Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 15:25 WIB | Rabu, 04 Mei 2016

Bank Dunia: Kelangkaan Air Ancaman Pertumbuhan Ekonomi

Ilustrasi antre mendapatkan air bersih. (Foto: antara)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Bank Dunia menyatakan, kondisi kelangkaan air yang ditambah dengan fenomena perubahan iklim, merupakan ancaman bagi pertumbuhan perekonomian, karena dapat mengurangi Pendapatan Domestik Bruto (PDB) hingga menciptakan konflik dalam suatu negara.

"Kelangkaan air adalah, ancaman besar bagi pertumbuhan dan stabilitas perekonomian di seluruh dunia, dan perubahan iklim hanya membuatnya semakin buruk." kata Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu (4/5).

Menurut dia, bila negara-negara tidak mengambil tindakan yang lebih baik dalam mengelola sumber daya alam, maka Bank Dunia menganalisis bahwa kawasan dengan populasi yang besar, dapat mengalami periode pertumbuhan perekonomian negatif yang panjang.

Bank Dunia, telah mengeluarkan laporan bertajuk "High and Dry: Climate Change, Water and the Economy" yang menyatakan kombinasi melonjaknya jumlah penduduk, dan perumahan serta perluasan wilayah kota akan mengakibatkan meningkatnya permintaan atas air.

Namun masalahnya, menurut laporan tersebut, masih ada kawasan yang pasokan airnya tidak dikelola dengan baik dan tidak pasti.

Laporan tersebut mencontohkan, sejumlah kawasan di dunia ini yang air dapat menjadi langka, padahal jumlahnya banyak antara lain, di Afrika bagian tengah dan Asia Timur. Begitu pula terdapat kawasan yang memang sudah kekurangan air sejak lama seperti Timur Tengah, dan daerah di sekitar savana dan gurun Sahara, Afrika.

Lembaga keuangan multilateral itu mengingatkan, kekurangan air dapat meningkatkan risiko konflik, melonjaknya harga pangan serta mendorong migrasi.

Untuk itu, negara-negara diharapkan dapat menjabarkan kebijakan dan investasi yang mengatasi kelangkaan air yang mencakup perencanaan yang lebih baik dalam alokasi sumber daya air, menerapkan insentif guna meningkatkan efisiensi air, dan investasi dalam infrastruktur yang bertujuan mengamankan pasokan dan ketersediaan air.

Pembuatan infrastruktur yang memadai ,dinilai memang salah satu upaya yang baik bukan hanya dalam mengatasi kelangkaan air, tetapi juga untuk membantu mengatasi permasalahan lainnya seperti kemiskinan.

Sebagaimana diwartakan, Deputi Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) M Sairi Hasbullah mengatakan, pembangunan infrastruktur di berbagai daerah telah membantu peningkatan pendapatan masyarakat miskin di berbagai wilayah.

"Pembangunan infrastruktur besar-besaran sangat signifikan, meningkatkan pendapatan lapisan penduduk 40 persen terbawah, karena mereka bisa mendapatkan upah dari menjadi buruh," kata Sairi dalam jumpa pers di Jakarta, Senin (18/4).

Sairi mengharapkan, kenaikan tingkat pendapatan masyarakat miskin, karena pembangunan infrastruktur di kawasan pedesaan, bisa memperkecil angka ketimpangan di Indonesia dan ikut menurunkan rasio gini secara bertahap.

Sebelumnya, BPS mencatat penurunan tingkat ketimpangan penduduk Indonesia yang ditandai dengan rasio gini (alat mengukur derajat ketidakmerataan distribusi penduduk) 0,40 per September 2015 atau menurun 0,01 poin dibandingkan Maret 2015 sebesar 0,41. (Ant)

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home