Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Priskila Prima Hevina 03:30 WIB | Kamis, 12 Oktober 2017

Apology Letter to My Body

Perlakukan dengan hormat dan bersyukurlah atas tubuh kita!
Berbahagialah dengan tubuhmu! (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki ke negara manca beberapa minggu lalu. Itu adalah perjalanan paling jauh dari rumah yang pernah saya lakoni. Liburan usai, saya pulang ke Indonesia. Hal pertama yang saya lakukan adalah melihat-lihat album foto liburan yang terekam di ponsel. Mata saya tertuju pada bentuk kaki saya yang tampak gemuk di gambar. Sekejap saya mengumpat: ”Ya, ampun kakiku gedhe banget, malu-maluin!”

Saya nyaris urung memublikasi foto tersebut di media sosial instagram. Tiba-tiba sebuah teguran mampir di kepala: Semestinya kamu bersyukur punya sepasang kaki. Sepasang kaki adalah karunia. Tanpa sepasang kaki, saya tak bisa menjejak tanah baru dan mengalami liburan yang berkesan. Saya peluk kaki saya sambil meminta maaf atas sikap saya sebelumnya.

Saya pernah membaca sebuah komik strip yang berjudul Apology Letter to My Body  ’surat permintaan maaf kepada tubuh’. Pada rambut yang sulit diatur. Pada hidung yang pesek. Pada pipi yang tembem. Pada perut yang bergelambir. Pada pantat yang rata. Pada setiap bagian tubuh yang kepadanya kita berkeluh, tidak bangga, bahkan malu memiliki bentuk tubuh yang kita punya.  Permintaan maaf pada komik itu diakhiri dengan pengakuan bahwa kondisi tubuh yang ada sekarang sempurna.

Budaya dan peradaban manusia menghasilkan ukuran-ukuran penilaian terhadap bagaimana harusnya tubuh berbentuk. Karena itu, ketika kita mendapati tubuh yang kita punya tidak sesuai dengan ukuran tersebut, rasanya ada saja protes yang dilayangkan pada tubuh sendiri. Kadang malah, mereka yang sudah punya bentuk tubuh ideal pun tetap mengeluh dengan tubuhnya. Ada saja yang kurang.

Bagian tubuh yang kita rutuki itu adalah bagian yang dirindukan oleh orang yang tidak memilikinya. Protes karena mata yang sipit? Coba ingat mereka yang tuna netra. Tidak suka bentuk kaki yang besar? Coba lihat mereka yang tunadaksa. Benci dengan perut yang menggelambir lemak? Coba bayangkan nasib mereka yang mengalami busung lapar.

Menjaga tubuh itu wajib dan sah-sah saja andaikata kita berolahraga atau mengenakan riasan agar tampil lebih baik. Tapi dasarnya bukan ketidaksukaan pada bentuknya yang orisinal. Kita tidak berhak memasang alasan malu dengan tubuh yang ada. Apa kita lupa bersyukur bahwa tubuh adalah karunia? Tubuh yang ada sekarang adalah bentukan tangan Tuhan sendiri, istimewa dan sempurna bagi setiap penerimanya.

Jadi, masih menggerutu dengan jari yang pendek-pendek? Atau masih kesal dengan pipi yang jauh dari tirus? Minta maaflah pada tubuhmu sendiri dan kepada Dia yang menciptakannya. Perlakukan dengan hormat dan bersyukurlah atas tubuh kita!

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home