blok parlemen yang didukung Iran untuk posisi perdana menteri menggantikan Mahdi. Dia mengatakan lebih suka mengundurkan diri daripada menunjuk seseorang ke posisi yang akan ditolak oleh pengunjuk rasa.

Salih mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa karena konstitusi tidak memberinya hak untuk menolak calon untuk jabatan perdana menteri yang diajukan parlemen, maka ia siap untuk mengajukan pengunduran dirinya ke parlemen.

Parlemen Irak telah menunjuk Assad al-Eidani untuk menduduki jabatan perdana menteri, seorang gubernur yang banyak dikritik oleh rakyat, dan disebut-sebut mendapat dukungan dari Iran.

Protes massa telah mencengkeram Irak sejak 1 Oktober dan pengunjuk rasa, kebanyakan dari mereka masih muda, menuntut perombakan sistem politik yang mereka lihat sangat korup dan membuat sebagian besar rakyat Irak dalam kemiskinan. Lebih dari 450 orang telah terbunuh dalam aksi protes itu, serta puluhan ribu terluka.

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home