Loading...
PARENTING
Penulis: Octavia Putri 08:49 WIB | Sabtu, 21 Agustus 2021

Yuk, Kenali Perkembangan Bahasa Anak Usia 1-24 Bulan

Ilustraasi tumbuh kembang balita. (Foto: My Baby)

SATUHARAPAN.COM - Bahasa sebagai bentuk komunikasi baik bahasa verbal maupun non verbal yang didasarkan pada sistem simbolik. Bahasa sendiri terdiri dari kata yang digunakan oleh masyarakat (pembendaharaan) dan aturan kombinasi kata (tata bahasa serta sintaksis).

Menurut Naom Chomsky, susunan syaraf dan otak membentuk cara belajar bahasa pada manusia. Ditemukan pula, persamaan akuisisi bahasa anak-anak di seluruh dunia. Goorhuis-Brouwer menjabarkan bahwa ada 3 cara yang mempengaruhi akuisisi bahasa, yaitu pengalaman anak, bahasa yang digunakan sehari-hari, dan dimana pembelajaran si anak.

Perhatikan pula bahasa sehari-hari yang digunakan, ya. Ditemukan bahwa anak yang bilingual, biasanya mencapai milestone lebih lambat karena harus memproses dua atau lebih bahasa yang berbeda. Milestone sendiri berarti serangkaian tahap tumbuh kembang.

Kembali jika membahas tentang bahasa bilingual, orangtua perlu mengusahakan untuk mengunakan 1 bahasa dulu dalam berkomunikasi, setelah anak sudah memahami dan menguasai 1 bahasa tadi, baru ajarkan bahasa lainnya, ya. Mari kita bahas Baby talk dan cara meresponsnya.

Si bayi 1 bulan (Oeeek-Oeeek). Menangis merupakan cara utama bayi berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya. Ketika ia lapar, dingin, capek, buang air, terlalu berisik, atau hal lainnya, bayi akan menangis. Meraung pun juga menjadi cara komunikasi mereka dan sebagai salah satu bentuk kesiapan bayi untuk menguasai bahasa karena melatih pangkal tenggorokan.

Cara merespons: menenangkan kerewelannya terlebih dahulu. Tangisan bisa melatih pita suara si bayi. Kemudian, merespons bayi karena semakin cepat menenangkan bayi, maka si bayi akan merasa aman dengan lingkungan sekitar.

Bayi 2-5 bulan (Uuuu-Aaah). Celotehan ringan si kecil berasal dari pangkal tenggorokan, sehingga memudahkan bayi belajar untuk cara menggunakan bibir dan lidah. Anak cenderung fokus pada bunyi (jeritan, vocal, geraman) karena menurut mereka suara tersebut unik.

Cara merespons: gunakan berbagai macam nada tinggi dan rendah saat berbicara, supaya anak terbiasa dengan berbagai macam nada, volume, dan notasi. Suara tinggi biasanya membuat anak memperhatikan dan mencoba meniru apa yang dikatakan orang dewasa.

Usia 5-7 bulan (Aaaah-Guuu). Biasanya, anak lebih sulit menghasilkan konsonan karena perlu interaksi kompleks antara lidah dan bibir. Menambah bunyi kosakata berkaitan dengan pembendaharaan kata si kecil.

Cara merespons: menceritakan apa yang orang dewasa lihat atau aktivitas sehari-hari. Bayi sebenarnya mengerti jauh lebih banyak daripada yang kita bayangkan. Yup, mereka memang sepintar itu. Bahkan ada bayi yang berusia 6 bulan mampu berkata “mama” ketika hanya melihat foto ibunya.

Memasuki bulan ke 7 hingga 9 (Ma-Da-Bo). Meski bayi biasanya meniru suara, ia mulai berceloteh, hingga “obrolannya” terdengar seperti bahasa sungguhan.

