Loading...
OPINI
Penulis: Weldemina Yudit Tiwery 00:00 WIB | Senin, 06 April 2015

Teologi Ina dari Rahim Maluku

SATUHARAPAN.COM – Pengalaman konflik di Maluku memperlihatkan bahwa pada ranah kultural, Pela dan Gandong yang telah lama menjadi icon perekat sosial dan kerukunan dalam kehidupan masyarakat Maluku, ternyata tidak mampu lagi menjadi kekuatan pendamai ketika agama diklaim sebagai satu-satunya jalan yang benar. Tidak heran, pada saat konflik umat Islam dan Kristen berlangsung, sangat sulit menggunakan instrumen-instrumen budaya untuk rekonsiliasi. Sebab solidaritas agama yang ekslusif penuh kebencian lebih dominan sehingga mampu mengalahkan solidaritas budaya.

Keadaan itu telah melahirkan persoalan yang cukup serius, terutama ketika  komunitas beragama, dalam hal ini komunitas Kristen, menghadirkan diri dan berinteraksi dengan umatnya di lingkungan yang sedang berkonflik. Karena itu, dibutuhkan suatu pendekatan yang terkait dalam budaya, bahasa dan simbol lokalnya. Namun kebutuhan tersebut seringkali dipenuhi dengan cara-cara teologis yang irrelevan dan sikap ini memperkuat terserapnya kelompok Kristen ke dalam dunia teologi yang tidak bersentuhan dengan dunia kesehariannya. 

Dalam kondisi seperti itu yang diperlukan bukan hanya pendekatan dari sisi bahasa teologi melainkan, lebih dari itu, perlu melakukan breakthrough atas penjara tradisi-tradisi Barat yang asing dan kembali menemukan akar otentik yang bersumber dari budaya dalam mitos orang Maluku. Mitos yang dimaksud adalah mitos Nusaina dan Nunusaku sebagai dunia sekaligus pusat hidup para leluhur orang Maluku. Dari situ, akan ditemukan suatu teologi masyarakat yang menancap kuat pada akar budaya mereka, sesuatu yang amat real bersentuhan langsung dengan mereka. Bahkan teologi itu adalah pengalaman mereka sendiri (insider) dan bukan sebaliknya, hanya merupakan kebenaran yang diturunkan Tuhan dari langit-langit Surga (outsider) atau dari teori para teolog terkenal.

Teologi feminis

Dalam wacana agama, khususnya mengenai perempuan, terjadi ajang “kontestasi” antara berbagai pihak yang berkepentingan dalam memproduksi makna agama sehingga yang muncul adalah makna yang lebih memenuhi kebutuhan laki-laki. Oleh karena itu kemudian lahirlah teologi feminis sebagai counter atas sejarah dan teologi yang meminggirkan bahkan menyingkirkan perempuan.

Teologi feminis merupakan satu cara pendekatan yang melibatkan perempuan dan laki-laki untuk melakukan transformasi dalam gaya berteologi yang selama berabad-abad dibangun dari sudut pandang laki-laki. Dengan kata lain, teologi feminis berarti usaha dari kaum perempuan dan kaum laki-laki untuk membebaskan diri dari paham atau teologi yang mendiskreditkan perempuan, termasuk di dalamnya tindakan-tindakan sebagai implementasi dari teologi yang memarginalkan perempuan. 

Teologi feminis juga dapat berarti teologi yang melakukan advokasi terhadap kesederajatan (equality) dan kemitraan (partnership) yang di dalamnya laki-laki dan perempuan mengupayakan transformasi dan pembebasan harkat dan martabat manusia yang masih tertindas dalam kehidupan gereja dan masyarakat luas. Margaret Farley (1997) mengaitkan teologi feminis dengan dua prinsip, yaitu kesederajatan (equality), di mana perempuan dan laki-laki sama-sama manusia sepenuhnya, dan prinsip mutualitas, yakni bahwa manusia merupakan subjek yang mewujudkan diri, mandiri dan saling berhubungan. 

Teologi feminis poskolonial sebagai sebuah transformasi atas teologi termasuk teologi feminis itu sendiri. Transformasi di bidang teologi feminis pada setiap tempat berbeda, sesuai konteks yang dihadapi. Di Maluku, cara berteologi sesuai konteks adalah dengan menemukan sumber-sumber baru teologi yang tersebar dalam fragmen, tradisi lokal, syair, pantun/kapata dan mitos-mitos, sambil tetap mencari titik solidaritas yang mempertemukan pengalaman bersama sekaligus beragam. 

