Google+
Loading...
OPINI
Penulis: Martin Lukito Sinaga 19:38 WIB | Kamis, 28 Mei 2020

Api Pentakosta Blaise Pascal

”Hati mempunyai akalnya sendiri, yang tidak dikenal oleh akal” (Pascal)

SATUHARAPAN.COM –Tahun rahmat 1654…

Hari Senin 23 November…

Kira-kira jam setengah sepuluh malam sampai setengah jam setelah tengah malam.

API… API…

Allah Abraham, Ishak dan Yakub. Bukan Allah para filsuf dan kaum ilmuwan. Kemantapan hati. Kemantapan hati. Perasaan. Gembira. Damai.

Allah dari Yesus Kristus.

Api Pentakosta seolah menghangatkan seluruh hidup Pascal pada malam itu, hal yang lama didambanya. Ia adalah seorang ilmuwan besar Perancis—penemu dasar sistem kalkulator, penemu teori probabilitas matematik dan pengukuran untuk barometer, dan banyak lainnya—yang bergulat sepanjang hidupnya mendamaikan iman dan akal atau rasio. Ia lahir pada 1623 dan dianggap sebagai seorang jenius Perancis; ia juga dikenal bersikap kritis atas gerakan Jesuit khususnya karena ia bersimpati pada pemikiran Jansenisme, yang corak teologisnya dekat dengan Calvinisme.

Pascal percaya pada anugerah radikal, yang hanya kalau diberikan Tuhan maka manusia baru bisa datang pada-Nya, dan selanjutnya menerima keselamatannya. Pascal mengalami dalam momen ”API” di atas kepastian rahmat keselamatan Tuhan yang lama dinanti dan dipikirkannya itu. Pengalaman ”API” di atas seolah suatu momen saat hatinya dipenuhi Roh Pentakosta, yang membuat hidupnya cerah dan penuh sukacita.

Pikiran-pikiran Pascal yang menggumuli dan mencoba mendamaikan hubungan iman dan akal dituliskannya dalam buku perenungan, yang tertera seperti potongan-potongan fragmen berjudul Pensées (Pikiran-Pikiran, terbit 1670). Saya menemukan bahwa penerbit BPK Gunung Mulia (tahun 1959) telah menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagian naskah buku tersebut—Pascal dan Buah Renungannyadan bahkan meminta penulis besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer untuk menerjemahkan dan menyadur sejumlah fragmen dari buku tersebut.

***

Tiadalah aku dapat memaafkan Descartes.

Ia hendak menempatkan seluruh filsafatnya di luar Tuhan.

Tetapi mau tidak mau ia harus membiarkan Tuhan menggerakkan ujung jari-Nya supaya dunia ini dapat berputar;

selanjutnya tiadalah ia membutuhkan Tuhan lagi (Pensées, fragmen 77).

Kala itu di Eropa cukup mendalam pengaruh pemikiran Descartes, yang bertitik tolak pada subjek yang berpikir (cogito ergo sum) untuk memastikan terbentuknya bangunan suatu pengetahuan; hanya rasio yang dapat dengan jernih memilah dan menetapkan kebenaran. Allah dipahami Descartes sebagai ide bawaan (innate ideas) yang sudah termaktub dalam pikiran, yang akan menjamin kepastian pengetahuan rasional kita akan Allah. Lebih lagi, Allah merupakan ide yang menjamin kepastian penangkapan akal manusia atas realitas di luar dirinya.

Bagi Pascal, cara Descartes ini membuat Allah hanya diandaikan saja, dibiarkan tanpa bisa ditemui lagi sebagai pribadi. Karena itu, Pascal tak bisa memaafkan Descartes; bagi Pascal mesti ditemukan cara lain memastikan dan menemui Allah, maka katanya, ”hati mempunyai akalnya sendiri, yang tidak dikenal oleh akal” Le coeur a ses raisons, que la raison ne connait point (Pensées, fragmen 423).

Berlawanankah hati yang berakal dengan akal itu sendiri? Di sinilah tampak kedalaman pergulatan Pascal, yang berbeda dengan pendekatan sebagian kelompok agama yang antirasio, yang kerap menghentikan segala upaya percakapan rasional dalam menjelaskan iman. Pascal menjelaskan bahwa akal memang bisa hanya bekerja secara matematis saja (esprit geometrique, istilah Pascal), tetapi akal juga sesungguhnya bisa bekerja seperti lazimnya hati, yaitu dengan esprit de finesse, artinya dengan cara halus dan subtil. Kata finesse dalam bahasa Perancis ini dekat dengan kata finitude, yang artinya ”berbatas”; dalam arti inilah akal yang halus (atau hati yang berakal halus) itu kiranya bekerja, ia bersikap rendah hati akan keterbatasannya, sehingga terbuka kepada yang tak tepermanai.

