Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 06:50 WIB | Selasa, 28 Juli 2020

Ulama Turki Dikecam Terkait Pernyataannya tentang Hagia Sophia

Gambar yang dirilis oleh kantor pers kepresidenan Turki pada 23 Juli, menunjukkan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan (tengah), Menteri Pariwisata, Mehmet Nuri Ersoy (kanan) dan Kepala Direktorat Urusan Agama Turki, Diyanet, Ali Erbas (kiri) berpose di Hagia Sophia di Istanbul. (Foto: AFP)

ISTANBUL, SATUHARAPAN.COM-Ulama terkemuka Turki diserang dengan kritikan, karena komentarnya yang dianggap ofensif terhadap pendiri republik modern Turki, Mustafa Kemal Ataturk, dalam khotbah Jumat di ikon Istanbul, Hagia Sophia, yang diubah dari museum menjadi masjid.

Ali Erbas, kepala badan keagamaan tertinggi Turki yang dikenal sebagai Diyanet, memimpin shalat Jumat di monumen itu yang dihadiri oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan dan ribuan lainnya.

Shalat Jumat itu mengikuti putusan pengadilan untuk membatalkan dekrit tahun 1934 yang menjadikan Hagia Sophia sebuah museum di bawah republik baru yang lahir setelah runtuhnya Kekaisaran Ottoman.

Hagia Sophia dibangun sebagai katedral pada masa Kekaisaran Kristen Bizantium pada abad keenam. Bangunan itu dikonversi menjadi masjid setelah penaklukan oleh Kekaisaran Ottoman Konstantinopel pada tahun 1453.

Namun Erdogan menandatangani dekrit bulan ini yang menyerahkan kendali gedung kepada Diyanet, sehingga dapat digunakan sebagai masjid, sebuah langkah yang memicu kecaman dari Barat.

Pernyataan Ali Erbas

Dalam khotbah Jumatnya, Erbas mengatakan: "Sultan Mehmet Sang Penakluk menganugerahi dan mempercayakan tempat ibadah yang luar biasa ini bagaikan biji matanya kepada orang-orang beriman dengan syarat bahwa itu harus tetap menjadi masjid sampai hari terakhir.

"Setiap properti yang diberkahi tidak dapat diganggu gugat dalam keyakinan kami dan membakar siapa pun yang menyentuhnya; piagam sang pewaris sangat diperlukan dan siapa pun yang melanggar atasnya dikutuk.

"Karena itu, sejak hari itu hingga saat ini, Hagia Sophia telah menjadi tempat perlindungan tidak hanya negara kita tetapi juga umatnya Nabi Muhammad," tambah Erbas, merujuk pada komunitas Muslim.

Kritikan pada Ali Erbas

Partai-partai oposisi mengecam Erbas, mengatakan komentarnya jelas-jelas menargetkan Ataturk.

Ozgur Ozel dari oposisi utama Partai Rakyat Republik (CHP) mengatakan: "Anda tidak bisa mengutuk Ataturk saat Anda duduk di kursi Diyanet yang didirikan oleh Ataturk. "Ali Erbas, saya bersumpah bahwa Anda akan membayar harga dengan mengutuk Ataturk," kata Ozel di Twitter.

Partai Iyi (Baik) sayap kanan pada hari Senin (27/7) mengajukan pengaduan terhadap Erbas, menuduhnya "melanggar pasal-pasal konstitusi Turki yang tidak dapat disentuh". Di media sosial, tagar "Ali Erbas, tahu tempatmu" adalah topik yang sedang hangat di Turki.

Seorang pengguna Twitter, @yanikmehmetali, menulis: "Kapan Anda berdoa untuk Ataturk selama masa kepresidenan Anda? @DIBAliErbas, jangan tinggal di Diyanet yang didirikan oleh Ataturk, berhentilah."

Pemerintah Turki telah lama dituduh oleh penentang sekulernya yang memaksakan nilai-nilai Islam pada negara yang mayoritas penduduknya Muslim tetapi sekuler.

Namun Erbas membantah klaim tersebut, dalam sebuah wawancara dengan media setempat, Hurriyet. “saya merujuk masa depan, bukan masa lalu," katanya. "Ataturk meninggal 82 tahun yang lalu. Doa dikatakan untuk siapa saja yang meninggal, bukan kutukan." (AFP)

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home