Google+
Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Dewasasri M Wardani 21:38 WIB | Senin, 17 September 2018

Artichoke, untuk Kesehatan Hati

Artichoke (Cynara cardunculus var. Scolymus). (Foto: simplyrecipes.com)

SATUHARAPAN.COM – Artichoke memang bukan sayuran asli Indonesia. Bahkan masih asing bagi sebagian dari kita. Namun, tidak ada salahnya untuk mengenalnya.

Bentuknya bulat bertangkai, dengan sisik-sisik besar berbentuk segitiga. Bagian yang bisa dimakan adalah di bagian bawah dari sisik bunga kuncup yang disebut “jantung” artichoke.

Walaupun belum dikenal oleh masyarakat Indonesia, kehadiran artichoke banyak dijumpai dalam menu hidangan berbagai restoran internasional, khususnya yang mengusung sajian bergaya Mediterania.

“Jantung” artichoke adalah makanan sehat dan menjadi bahan serbaguna bernutrisi tinggi dari daratan Mediterania, yang dimakan sebagai salad, dipanggang, dibakar, hingga dikukus. Artichoke dianggap sayuran karena bentuknya, namun artichoke sebenarnya adalah tunas dari tanaman berbunga dari keluarga tanaman thistle.

Artichoke, dikutip dari healwithfood.org, merupakan suplemen herbal untuk detoksifikasi hati. Praktisi pengobatan alternatif sering merekomendasikan ekstrak artichoke untuk meningkatkan fungsi hati dan ginjal. Efek detoksifikasi artichoke sebagian besar disebabkan oleh cynarin dan asam klorogenat, senyawa yang diyakini melindungi dan menyembuhkan hati dan membantu ginjal menyaring racun dari darah.

Kandungan cynarin artichoke, dikutip dari mercola.com, dapat membantu meningkatkan produksi empedu, yang menghilangkan racun berbahaya dan lemak pencernaan. Selain itu, silymarin dapat menghalangi proses peroksidasi lipid terjadi di membran sel jaringan hati.

Hal itu telah dibuktikan oleh tim peneliti Laboratorium Farmakologi Fakultas Kedokteran Tunisia. Mereka melakukan studi farmakologi ekstrak daun artichoke dan manfaat kesehatannya. 

Ekstrak daun artichoke (Cynara scolymus) adalah salah satu dari sedikit obat herbal yang uji klinis dan eksperimentalnya telah melengkapi satu sama lain. Baik efek eksperimental maupun klinis telah diverifikasi melalui penelitian obat herbal biomedis yang ekstensif.

Secara khusus, ekstrak tersebut memiliki efek antioksidan, choleretic, hepatoprotective, peningkatan empedu, dan penurun lipid. Bahkan menurut penelitian yang sedang berlangsung, menunjukkan artichoke memang memiliki kualitas obat. Yang paling signifikan tampaknya efek menguntungkan pada hati. Dalam penelitian hewan, ekstrak telah menunjukkan kemampuan untuk melindungi hati, bahkan mungkin untuk membantu sel hati beregenerasi.

Pemerian Botani Tanaman Artichoke

Artichoke, menurut Wikipedia, tumbuh hingga 1,4 sampai 2 meter, dengan melengkung, sangat lobus, keperakan, daunnya hijau keabu-abuan. Bunga-bunga berkembang di kepala besar dari tunasnya, dapat dimakan. Kuntumnya berwarna ungu.

Bagian yang dapat dimakan dari tunas, terutama pangkal bagian bawah yang berdaging, yang dikenal sebagai “jantung”, Massa kuntum imatur di tengah kuncup disebut “choke” atau jenggot.

Artichoke terdiri atas beberapa jenis yang terbagi mulai dari ragam warna putih hingga ungu. Namun, yang kini populer dikonsumsi adalah yang berwarna hijau tua. Sekilas tampilannya segar dan cocok sebagai campuran salad, namun sebenarnya artichoke mentah memiliki serat kasar dan ujung daun yang samar-samar tajam.

Jika mengonsumsinya dalam kondisi mentah, dikhawatirkan akan berisiko melukai sistem pencernaan.