Kalau akal tak mau melihat dimensi halus darinya dengan bekerja seperti hati, coeur, maka akal sesungguhnya tak konsisten dengan dirinya. Bagi Pascal semakin akal atau rasio bekerja secara konsisten dengan caranya yang khas, ia mesti melihat ketidakterbatasan sebagai temuannya atau pun kesimpulannya sendiri.

Langkah terakhir akal ialah mengakui bahwa hitungan memiliki angka tak terbatas, yang akan selalu melampaui hitungan tersebut.

Akal menjadi lumpuh kalau ia tidak sadar akan ketidakterbatasan angka setelah ia mulai menghitung (Pensées, fragmen 188).

Dengan kata lain, Pascal yang memang konsisten berpikir rasional dan matematis berarti juga oleh rasonalitasnya sendiri mengakui ketidakterbatasan segala sesuatu, dan itu membuat akal perlu bersikap halus, esprit de finesse, lalu terbuka. Kemuliaan manusia ada pada akalnya, dan kedalaman akal ada pada kehalusannya.   

Manusia hanyalah sebatang lalang;

Yang paling lemah daripada alam, tetapi ia adalah lalang berakal.

Tiadalah perlu, bahwa alam semesta mempersenjatai diri untuk membinasakannya.

Tetapi apabila alam semesta itu membinasakannya, maka manusia itu tetap lebih mulia daripada yang membuatnya binasa. Alam semesti tiada mengetahui sesuatu pun.

Jadi, seluruh keunggulan kita terletak dalam berpikir (Pensées, fragmen 347).

***

Perenungan Pascal akan kaitan iman dan akal di atas bukan suatu pergumulan di atas meja akademis, tetapi pergumulan dalam ia menanggung penyakitnya. Pascal meninggal pada usia 39 tahun, dan ia bertanya terus tentang tanggungannya itu, apalagi ia mengalami sulit tidur yang akut. Pascal merenungkan keadaannya itu sambil merenungkan Kristus, dan baginya ”Kristus disalibkan sampai akhir dunia”.

Dan Pascal menemukan dirinya seperti murid-murid Kristus yang diminta untuk senantiasa berjaga-jaga. Dalam sakitnya itu Pascal bekerja selaku ilmuwan, tetapi juga memeriksa kecenderungan dirinya yang bisa kosong tanpa kehangatan ilahi. Baginya ini tak tersembuhkan, kalau anugerah tak diberikan padanya. Dua unsur dirinya inilah yang terus ia hayati dengan tetap terjaga: akal matematisnya yang membuatnya memahami realitas material, dan akal halus-nya yang membuatnya menanti dan merasakan anugerah Tuhan.

Tak kurang momen Pentakosta kita hari-hari ini bercorak pascalian, bahkan sekalipun segera kita akan memasuki suasana ”new-normal” pascapandemi Covid-19 di Indonesia ini. Seperti Pascal, tak bisa lagi kita ”tertidur” begitu saja, tetapi mesti berjaga-jaga. Kita pun perlu melengkapi diri dengan akal agar protokol kesehatan secara terinci dapat kita kerjakan. Tak ada yang mitis ataupun menakutkan dalam proses memutus rantai penularan virus ini. Semua mesti secara rasional kita lalui, bahkan dengan rasio matematis.

Tetapi tak perlu ini mematikan hati atau akal yang halus, esprit de finesse kita, yang seperti Pascal terbuka menantikan momen ”API” Pentakosta menghangatkan diri kita. Dan inilah makna merayakan Pentakosta kali ini, yang walau tanpa ibadah raya penuh pujian di gedung-gedung gereja, kiranya ia tetap menggelorakan hati ataupun akal-halus kita, menyambut kepastian pascalian: Allah Abraham, Ishak, dan Yakub… Kemantapan hati. Kemantapan hati. Perasaan. Gembira. Damai.

 

Martin Lukito Sinaga (Dosen Luar Biasa di STFT Jakarta dan STF Driyarkara)

Editor : Yoel M Indrasmoro

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
7 Dasawarsa BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home