Loading...
EKONOMI
Penulis: Melki Pangaribuan 18:25 WIB | Rabu, 09 November 2016

Trump Menang, Sri Mulyani: Ekonomi RI dalam Zona Tak Bahaya

Presiden AS terpilih Donald Trump sewaktu berpidato saat kampanye di acara Special Events Center of the Florida State Fairgrounds di Tampa, Florida pada 5 November 2016. (AFP PHOTO/MANDEL NGAN)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Menteri Kabinet Kerja Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla menyambut baik Presiden Amerika Serikat terpilih Donald Trump yang unggul atas Hillary Clinton dalam pemungutan suara di AS.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, mengatakan dia menghormati pilihan rakyat AS yang memilih pemimpinnya. Menurut dia, Indonesia sebagai negara demokratis juga selalu menghormati pilihan rakyatnya.

"Ya kita hormati pilihan rakyat Amerika itu kan memilih pimpinan mereka. Kita sebagai negara demokratis kita juga ingin selalu dihormati pilihan rakyat. Jadi kalau mereka memilih pemimpinnya kita hormati saja," kata Ani sapaan akrabnya di kompleks Istana Kepresidenan, hari Rabu (9/11) sore. 

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu meminta untuk terus memantau reaksi pasar dari terpilihnya Donald Trump. Dia menilai, reaksi pasar terhadap terpilihnya Trump dari sisi perekonomian Indonesia masih aman dan memberikan kepercayaan dari sisi pengelolaan fiskal, neraca pembiayaan, dan pertumbuhan ekonomi.

"Kita monitor saja dari sisi reaksi pasar. Saya rasa dari sisi perekonomian Indonesia berbagai indikator yang setidaknya memberikan confidence dari sisi pertumbuhan ekonomi, pengelolaan fiskal, neraca pembiayaan kita semuanya relatif tidak pada zona yang berbahaya," kata Ani.

"Sehingga kembali diharapkan bisa menenangkan atau membedakan Indonesia dari sentimen. Ini kan sekarang sentimen yang sifatnya politik, sentimen yang di drive dari kondisi atau pilihan yang dilakukan rakyat Amerika, kita hormati itu," dia menambahkan.

Tapi dampak dari sisi sentimen marketnya, kata Menkeu, maka Indonesia perlu untuk menjelaskan kondisi fondasi dan kebijakan-kebijakan yang tetap fokus menjaga momentum pertumbuhan, menjaga fiskal dan moneter secara baik. 

"Saya kira itu akan membedakan Indonesia dari reaksi market yang sifatnya sekarang ini sedang bereaksi terhadap pilihan itu. Tentu akan tergantung bagaimana policynya sesudah itu. Kita tetap pada fondasi Indonesia sajalah. Market itu kan bereaksi berdasarkan informasi dan harapan yang mereka miliki, tentu tergantung dari harapan mereka terhadap apa yang berkembang di AS," lanjutnya. 

Ani mengatakan, berbagai pilihan politik dari pemerintahan AS, dengan adanya pemerintah yang berubah tentu mereka akan membuat berbagai review politik sendiri. Menurut dia, kalau hubungan Indonesia dengan seluruh dunia, dalam hal ini perdagangan, merupakan salah satu faktor yang kuat, tapi destinasi perdagangan Indonesia mayoritas ada di Asia di Eropa. 

"Kita masih bisa meningkatkan lebih banyak dengan destinasi market. Kalau kita bicara tentang berbagai macam hubungan yang sifatnya investasi banyak yang berasal dari Asia. Jadi saya rasa Amerika biar saja mereka mengelola demokrasinyalah," kata dia.

Sementara ketika satuharapan.com menanyakan komentar Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution, dia tidak ingin berkomentar banyak.  Menurutnya, pemilihan Presiden AS merupakan hak warga AS. 

"Ha, ha, ha, saya enggak mau komentarlah itu namanya hak orang di sana (AS). Itu haknya orang di Amerika sana," kata Darmin seraya tertawa.

Sementara itu mengenai  hubungan Indonesia-AS ternasuk terkait kesepakatan perdagangan bebas Trans-Pacific Partnership (TPP), Darmin mengatakan akan menunggu kebijakan Donald Trump apakah akan melanjutkan TPP atau tidak.

"Kita lihat, di kita juga enggak tahu, Trump meneruskan apa enggak? Kita lihat dulu. Kita kan masih dalam tahap mempelajari TPP. Kita belum memutuskan untuk masuk. Kita masih tahap mempelajari," kata Darmin.

"Kita lihat pemerintah (Donald Trump) yang sekarang ini, yang baru ini bisa melakukan apa? (TPP) diteruskan apa enggak?" dia menegaskan.

 

Editor : Eben E. Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home