Loading...
PARENTING
Penulis: Octavia Putri 13:08 WIB | Jumat, 03 September 2021

Si Kecil Tantrum, Yuk Lakukan Ini

“Tantrums are not bad behavior. Tantrums are an expression of emotion that became too much for the child to bear. No punishment is required. What your child needs is compassion and safe, loving arms to unload in.” ― Rebecca Eanes.
(Foto: haiibu.id)

SATUHARAPAN.COM - Tantrum atau ekspresi kemarahan umumnya muncul di tahun pertama seorang anak, yang bertepatan saat mau belajar jalan. Mencapai puncak tantrum di tahun kedua. Lalu, akan mengalami penurunan tantrum di tahun ketiga. Ekspresi tantrum anak ditunjukkan dengan teriak dan menangis histeris, diikuti dengan menghempaskan diri ke lantai atau yang biasa terlihat adalah dia berguling di lantai, dan menendang apa pun yang ia temui.

Sikap tantrum sangat menganggu bagi orangtua maupun si anak. Jika dibiarkan atau malah keingiannya dituruti, maka akan menjadi sebuah kebiasaan untuk anak. Mengingat anak baru memiliki ketrampilan baru yang ia kuasai, ada kemungkinan dimana ia merasa frustasi. Oleh karena itu, perlu diciptakan aktivitas sosial dan pola tidur yang teratur, jadi anak tidak kelelahan. Selain kelelahan, ada beberapa alasan lagi penyebab tantrum, yaitu: pertama, lapar, situasi lingkungan, dan mau sesuatu.

Lapar membuat “cacing di perut berubah menjadi naga”, pernah dengar istilah tersebut? Ketika lapar, bukan hanya si kecil, kadang mood orang dewasa pun terganggu. Si kecil pun terkadang menunjukkan sikap tantrum karena moodnya terpengaruh. Ditambah dengan kosa kata si kecil yang belum begitu banyak, maka yang ditunjukkan adalah sikapnya.

Kedua, dikarenakan ia merasa tidak nyaman dengan lingkungan. Misalnya, kepanasan atau suasana terlalu bising atau bisa jadi karena berada ditempat yang menurutnya asing. Jadi, perlu membiasakan dirinya untuk belajar mengenal lingkungan lagi. Sebagai orang tua atau pengasuh yang cukup dekat dengan anak, kita perlu memberikan rasa aman dan pelan-pelan memperkenalkan lingkungan. Usahakan tidak memaksa anak untuk langsung beradaptasi karena setiap anak memiliki caranya dan perlu waktu yang berbeda agar dapat beradaptasi.

Nah, alasan yang paling umum digunakan oleh anak adalah menginginkan sesuatu, jadi tantrum deh. Jenis ini biasanya akan menjadi senjata si kecil untuk memenuhi keingiannya, dengan tantrum manipulatif, maka keinginannya terkabul. Nangis menjadi senjata untuk mendapatkan keinginan. Biasnaya hal ini terjadi karena ketika anak nangis, orangtua langsung memberikan keinginannya. Jadi, anak belajar, kalau nangis pasti dapat yang diharapkan.

Ada beberapa cara untuk menghadapi si kecil, sebelum dan selagi ia tantrum. Pertama, pengalihan, sehingga anak lebih tertarik dan “melupakan” kemarahannya. Misalnya, dengan mengajak ia main air atau memberikan mainan kesukaannya. Kedua, metode istirahat. Berikan ia waktu istirahat sejenak, seperti meletakkan dia di tempat tidurnya atau dudukkan dia di sofa. Tujuannya untuk membuatnya lebih santai dan menurun emosi si anak. Ketiga, pelukan. Sebagian orang percaya, pelukan mampu mencegah tantrum karena hormon oksitosin yang dilepaskan membuat lebih bahagia dan mengurangi stres. Tapi ada juga yang memberikan waktu dulu kepada si anak untuk menenangkan diri, seperti meninggalkan sejenak. Jika memutuskan untuk meninggalkan sejenak, perlu memperhatikan lingkungan agar tidak membahayakan anak.

Keempat, perlunya sikap tenang. Bagi orangtua, sikap tenang perlu dilakukan supaya kita tidak emosi. Memang tidak menyenangkan harus melihat sikap anak yang tantrum, mendengar teriakan dan tangisan mereka, bahkan perilaku agresif lainnya, tapi kita perlu belajar menenangkan diri dan usahakan tidak terpancing emosi. Kemudian, berikan anak waktu untuk menenangkan diri, tetapi tetap temani si kecil supaya ia merasa tidak sendirian. Terakhir, setelah tantrum anak selesai, kita bisa ajak bicara dari hati ke hati dan jangan lupa tunjukkan kasih sayang kita. Bisa melalui bahasa cinta anak. Nah, inilah pentingnya mengetahui bahasa cinta si kecil.


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home