Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 20:03 WIB | Sabtu, 02 November 2019

Protes Anti Pemerintah di Chili, 17 Tewas

Aparat keamanan menangkap demonstras di Santiago, Chili, Jumat (1/11). (Foto: Santiago Times)

SANTIAGO, SATUHARAPAN.COM-Protes rakyat di Chili yang dipicu kenaikan tarif angkutan umum lalu berubah menjadi kerusuhan, pembakaran dan penjarahan yang telah menewaskan sedikitnya 17 orang, melukai ratusan lainnya, menurut media setempat Santiago Times.

Dilaporkan juga bahwa hingga Sabtu (2/11) lebih dari 7.000 orang ditangkap, dan perkiraan kerugian ekonomi mencapai lebih dari 1,4 miliar dolar AS. Selain itu media lain menyebutkan bahwa sedikitnya 23 orang tewas dalam protes menentang kebijakan ekonomi pemerintah.

Dalam sebuah pernyataan di media sosial, Kantor Kejaksaan Chili mengatakan kematian terjadi pada 19 Oktober, ketika keadaan darurat diumumkan, dan pada 26 Oktober.

Pernyataan itu mencatat bahwa 16 orang meninggal, termasuk dalam insiden penjarahan, lima orang tewas dalam bentrokan dengan pasukan keamanan dan dua orang tewas saat dalam tahanan.

Identitas seorang pemrotes yang dibakar sampai mati belum ditentukan, tetapi penyelidikan sedang dilakukan.

Selain itu, Perserikatan bangsa-bangsa (PBB) mengirim utusan khusus terkait adanya dugaan pelanggaran hak asasi manusia dalam menangani massa yang menggelar protes.

Kenaikan Tarif Angkutan

Protes anti-pemerintah dimulai sebagai tanggapan atas kenaikan tarif transportasi yang sekarang ditangguhkan, berubah menjadi kekerasan pada 19 Oktober. Selama kerusuhan, 49 stasiun kereta bawah tanah dihancurkan dan 26 bus dibakar. Dan ribuan orang ditangkap di seluruh negeri.

Akibat kerusuhan ini, Chili membatalkan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) iklim yang rencananya diadakan di Santiago 2-13 Desember mendatang, dan badan  PBB memutuskan mengalihkannya ke Madrid, Spanyol .

Demonstran berencana untuk melakukan lebih banyak protes massal pada akhir pekan untuk menuntut pengunduran diri Presiden Sebastian Pinera, yang menggantikan delapan anggota kabinet, termasuk menteri dalam negeri dan menteri keuangannya.

Pada 18 Oktober, pengunjuk rasa memasuki stasiun metro di Santiago tanpa membayar tiket sebagai protes terhadap kenaikan tarif transportasi sebesar empat persen. Pinera merespons dengan mengumumkan konsesi, termasuk menurunkan kenaikan tarif, kenaikan upah minimum dan menahan kenaikan harga listrik hingga tahun depan.

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Edu Fair
Back to Home