  Teologi Ina menghadirkan paradigma bercommunio antara laki-laki dan perempuan  dalam spirit persaudaraan sejati dari satu rahim Alifuru Ina demi menjembatani teologi gereja (agama-agama) dengan semua praktik bergereja yang telah sekian lama memanggang perempuan dalam kuali periferial. Teologi Ina menghadirkan bahasa baru mengenai cinta kasih penderitaan Allah yang penuh misteri (The Suffering Divine).     

 

Melalui tradisi yang digali dari mitos dunia mereka akan membantu komunitas Maluku untuk merengkuh pengalaman baru, tanpa mengorbankan integritas dan identitas dasarnya. Pengalaman baru yang saya maksudkan adalah pengalaman perjumpaan dengan orang atau suku lain, yang berbeda agama dan budaya, namun telah lama menetap di Maluku, hidup dan bersinergi dengan orang Maluku bahkan merasa diri sebagai bagian dari komunitas Maluku. Pengalaman kebersamaan dalam kepelbagaian menuntut orang Maluku untuk menjadikan Maluku sebagai ruang terbuka yang ramah dengan sikap inklusif sehingga semua orang  merasa aman tinggal dan hidup di Maluku.

Orang  Maluku menghayati identitas mereka yang terbangun atas tatanan naratif kehidupan melalui peran para leluhur (Alifuru Ina) sebagai Ina yang inklusif. Ia lah yang melahirkan dan memberikan kehidupan tanpa pamrih. Dalam kehidupan yang tercabik akibat konflik, Ina sebagai sosok yang dirindukan kehadirannya untuk merengkuh anak-anaknya yang pernah berkonflik dan hingga kini masih tetap rentan konflik. Ina adalah sosok yang dapat menawarkan kembali suasana kehidupan kekeluargaan yang ramah, hangat dan penuh kasih. 

Ada dua alasan mengapa suasana itu sangat diharapkan. Pertama  karena dalam kehadiran kekristenan yang dibawa oleh para penginjil Barat, hampir seluruh warisan adat dan tradisi Nusa Ina  dengan agamanya, yakni agama nunusaku, dibasmi dengan tuduhan kafir. Kedua karena masyarakat Maluku sekarang ini, maupun pada masa yang akan datang, adalah masyarakat yang pernah terlibat konflik hebat. Hal mana akan sangat berpotensi terulang, jika tidak ada mekanisme yang dapat diacu untuk mengembalikan perasaan cinta satu terhadap yang lain. 

 

Figur Allah sebagai Ibu

Teologi Ina mengandaikan kasih ibu yang merangkul semua orang dalam pelukan hangatnya yang penuh cinta dan memastikan bahwa tak seorangpun yang tersingkir ke jurang alienasi dan keterpurukan yang menyedihkan, sebab semuanya dirangkul, dihormati, dan diperlakukan setara. Teologi Ina, dalam konteks ini, melukiskan dengan jelas pengalaman orang Maluku akan Allah Ina yang bersemayam di dunia Nusaina, dan memelihara hidup orang Maluku. 

Teologi Ina menghadirkan paradigma bercommunio antara laki-laki dan perempuan  dalam spirit persaudaraan sejati dari satu rahim Alifuru Ina demi menjembatani teologi gereja (agama-agama) dengan semua praktik bergereja yang telah sekian lama memanggang perempuan dalam kuali periferial. Teologi Ina menghadirkan bahasa baru mengenai cinta kasih penderitaan Allah yang penuh misteri (The Suffering Divine). 

Cinta penuh misteri mewujud dalam Diri Allah yang menderita karena cinta-Nya. Bahkan Allah, yang adalah cinta, menuntut dari dalam diri-Nya untuk menderita demi cintaNya itu. Dan para ina serta orang-orang yang menderita karena mencintai kehidupan, mereka yang tertindas karena meninggikan martabat manusia, mereka yang teraniaya oleh budaya patriakat, orang-orang yang disingkirkan karena melakukan kebaikan dan kebenaran, orang-orang yang dikalahkan dengan berbagai strategi demi menghambat ruang kemajuan mereka namun mereka terus melakukan kebaikan, telah melahirkan bahasa baru mengenai cinta. Bahkan suara tangisan kepedihan mereka adalah melodi indah tentang kehidupan. 

Penderitaan Allah yang penuh misteri, the Suffering Divine, menghadirkan cinta-Nya melalui rahim Alifuru Ina kepada semua orang Maluku. Cinta kasih-Nya menyatukan dan mendamaikan Maluku Salam dan Sarane

 

Penulis adalah dosen Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKN) Ambon

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home