Loading...
LAYANAN PUBLIK
Penulis: Melki Pangaribuan 20:08 WIB | Jumat, 19 Agustus 2016

YLKI: Tarif KRL Tak Perlu Naik Jika Dana PSO Ditambah

YLKI juga menilai kenaikan tarif KRL seharusnya ada jaminan kenaikan pelayanan pada konsumennya.
Ilustrasi. Para calon penumpang saat berada di area peron stasiun kereta Palmerah, Jakarta Pusat yang menghubungkan kota Jakarta dan Tangerang. (Foto: Dok. Satuharapan.com/Dedy Istanto)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia menilai tarif kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek per tanggal 1 Oktober 2016 seharusnya tidak perlu naik jika pemerintah menambah dana kewajiban pelayanan publik (Public service obligation/PSO).

“Tanggungjawab menyediakan transportasi publik adalah tanggungjawab pemerintah, Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Seharusnya Kemenhub menggelontorkan dana PSO lebih banyak untuk angkutan publik seperti KRL, sehingga KRL tidak perlu dinaikkan tarifnya,” kata Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi dalam keterangan tertulis.

"Kenaikan tarif akan berdampak pada pengurangan akses masyarakat pada angkutan umum seperti KRL,” dia menambahkan.

YLKI juga menilai kenaikan tarif KRL seharusnya ada jaminan kenaikan pelayanan pada konsumennya. Namun nyata sekarang ini pelayanan KRL masih banyak dikeluhkan konsumen, khususnya antrian yang sangat lama di Manggarai.

“YLKI mendesak pemerintah untuk mempercepat pembangunan double double track di Manggarai, sehingga mampu mengatasi antrian KA di Manggarai,” kata Tulus.

Tulus mengatakan masih banyaknya lintasan sebidang menjadi kendala untuk meningkatkan pelayanan, karena PT KCJ tidak bisa lagi meningkatkan headway KRL menjadi kurang dari lima menit seperti sekarang ini.

“Untuk mengatasi hal itu, pada lintasan sebidang harus segera dibangun under pass atau fly over. Pemprov DKI,  Pemda Bogor; seharusnya segera membangun fly over atau under pass untuk mengatasi lintasan sebidang itu, demi meningkatkan safety dan antrian di jalan raya,” kata Tulus.

Naik Rp 1.000

Sebelumnya, Direktur Utama PT KAI Commuter Jabodetabek, Fadhil, mengatakan tarif KRL Jabodetabek per tanggal 1 Oktober 2016 akan mengalami penyesuaian sebesar Rp 1.000 untuk seluruh relasi.

Penyesuaian tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 35 Tahun 2016 tentang Tarif Angkutan Orang dengan Kereta Api Pelayanan Kelas Ekonomi untuk Melaksanakan Kewajiban Pelayanan Publik (PSO).

“Latar belakang penyesuaian tarif ini juga dilakukan dengan mempertimbangkan kemampuan daya beli masyarakat yang semakin meningkat, program pengembangan KRL ke depannya melalui tolok ukur pelayanan KRL yang semakin membaik, serta ketersediaan dana PSO untuk transportasi kereta api yang menyesuaikan dengan kemampuan keuangan negara,” ujar Direktur Utama PT KAI Commuter Jabodetabek, Fadhil, dalam konferensi pers di Jakarta Railway Center (JRC), Jakarta Pusat, hari Kamis (18/8) sore.

Selain itu, lanjut dia, pemerintah juga mengalokasikan dana PSO secara proporsional untuk angkutan kereta api di luar KRL seperti kereta api antar kota dan kereta perkotaan/komuter.

PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) senantiasa ingin meningkatkan pelayanan kepada para pengguna KRL Jabodetabek sesuai dengan visi dan misi sebagai penyedia jasa angkutan kereta komuter. Dari sisi sarana KRL, PT KCJ terus berinvestasi untuk menambah sarana KRL dan melakukan perawatan sarana.

“Pada tahun 2016 ini PT KCJ membeli 60 unit KRL dari Jepang,” ujar Fadhil.

Ia menjelaskan, sebanyak 30 unit KRL gelombang pengiriman yang pertama telah tiba di Jakarta pada akhir Juli lalu, dan saat ini, sedang dalam tahap persiapan teknis untuk mulai dioperasikan.

Investasi Penambahan Kapasitas

Selain itu, guna terus mengimbangi pertumbuhan pengguna jasa KRL, PT KCJ telah melakukan investasi penambahan kapasitas angkut dengan memperpanjang rangkaian KRL yang sebelumnya hanya terdiri dari delapan kereta, menjadi satu rangkaian dua belas kereta (SF 12) dan sepuluh kereta (SF 10).

Perpanjangan rangkaian juga diikuti dengan pembangunan prasarana stasiun berupa perpanjangan peron, pembuatan jalan fasilitas disabilitas, membangun pos kesehatan, pembangunan toilet, dan pembangunan musala.

Dari sisi keamanan dan keselamatan, tahun 2016 fasilitas penyebrangan antar peron untuk pengguna jasa berupa JPO dan underpass juga sedang dalam tahap pembangunan yang ditargetkan akan selesai pada akhir tahun 2016.

Fadhil mengungkapkan, PT KCJ juga akan memberikan kemudahan dan modernisasi transaksi tiket yang dikembangkan melalui kehadiran mesin transaksi tiket mandiri atau vending machine (CVIM).

“Saat ini sudah ada 50 unit perangkat vending machine di sejumlah stasiun. Hingga akhir tahun 2016, PT KCJ rencananya akan menambah sekitar 200 vending machine yang akan dioperasikan melengkapi stasiun KRL lainnya,” katanya.

CVIM merupakan mesin yang dapat mengakomodir pembelian tiket harian berjaminan (THB), pengisian ulang tarif THB, dan pengembalian uang jaminan.

PT KCJ kini juga menghadirkan aplikasi KRL Accsess yang dapat diunduh melalui android dan IOS. Aplikasi KRL Accsess dihadirkan dengan sejumlah menu, seperti posisi real time KRL, kondisi perjalanan KRL terkini, pengecekan besaran tarif, peta rute, dan sambungan langsung menuju seluruh media sosial yang dimiliki PT KCJ. Pada aplikasi ini, pengguna jasa juga dapat menyampaikan saran dan kritik melalui email resmi perusahaan.

Selain itu, PT KCJ juga telah menghadirkan layanan lost and found untuk mempermudah pengguna jasa yang mencari barang bawaan yang tertinggal dan masih dapat ditemukan oleh petugas meski seluruh barang bawaan tetap menjadi tanggung jawab para pengguna jasa.

Fadhil berharap perbaikan pelayanan untuk pengguna jasa yang telah dan akan dilakukan PT KCJ menjadi bagian dari solusi permasalahan transportasi di Jabodetabek dan sekaligus dapat mencapai target 1,2 juta penumpang per hari pada tahun 2019.

Editor : Eben E. Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home