Sejarah Penggunaan Artichoke

Artichoke, menurut Wikipedia, disebutkan sebagai tanaman kebun pada abad ke-8 SM oleh Homer dan Hesiod. Jenis artichoke, cardoon (Cynara cardunculus) berasal dari daerah Mediterania, merupakan makanan orang Yunani dan Romawi kuno. Varietas artichoke dibudidayakan di Sisilia dimulai pada zaman Yunani kuno.

Artichoke, digemari karena konon merupakan afrodisiak alami, selain tentu saja lezat rasanya. Disebut sebagai afrodisiak alami, bisa jadi berasal dari legenda Yunani kuno yang menyebut bunga artichoke sebagai jelmaan wanita cantik bernama Cynara, seperti dikutip dari esquire.co.id. Karena suatu hal, ia dikutuk oleh Dewa Zeus menjadi bunga.

Ranah ilmiah pun kemudian mengadaptasi nama Cynara sebagai nama latin untuk arthicoke, Cynara cardunculus.

Lengkapnya, artichoke, mengutip Wikipedia, memiliki nama ilmiah, Cynara cardunculus var. Scolymus. Orang-orang Yunani menyebutnya kaktos. Orang Romawi menyebut carduus .

Artichoke juga dikenal dalam berbagai nama lokal, dikutip dari stylecraze.com, yakni alcachofa (Spanyol), artichaut (Prancis), al-harsuf (Arab), artischoke (Jerman). Dalam bahasa Mandarin, artichoke dikenal dengan nama chao xian ji.

Belanda memperkenalkan artichoke ke Inggris, yang kemudian dibudidayakan di kebun Henry VIII di Newhall pada 1530. Pada abad ke-19, artichoke dibawa ke Louisiana, Amerika Serikat, oleh imigran Prancis, dan ke California oleh imigran Spanyol.

Saat ini, budidaya artichoke dunia terkonsentrasi di negara-negara yang berbatasan dengan cekungan Mediterania. Produsen utama Eropa adalah Italia, Spanyol, dan Prancis. Di Benua Amerika, produsen utama adalah Argentina, Peru, dan Amerika Serikat.

Di Amerika Serikat, California menyediakan hampir 100 persen dari panen AS, dan sekitar 80 persen dari yang ditanam di Monterey County. Baru-baru ini, artichoke tumbuh di Afrika Selatan di sebuah kota kecil bernama Parys yang terletak di sepanjang Sungai Vaal.

Di Indonesia, bunga arthicoke biasanya diimpor dari Australia dan Selandia Baru, karena masih sedikit yang membudidayakannya.

Bunga arthicoke umum dijual dalam dua versi, yakni potongan dalam botol kaca dan bentuk kalengan. Harga potongan bunga arthicoke dalam botol kaca lebih mahal dibandingkan yang dijual dalam bentuk kaleng karena mengedepankan kesegarannya. Sedangkan dalam bentuk kaleng merupakan cacahan artichoke yang disimpan dalam larutan cuka, sehingga memiliki aroma yang sedikit berbeda. Tetap enak disantap, namun harumnya kurang terasa.

Cara terbaik untuk mengonsumsi arthicoke, dikutip dari esquire.co.id, adalah dengan memisahkannya dari tangkai, lalu merebus di air mendidih. Setelah matang, kupas setiap kelopaknya dan rendam beberapa saat dengan vinaigrette, yakni dressing salad berbahan campuran cuka, sari lemon, minyak zaitun, dan beberapa jenis rempah dedaunan.

Rasa yang dihasilkan adalah perpaduan antara segarnya sayuran dan rasa asin bercampur sedikit manis dan asam. Artichoke bisa jadi bahan salad setelah direbus sampai empuk, atau cukup ditumis.

Di Prancis artichoke populer digoreng dengan deep fried (dalam minyak penuh). Atau bisa juga dengan mengupas lapisan luar dari daun artichoke dan memangkas bagian ujungnya. Artichoke dimasukkan ke panci yang berisi air mendidih dan dibiarkan selama 10 menit. Setelah dingin, dibelah dua dan dikeluarkan bagian dalamnya yang berbulu. Ditambahkan bumbu sesuai selera. Minyak zaitun, perasan jeruk, bawang putih, dan daun seledri adalah bahan-bahan yang sempurna untuk artichoke. Bakar selama 5 menit dan hidangkan.

