Loading...
SAINS
Penulis: Tunggul Tauladan 17:07 WIB | Rabu, 19 Februari 2014

Ratusan Warga Yogyakarta Terkena ISPA

Ilustrasi. Menggunakan masker dapat mengurangi risiko terkena ISPA. (Foto: Tunggul Tauladan)
YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Abu vulkanik yang melanda wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sejak Jum’at (14/2), kini mulai menimbulkan masalah kesehatan. Salah satu efek yang ditimbulkan dari debu abu vulkanik adalah gangguan pernafasan atau yang lazim dikenal dengan istilah Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).
 
Menurut data dari Dinas Kesehatan DIY, selama empat hari terakhir atau Jum’at (14/2) hingga Selasa (18/2), tercatat pengidap ISPA di Yogyakarta berjumlah 289 orang. Jumlah penderita terbanyak berada di Kota Yogyakarta dibandingkan dengan empat kabupaten lain, yaitu Kabupaten Sleman, Gunung Kidul, Bantul, dan Kulon Progo.
 
“Jumlah sebaran ISPA paling banyak berada di Kota Yogyakarta karena mobilisasi penduduknya lebih tinggi dibandingkan dengan empat kabupaten lainnya. Hal yang sama berlaku pula untuk potensi penyakit lainnya, seperti Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), iritasi mata, penyakit kulit (dermatitis), alergi, diare, dan penyakit saluran pencernaan,” demikian disampaikan oleh Kepala Bidang (Kabid) Penanggulangan Penyakit dan Masalah Kesehatan (P2MK) Dinas Kesehatan DIY, Daryanto Chadorie pada Selasa (18/2).
 
Salah satu contoh tingginya penderita ISPA terlihat di Puskesmas Gedong Tengen, Kota Yogyakarta. Pada Minggu (16/2) jumlah pasien ISPA yang tercatat di Puskemas ini sebanyak 30 orang. Namun, pada Senin (17/2), jumlah pasien ISPA meningkat menjadi 69 orang. 
 
Sebelumnya, ISPA sudah menjadi salah satu penyakit yang banyak menjangkiti penduduk Yogyakarta. Berdasarkan penelitian dari Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BBTKLPPM) Yogyakarta yang bekerjasama dengan Dinas Kesehatan DIY, peningkatan penderita ISPA terjadi karena pencemaran udara di wilayah DIY telah melampaui ambang batas aman.
 
Menurut Daryanto Chadorie, Dinas Kesehatan dan BBTKLPPM telah melakukan penelitian uji sample di sejumlah titik, seperti di Bandar Udara Internasional Adi Sutjipto, Titik Nol Kilometer, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Magelang, dan Jalan Kaliurang. Hasilnya, tim menemukan adanya kandungan unsur yang berbahaya di udara, seperti gas Nitrogen Oksida (NO2 dan Sulfur Oksida (SO2). Unsur ini akan mengancam kesehatan jika terhirup dan masuk ke paru-paru. Efek yang jelas terlihat adalah ISPA.
 

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home