Loading...
DUNIA
Penulis: Francisca Christy Rosana 09:11 WIB | Selasa, 25 November 2014

Presiden Turki: Perempuan Tidak Setara dengan Laki-Laki

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (Foto: Dok. satuharapan.com/thewarjournal.com)

ISTANBUL, SATUHARAPAN.COM – Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengatakan perempuan tidak dapat diperlakukan setara dengan laki-laki dan mengatakan kaum feminis menolak mengakui nilai-nilai keibuan.

"Kita tidak dapat menempatkan perempuan dan laki-laki pada pijakan yang sama. Itu bertentangan dengan alam," katanya dalam pertemuan hak-hak perempuan pada Senin (24/11).

Erdogan yang konservatif mengatakan ideologi Islam rakyat Turki memiliki pandangan yang lebih sekuler dan menganggap kebijakan-kebijakan sosial pemerintah telah membawa negara ke arah yang berbahaya.

"Anda tidak bisa mendapati seorang perempuan bekerja seperti pekerjaan yang dilakukan pria, seperti yang mereka lakukan di rezim komunis di masa lalu," katanya.

"Anda tidak dapat menempatkan beliung dan sekop di tangan perempuan dan menyuruh mereka bekerja,” ujarnya.

Menurut Erdogan, perempuan harus diperlakukan sama di mata hukum, tapi peran yang berbeda dalam masyarakat harus diakui.

"Agama kita menempatkan ibu dalam posisi sangat tinggi," katanya. "Kaum feminis tidak mengerti itu, mereka menolak fitrah keibuan perempuan."

Perempuan dinilai Erdogan membutuhkan rasa hormat yang setara dan bukan kesetaraan.

Erdogan juga mengatakan bahwa keadilan adalah solusi untuk sebagian besar masalah di dunia, termasuk rasisme, anti-Semitisme, dan masalah perempuan.

Pandangan Erdogan tentu bertentangan dengan pandangan kaum feminis yang menentang segala bentuk ketidaksetaraan gender.

"Ada orang yang memahami hal ini, ada pula yang tidak. Anda tidak bisa menyampaikan pernyataan ini kepada kaum feminis karena mereka tidak menerima kodrat ‘ibu’. Mereka tidak memiliki kekhawatiran tersebut,” ujar Erdogan.

Pernyataan pemimpin Turki dari partai berhaluan Islam itu seringkali memicu kontroversi.

Awal bulan ini, ia menyatakan bahwa umat Islam telah menemukan Amerika lebih dari 300 tahun sebelum Christopher Colombus.

Selama 11 tahun menjabat perdana menteri, Erdogan tampil sebagai pemain penting dalam politik kawasan.

Namun, reputasinya memburuk belakangan terkait krisis di Suriah dan tuduhan otoriter.

Kali ini, Erdogan membuat pernyataan yang mencengangkan kaum feminis.

"Mereka mendefinisikan perempuan hanya sebagai ibu. Ini diskriminatif terhadap semua perempuan yang tidak memiliki anak, "katanya. (bbc.co.uk/alarabiya)

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home