Manfaat Herbal Artichoke

Artichoke, dikutip dari stylecraze.com, kaya akan agen bioaktif apigenin dan luteolin, dan aktivitas antioksidan dari kepala bunga artichoke adalah yang paling tinggi dilaporkan dalam sayuran. Selain itu juga senyawa polifenol ditemukan dalam konsentrasi yang lebih tinggi di daun tanaman.

Beberapa senyawa yang sangat penting dalam ekstrak daun artichoke adalah: cynarin, yang bekerja pada sel-sel hati untuk meningkatkan produksi empedu, cynaropicrin yang membuat rasa artichoke pahit, cynaroside yang memiliki sifat anti-inflamasi, sterol yang membantu mengurangi jumlah kolesterol yang diserap dari usus ke dalam aliran darah.

Kandungan vitamin dan nutrisi serta mineral yang ada pada artichoke sangat berguna bagi seluruh kesehatan tubuh, karena di dalam artichoke terdapat silmarin. Silmarin merupakan zat super antioksidan, berfungsi menjaga liver dan memelihara peremajaan jaringan sel.

Luteolin dan cynarin, merupakan dua zat terbaik yang berperan sebagai polyphenol antioksidan, yang dapat menolong menurunkan kadar kolesterol di dalam tubuh. Anthocyanin, merupakan pigmen yang memberi warna pada artichoke, yang berfungsi sebagai super antioksidan.

Menurut The British Herbal Pharmacopoeia, dikutip dari  herbalgram.org, daun artichoke telah menunjukkan sifat hepatoprotektif dan hepatostimulasi. Indeks Merck melaporkan kategori terapeutik cynarin, prinsip aktif artichoke, sebagai choleretic .

The African Pharmacopoeia menunjukkan  penggunaan artichoke untuk pengobatan disfungsi hati. Artichoke telah digunakan untuk kembung, mual, dan gangguan pencernaan.

Artichoke, dikutip dari draxe.com, mampu meningkatkan produksi empedu dan untuk detoksifikasi tubuh. Artichoke mengandung antioksidan kuat flavonoid silymarin, yang merupakan pelindung hati yang efektif.

Substansi spesifik dalam artichoke yang disebut cynarin, telah terbukti secara positif merangsang produksi empedu, yang diproduksi oleh hati dan pada akhirnya memungkinkan pencernaan membantu penyerapan nutrisi. Tanpa produksi empedu yang tepat, diet yang baik tidak dapat digunakan untuk menumbuhkan kesehatan karena banyak nutrisi penting dan asam lemak tidak diserap dengan baik.

Artichoke berkorelasi dengan peningkatan flora usus, mengurangi gejala yang berhubungan dengan penyakit pencernaan dan meningkatkan kekebalan, karena banyak sistem kekebalan yang sebenarnya ada di dalam usus.

Studi juga menunjukkan ekstrak daun artichoke membantu dalam meredakan gejala yang berhubungan dengan sindrom iritasi usus (IBS), salah satu gangguan pencernaan terkemuka di dunia. IBS adalah suatu kondisi yang sering menyebabkan gejala yang menyakitkan seperti sembelit, diare, kembung, sakit perut dan banyak lagi. 

Diyakini artichoke bermanfaat bagi IBS dan gangguan pencernaan lain, karena kandungan seratnya yang tinggi, kemampuan untuk mengurangi peradangan, dan efek bergizi artichoke pada lapisan usus dan hati.

Artichoke, dikutip dari articles.mercola.com, bermanfaat sebagai probiotik dan antioksidan yang kuat. Bagian probiotik membantu usus Anda memperoleh kembali keseimbangan, sementara antioksidan berperan dalam memerangi radikal bebas yang menyebabkan banyak penyakit, termasuk kanker, serangan jantung, dan Alzheimer.

 

Editor : Sotyati

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home