Cara merespons: bicaralah hal-hal disekitar dan kaitkan dengan objek dengan kata. Jangan anggap “Bo..Bo” berarti “Bobo atau bola”, jika ia memegang buku. Perhatikan pandangan si anak dan bantu dia menamai objek. Ingat, bayi sangat adaptif.

Suara anak 9-12 bulan (Ni. Ini. Nih). Ketika anak hanya mengucapkan “Nih/ni/ini” atau menunjukkan bahasa nonverbal saja, seperti menunjuk objek. Usahakan minta anak berucap agar melatih oralnya. Tapi jangan paksa anak untuk mengucapkan sesuatu dengan benar. Suara yang tepat perlu latihan.

Cara merespons: selama kita tahu apa yang si kecil mau katakan, berikan respon dan pelan-pelan melatih. Memang perlu kesabaran dalam “mengajarkan” anak.

Serunya bahasa anak 12-15 bulan (Puuus). Kata apa pun yang terucap oleh si kecil pasti mengemaskan. Kata-kata, “Ma, Pa, Da, Pus” biasanya disukai anak-anak.

Cara merespons: bersoraklah atas keberhasilan si kecil dan ucapkan hal yang memotivasinya agar ia ingin terus menguasai kata baru. Berikan pujian yang sesuai dengan kemampuan dan keberhasilannya. Golinkoff menyatakan, “Semakin banyak bahasa yang diserap anak, semakin banyak bahasa yang akan keluar dari mulutnya”.

Kosa kata baru buat anak 15-18 bulan (Bo-La, Gu-guk). Ia sedang belajar apa yang dibutuhkan untuk mengucapkan kata, termasuk jenis barang yang berbeda, seperti kata sifat atau kata kerja.

Cara merespons: manfaatkan waktu bersama anak, misalnya dengan membacakan cerita. Siapkan buku kartun dengan kata yang mudah dimengerti anak dan cerita yang menyenangkan. Bicarakan apa yang ada di buku dan tirukan. Misalnya, suara kambing “embek” atau binatang lain. Perhatikan suara juga karena biasanya anak mudah mengingat bunyi.

Anak sudah memiliki kosa kata yang banyak pada usia 18-22 bulan (Ba-Pu-Bi). Di usia ini, anak mulai menghasilkan celothan yang banyak dan biasanya terdengar seperti versi orang dewasa, bahkan sering hingga mengikuti intonasi ataupun gerakan non verbal yang dilakukan orang dewasa. Bisa dikatakan si kecil sudah memiliki banyak kosakata, nah tugas dari lingkungan sekitar adalah membenarkan ucapan anak, jika salah. Bukan melihat sebagai hal “lucu” saja, tapi perlu pembenaran agar pengucapannya benar juga.

Cara merespons: berilah pertanyaan agar anak mau merespon. Di sinilah pentingnya, percakapan timbal balik antara orang dewasa dengan anak, supaya anak bisa meningkatkan keterampilan bicaranya.

Mengabungkan dua kata hal yang menyenangkan buat si kecil berusia 22-24 (Mimi lagi. Bobo dulu). Masa-masa ini, biasanya anak sudah mampu merangkai dua atau tiga kata.

Cara merespons: berikan apa yang anak minta (tentu saja permintaan yang masuk akal dan tidak membahayakan anak. Kalau tidak masuk akal ya tak perlu dituruti). Akan lebih baik lingkungan mendengarkan apa yang si anak ucapkan dan perlu jelaskan juga pentingnya keterampilan bicara. Ya komunikasi agar si anak paham.

Waspadalah kalau anak tertinggal milestone mereka, misalnya belum merespons di usia 6 bulan, di usia 15 bulan belum mengucapkan kata yang dikenali, atau di usia 2 tahun belum mampu mengkombinasikan kata-kata. Akan lebih baik, konsultasikan ke dokter apakah bisa cek pendengaran atau apa yang bisa dilakukan untuk memberikan stimulasi yang tepat.

Octavia Putri, MPsi, Psikolog


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home