Loading...
DUNIA
Penulis: Melki Pangaribuan 15:22 WIB | Senin, 06 Juli 2015

Sampah Tisu Basah Sumber Polusi Baru di Australia

Perusahaan Urban Utilities Queensland harus membersihkan sekitar 120 ton tisu basah dari sistem pembuangan setiap tahun. (Foto: ABC News/Elise Worthington)

QUEENSLAND, SATUHARAPAN.COM - Bagi masyarakat negara maju tisu basah mudah dibeli dan murah harganya, namun akibatnya pihak berwenang harus menganggarkan dana jutaan dolar setiap tahun karena semakin banyak tisu yang dibuang ke dalam toilet.

Hal itu menyebabkan pipa pembuangan tersumbat dan juga mengakibatkann polusi. Perusahaan pembuat tisu basah dan perusahaan jasa pembersih di seluruh Australia berusaha mencari jalan keluar.

Kekhawatiran utamanya adalah bila tisu basah ini akan menyebabkan tersumbatnya sistem pembuangan yang akan memerlukan biaya ratusan ribu dolar untuk memperbaikinya.

Michelle Cull dari Perusahaan Urban Utilities Queensland yang bertanggung jawab mengurusi pembuangan sampah di negara bagian tersebut mengatakan, mereka sudah berusaha memberitahu warga untuk tidak sembarang membuat tisu basah, namun persoalannya semakin memburuk.

"Saya kira banyak orang yang tidak sadar bahwa mereka tidak seharusnya membuang tisu basah ke dalam toilet. Banyak merek yang ditulis bahwa tisu ini bisa dibuang ke dalam toilet (flushable), namun pesan yang ingin kami sampaikan adalah meski tisu itu bisa dibuang ke toilet, tapi tidak seharusnya dilakukan," katanya.

"Menurut kami, keadaan semakin memburuk, ketika kami berbicara dengan staf di lapangan, mereka melihat semakin banyaknya tisu basah di dalam pipa pembuangan."

"Masalahnya adalah tisu basah ini tidak bisa larut seperti tisu kertas. Kami harus membersihkan sekitar 120 tisu basah setiap tahunnya. Itu baru untuk Queensland tenggara saja."

Direktur Eksekutif Asosiasi Penyedia Air Minum Australia, Adam Lovell mengatakan pihak berwenang di seluruh Australia kewalahan menangani masalah ini.

"Yang terjadi adalah semakin banyaknya kebuntuan di sistem  pembuangan," kata Lovell.

"Masalahnya semakin memburuk dalam beberapa tahun terakhir, dan biaya yang diperlukan untuk menanganinya adalah jutaan dolar."

"Sydney Water memperkirakan diperlukan $8 juta (sekitar Rp 80 miliar) untuk membersihkan pipa yang disebabkan karena gumpalan tisu basah, dan 75 persen kebuntuan pipa disebabkan karena tisu."

Lovell mengatakan kemungkinan adanya kebuntuan karena tisu yang mereka sebut 'fatberg', gumpalan antara tisu dan lemak, akan menyebabkan kekacauan bila terjadi.

Fatberg seberat 15 ton yang menggelantung di saluran pembuangan di London. (Foto: AFP/CountyClean)

"Fatbergs ini mengerikan, karena gumpalannya besar, beratnya  bisa mencapai beberapa ton, campuran antara lemak, dan sekarang karena tisu, gumpalannya dapat menjadi lebih besar lagi," kata Lovell.

"Yang paling terkenal adalah di London tahun lalu, di mana besarnya seperti bus dua tingkat."

"Mereka harus membongkar jalan, jalan setapak dan taman untuk mengeluarkan gumpalan tersebut. Bentuknya saja tidak enak dilihat apalagi baunya," katanya.

Lovell mengatakan di Amerika Serikat masalah ini sudah sedemikian besarnya sehingga Komisi Perdagangan Federal harus campur tangan.

"Mereka sekarang mendesak perusahaan pembuat tisu untuk membuktikan bahwa tisu mereka bisa larut dalam air, sebelum diberi merek 'bisa larut' dan ini sebuah langkah maju, dan kami juga akan memperhatikan hal tersebut di sini juga."

"Kami sekarang sudah berbicara dengan berbagai perusahaan pembuat tisu, dan berbagi informasi dengan mereka, untuk melihat apakah dapat dibuat standar mengenai tisu yang bisa larut atau tidak."

Namun proses pembicaraan ini akan memerlukan waktu beberapa tahun, dan karenanya Lovell mendesak warga untuk tidak membuang tisu basah mereka ke dalam toilet.

"Dampaknya sangat besar bagi lingkungan, saluran air, ketidaknyamanan bagi pengguna jalan bila jalan harus digali dan pada akhirnya ini semua nanti akan dibebankan kepada kita semua sebagai konsumen," kata Lovell. (radioaustralia.net.au)

 

 

Editor : Eben Ezer Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home