Loading...
EKONOMI
Penulis: Bayu Probo 14:31 WIB | Sabtu, 28 Juni 2014

Rupiah Anjlok 103 Poin, Pasar Diminta Tak Khawatir Pilpres

Deputi Senior Gubernur BI, Mirza Adityaswara. (Foto: Antara)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Dalam sepekan rupiah melemah 103 poin. Dibuka pada Rp 11.971 per dolar AS pada AS pada Senin (23/6) menjadi Rp 12.103 per dolar AS pada Jumat (27/6). Bank Indonesia (BI) mengaku faktor Pemilu Presiden 2014 menjadi salah satu penyebab.

Menurut Deputi Senior Gubernur BI, Mirza Adityaswara di Kompleks Perkantoran BI, Jakarta, Jumat, saat ini salah satu fokus utama BI dalam menjaga stabilitas rupiah adalah berupaya meyakinkan investor bahwa pemilihan presiden akan berjalan aman seperti pada tiga periode sebelumnya.

"BI melihat tekanan yang terkait dengan politik sifatnya temporer. Yang harus diselesaikan adalah yang lebih terkait dengan fundamental ekonomi kita. Bagaimana kita harus bisa mengurangi defisit neraca berjalan," ujar Mirza.

"Faktor lain yang lebih besar itu adalah fundamental ekonomi kita. Neraca perdagangan defisit (1,96 miliar dolar AS). Tetapi Mei diestimasi surplus walaupun tidak besar," ujar Mirza.

Namun, menurut Mirza, secara umum volatilitas rupiah saat ini masih dalam taraf normal.

Berdampak pada IHSG

Tertekannya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS cukup berdampak pada pergerakan indeks harga saham gabungan, kata Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Ito Warsito.

"Kondisi rupiah yang tertekan membuat pasar modal juga ikut terkena dampaknya," katanya di Jakarta, Jumat (27/6).

Ia mengharapkan ada perbaikan pada defisit neraca perdagangan Indonesia karena faktor itu yang menjadi pemicu nilai tukar rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar AS.

"Rupiah melemah karena defisit di neraca perdagangan Indonesia, kondisi itu membuat kekhawatiran investor karena dampaknya akan ke mana-mana, termasuk di pasar modal," katanya.

Menurut Ito Warsito, jika defisit neraca perdagangan Indonesia tidak bisa dikendalikan oleh pemerintah, dana investor asing keluar seperti pada Mei 2013 akan dapat terulang.

"Kejadian pada Mei tahun lalu bisa terulang, kondisi itu kan karena defisit perdagangan perode April 2013 yang tiba-tiba melebar menjadi 1,6 miliar dolar AS," katanya.

Kendati demikian, lanjut dia, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak berdampak pada pelaksanaan penawaran umum perdana saham (IPO).

"Pada 2013, rupiah melemah dan pasar saham tertekan, namun pelaksanaan IPO melebihi dari yang ditargetkan. BEI menargetkan sebanyak 30 perusahaan IPO, dan terealisasi sebanyak 31 perusahaan," ujar Ito Warsito.

Pada tahun ini, lanjut dia, BEI kembali menargetkan pelaksanaan IPO sebanyak 30 perusahaan. Sepanjang 2014 sebanyak 13 perusahaan telah melaksanakan IPO. (Ant)


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home