Loading...
HAM
Penulis: Tunggul Tauladan 23:27 WIB | Kamis, 27 Agustus 2015

Wartawan Udin dalam Bingkai Karya Seni

Penampilan Dendang Kampungan dalam pembukaan Pameran Seni "Tribute to Udin" pada Kamis (27/8) (Foto: Tunggul Tauladan)

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM -- Ajakan “Menolak Lupa” untuk menyesapi semangat perjuangan seorang Fuad Muhammad Syafruddin (Udin) kembali dihadirkan di Yogyakarta. Kali ini, ajakan “Menolak Lupa” diwujudkan dalam sebuah pameran seni bertajuk “Tribute to Udin”. Pameran yang berlangsung pada Kamis-Minggu (27-30/8) ini secara khusus mengajak kita untuk terus mengingat dan berupaya menuntaskan kasus Udin yang telah berumur 19 tahun.

Pameran “Tribute to Udin” digagas oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta yang bekerjasama dengan Yayasan Tifa dan para seniman. Pameran yang digelar di Galeri Lembaga Indonesia Perancis (LIP) ini menampilkan beragam karya seni, yaitu berupa lukisan, video, puisi, dan seni instalasi. Menurut Ketua Panitia Pameran Seni “Tribute to Udin”, Anang Zakaria total terdapat 35 karya dalam pameran yang dibuka pada Kamis (27/8) malam tersebut.

“Pameran seni ini merupakan yang pertama kali dalam peringatan kematian wartawan Udin,” kata Anang Zakaria.

Pameran Seni “Tribute to Udin” dibuka oleh Dwi Sumaji alias Iwik, orang yang dikambinghitamkan sebagai tersangka dalam kasus Udin. Selain Iwik, dalam pembukaan pameran juga tampil beberapa grup musik yang secara kritis menyampaikan kritik sosial, seperti Sisir Tanah dan Dendang Kampungan.

Penanggungjawab peringatan bertajuk “Tribute to Udin”, Tommy Apriando mengapresiasi semua pihak yang peduli terhadap penuntasan kasus Udin. Menurut Tommy, salah satu bentuk kepedulian datang dari para seniman yang memasukkan karya-karya mereka ke dalam pameran. Hal ini menjadi bukti bahwa kasus Udin kini tak lagi menjadi ranah jurnalis saja, namun juga para seniman.

“Ini bukti bahwa kawan-kawan seniman juga menaruh kepedulian terhadap wartawan Udin,” jelas Tommy Apriando.

Secara khusus, Tommy berharap kepada aparat untuk bisa masuk lebih dalam, menggali, dan menuntaskan kasus Udin. Salah satunya adalah melihat kondisi terkini dari keluarga Udin. Harapannya, mata perintah akan terbuka, bahwa kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), yang dalam hal ini menimpa jurnalis, sampai hari ini masih belum tuntas.

“Kasus wartawan Udin hanya contoh. Kami yakin, sebenarnya kepolisian mampu menuntaskan kasus-kasus kekerasan terhadap jurnalis,” ucap Tommy.

Pameran Seni “Tribute to Udin” merupakan salah satu rangkaian dalam upaya untuk menuntaskan kasus Udin. Sebelumnya, rangkaian peringatan 19 tahun kasus Udin ditandai dengan aksi 16-an, yaitu sebuah aksi diam dengan memplester mulut di depan Gedung Agung yang dilakukan setiap tanggal 16; dilanjutkan dengan aksi mural di Jembatan Kewek pada (16/8); serta Seminar Nasional bertajuk “Menghentikan Kekerasan Terhadap Jurnalis dan Penuntasan Kasus Udin” pada Jum’at (21/8).

Peringatan 19 tahun kasus Udin menggambarkan bahwa pembungkaman terhadap kebenaran sampai hari ini masih ada. Semangat kemerdekaan yang tertuang dalam upaya untuk lepas dari penjajahan, sebagaimana gaung 17 Agustus, ternyata belum menyentuh ke semua sendi kehidupan. Beberapa orang masih meyakini bahwa, “Merdeka itu kasus Udin tuntas”. 

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home